Tentang Seorang yang Menjinjing Buku di Jalan, Belajar Menulis dalam Perang (Kisah Inspirasiku)

Thayeb Loh Angen di jalan Loh Angen, Paloh Dayah, Lhokseumawe. Foto: Lodins LA
Setiap orang punya impian. Aku juga. Kalian juga.



Pada tahun 2000-an, aku berjalan menjinjing buku bacaan karangan orang lain yang mereka itu penulis terkenal, juga buku tulis. 


Sekira tahun 2000-an itu, aku banyak membaca dan menulis. Ke mana pun aku pergi selalu ada buku di tangan. Di jalan, kedai kopi, semuanya. 

Itu di jalan kampungku, Paloh Dayah, Lhokseumawe, Aceh.

Karena kebiasaan itu, orang orang sekitar menganggap aku ini orang aneh. Membaca bukan budaya di sekitar tempat tinggal ku. 

Namun aku tidak peduli apa pun kata orang karena keyakinanku begitu kuat. Kekuatan keyakinan.

------Sebagaimana kutulis dalam novel Teuntra Atom yang diterbitkan pada tahun 2009, "Biarkan saja, asal mereka tidak meminjam mulutku untuk mengatakannya."-----

Sebenarnya, aku berencana menjadi penyair dan menerbitkan buku kumpulan puisi tunggal, akan tetapi malah kemudian aku menulis novel, dan buku pertama dan keduaku adalah novel.
....

------Belasan tahun setelahnya, pada 30 Juni 2017, untuk mengenang itu, aku berjalan di sana dengan menjinjing buku karanganku sendiri, yaitu sebuah novel berjudul ACEH 2025. Buku itu diterbitkan pada tahun 2014. Itu buku novel kedua yang kutulis. Yang pertama adalah berjudul TEUNTRA ATOM, sebuah novel berlatar perang dan keadaan Aceh di masa perang dan tahun awal perdamaian.

Sementara novel Aceh 2025 menceritakan tentang keadaan Aceh pada tahun 2025.----   

Itu adalah di masa Aceh tengah perang. Ya, aku belajar menulis dalam perang.

Dari pengalamanku itu, aku menyadari bahwasanya, setiap cita cita itu akan dapat diraih walaupun tidak sama persis, akan tetapi secara garis besar dapat tercapai.

Sesungguhnya, kekuatan impian anak manusia itu menakjubkan. 

Yang perlu kita lakukan adalah berusaha keras dalam mencapai cita cita, dan terus memperbaharuinya, menyesuaikan dengan setiap perubahan yang ada. Misalnya, tidak apa apa kita tidak mendapatkan sebuah bintang, tapi, jika kita terus memburu bintang di angkasa raya, niscaya, kita telah berada di keagungan cahayanya. Artinya tempat kita sudah di habitat bintang bintang.

Walaupun aku belum menjadi penulis terkenal level dunia seperti impianku, namun buku karanganku telah diterbitkan.

Aku bukan seorang sarjana, apalagi sarjana sastra, sekolah formal ku hanya tamat Madrasah Aliyah (setingkat Sekolah Menengah Atas).

Pemandangan ke sawah dari jendela toko di Geunteng, Paloh Dayah, Lhokseumawe. Dulu, sekitar tahun 2000an, aku sering duduk di bangku dekat jendela toko, membaca, menulis, kadang tertidur. Ada sedikit perbedaan, tidak ada masjid di sawah saat itu. Foto oleh Thayeb Loh Angen, 30 Juni 2017.

Sampai sekarang, aku masih membaca buku dan menulis, buku buku kubawa kemana pun aku pergi, walaupun tidak setiap hari seperti dulu, tapi kebiasaan itu membuat aku terus berada pada jalan hidup yang kujalani. Proses dalam mencapai impian hidup itu harus dinikmati, itu membahagiakan. Suka duka di sepanjang jalan mencapai cita cita sama indahnya dengan tercapainya cita cita itu. Selamat berjuang!
https://steemit.com/life/@peradabandunia/about-the-dream-of-writing-a-novel-and-a-boy-who-handed-the-book-on-the-road-inspiration-story



Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki