Kuda-Kuda

Gambar hiasan. Jalan raya Banda Aceh - Krueng Raya - Laweueng. Di kiri kanan jalanan ini ditanami pohon keurundong pageue (kedondong pagar atau kuda-kuda). @acehtrend.co


KEMARIN, aku dan dan Zahraini menusuri jalan di tepi pantai Aceh Besar. Itu adalah jalan yang sesekali saja ramai, tapi jalan raya yang utama dan penting. Dan, sering kami lewati.

Pada perjalanan pulang, aku melihat ada sebuah pengumuman kecil di triplek, bertuliskan dengan huruf capital agak ebsar, ‘KUDA-KUDA, lalu di atasnya ada garis, ada tulisan berhuruf kecil dengan ukuran lebih kecil lagi ‘Jual Pagar Hidup’.

Aku pun terpikir.

“Kuda-kuda. Kuda-kuda itu adanya di gerakan seni bela diri, atau di bagian atas rumah, kuda-kuda untuk penyangga atap. Apa hubungannya dengan pagar hidup.”

Aku melihat kiri kanan, apakah ada kerangka kuda-kuda rumah di sekitar.
Tidak ada.

Aku pun berpikir lagi.

Kuda itu adalah binatang pacu. Di sini, selama sekian tahun aku lewat, tidak ada kuda seekor pun. Juga, tidak ada tumpukan kuda-kuda rumah, dan setahuku juga tidak ada perguruan bela diri yang mengajarkan kuda-kuda di sini.

Aku pun melupakannya.

Tidak ada kuda di sana, juga tidak ada kuda-kuda.

Kemudian, beberapa menit setelahnya, entah bagaimana, Zahraini berseru.
“Kuda-kuda ini mereka jual ya.”

“Kuda-kuda, yang mana kuda-kuda.”

“Pohon ini.”

Aku pun teringat, pada pengumuman tadi, ‘pagar hidup’.

“Jadi pohon kedondong pagar itu namanya kuda-kuda?”

Pohon kedondong pagar, eh pohon kuda-kuda, berbaris puluhan kilo meter di sepanjang jalan itu, ada yang kecil, ada yang besar. Subur dan hijau, dau mudanya kuning warna khas.

Kami pun tertawa.

“Wajar mereka menjualnya, itu dibutuhkan, dan memang bagus-bagus.”
Aku teringat, bahwa nama pohon itu adalah kedondong pagar (keurundong pageue), dan sering ditulis juga begitu. Aku tindak ingat lagi apakah pernah menuliskannya.

Untuk orang yang biasa menulis cerita, lucu bahwa aku tidak tahu pohon itu dinamakan juga sebagai pohon kuda-kuda. Seorang anak kecil bernama Naufal Raziq menjadikannya sebagai sumber energi listrik.

Aku tertawa juga, bahwa kosa-kataku masih kurang. Biasanya aku bahkan tahu nama sesuatu yang orang kadang tidak tahu. Tapi  hanya pohon pagar yang tumbuh di seluruh Aceh, aku tidak tahu namanya yang lain.*
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki