Kehidupan Fana dalam Puisi Thayeb Loh Angen

Thayeb loh Angen membaca puisi di acara Kota Puisi pertama, 1 Nopember 2015. @Islahuddin
Apresiasi Puisi oleh Muhammad Rain*


KEMBALI**


Oleh: Thayeb Loh Angen


Aku pernah menjadi orang baik
pada suatu masa, aku meninggalkannya
namun kejahatan adalah hampa
kehampaan yang abadi.

Aku pulang ke rumah kebenaran
Terkejut. Jalan pulang itu sulit.
Aku berusaha gigih untuk kembali
lebih keras dari sakit yang membuatku meninggalkannya
lebih keras dari sakit kehilangannya.
Sekalian sakit itu membuatku tanpa rasa.
Sampailah aku pada sujud,
jangan, jangan sebut aku ini ‘abid,
sujudku bukan rela, tapi hilang daya.
Sebagaimana sebelum di rahim,
kehidupan itu adalah fana.
Banda Aceh, 3 Januari 2016



(**Sumber puisi: https://www.facebook.com/groups/1516847378635368/?fref=ts)


Profil Penulis Puisi


Noviandi (dalam http://www.acehnews.net/thayeb-loh-angen-dan-novel-aceh-2025/) menulis, Thayeb Loh Angen bernama asli Muhammad Thaib, lahir pada 1 Februari 1979 di Paloh Dayah, Lhokseumawe. Anak dari pasangan Teungku Sulaiman bin Utoh Dadeh dan Cut Zubaidah binti Teuku Juhan bin Teuku Musa bin Teungku Lam Paseh Al Asyi. Nama kecilnya adalah Muhammad Thaib.


Memulai karirnya setelah menjadi mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), pada 2006 ia menulis naskah roman, pada 2008 ia menjadi Redaktur di Harian Aceh, dan pada 2009 ia menulis novel pertamanya yang berjudul “Teuntra Atom”.


Pada 2012 ia juga ikut mendirikan lembaga kebudayaan antar bangsa bernama Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT). Serta pada 2013 ia ikut membentuk Institut Sastra Hamzah Fansuri (Ma’had Baitul Maqdis), sebuah pendidikan dalam bidang hubungann antar manusia yang meliputi perkabaran, sastra, seni berbicara, falsafah sejarah, dan kepemimpinan.
Apresiasi Puisi


Memasuki dunia puisi berbeda dengan memasuki dunia ilmiah melalui catatan-catatan kaki yang menyertainya. Puisi adalah dunia memikat ramai orang terhela dan pada saat-saat tertentu justru “sadar” telah dihela sekaligus dihalau dari mulai gerbang judul sampai kata terakhir seluruh larik dan baitnya. Demikian halnya yang terjadi pada puisi “Kembali” karya Thayeb Loh Angen di atas. Pembaca mendengar seruan kembali, menemukan bersama jalan kembali tersebut berlatar dua bait penulis.


Pada bait pertama, penulis mengajak pembaca menyadari siklus sebab-akibat mengapa insan perlu menyadari mengapa keadaan dunia, kehidupan dunia ini tidak suci? Dengan memakai kata ‘kejahatan’ perubahan dari sikap tidak sadar dibentuk menjadi sadar terhadap apa yang telah manusia kerjakan dalam kehidupannya.


Puisi sebagai karya sastra, seni bahasa tingkat tinggi menyerukan kepada kesadaran yang reflektif, bahkan pada tingkatan tertentu, diksi-diksi pilihan puisi mampu menghenyakkan hati dan pendengaran pembacanya sebagaimana karakteristik puisi-puisi demonstratif, auditorium. Pada rangkaian lariknya, puisi selain dimaksudkan sebagai refleksi penulis terhadap dunia kosmos sekaligus intim bagi pencipta/pekarya, puisi mengalirkan apa yang tersendat dan tertahan di dalam alam kesadaran terdalam manusia. Manusia oleh penulis puisi dianggap perlu diingatkan, perlu dihentakkan dari situasi riuh atau sunyi yang dapat mengurung jiwa tak bebas.


Kejahatan dalam larik ketiga bait pertama: /namun kejahatan adalah hampa/ mengandung makna nihilitas yang menjebak. Apakah nilai yang dikandung oleh larik ini? Benarkah perbuatan jahat itu adalah hampa? Penulis hendak menyampaikan apa sebenarnya. Penafsiran terhadap puisi ramai dilakukan untuk tujuan mengapresiasi dan menyebabkan nilai tertentu dari suatu puisi dapat hadir dalam bahasa pembacanya tersendiri. Kuasa nilai tidak lagi dimiliki oleh penulisnya, namun justru telah merdeka direbut oleh pembaca. Wilayah kebebasan menafsir adalah wilayah yang diperuntukkan kepada para apresian maupun kritikus.


Kejahatan menjadi satu-satunya sebab mengapa manusia dianggap oleh malaikat tidak akan mampu mendiami dunia dengan tentram dan aman, lantas malaikat protes kepada Tuhan yang telah menciptakan manusia (Adam), sedemikian besar protes makhluk Tuhan (termasuk jin) kepada keberadaan manusia atas nafsu yang menyertai kedirian manusia selanjutnya dijawab oleh Tuhan melalui ayatNya yang pamungkas bahwa sesungguhnya tidak diciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembahKu. Kejahatan yang disebut oleh penulis dalam puisinya dianggap hampa. Hampa dalam pengertian ini bukanlah dimaknai hampa tanpa kelak dituntut pertanggungjawaban. Refleksi terhadap perbuatan jahat yang akan diminta pertanggungjawaban merupakan taqwa, takut dan tunduk atas apa yang telah ditetapkan oleh Tuhan.


Penulis selanjutnya menutup bait pertama dengan larik: /kehampaan yang abadi/, risalah keabadian dipertautkan pula dengan kehampaan. Di dalam khasanah Islam, para muslim memaknai bahwa segala sesuatu yang bersifat ‘baharu’ akan kembali lenyap. Hanya Tuhanlah yang kelak abadi, sebab mustahil bagi Tuhan untuk memiliki sifat lenyap. Kejahatan yang tergambar sebagai fase ketidaksadaran sekaligus kesadaran alias berbuat jahat dengan sengaja oleh penulis puisi dianggap hampa.


Hampa yang abadi, hal ini terkait dengan tafsir terhadap apapun baik buruk yang dilakukan insan di dunia tidak akan berpengaruh apa pun kepada Sang Maha Pencipta, namun bukan tidak sama sekali berpengaruh kepada segala makluk di alam raya dunia. Ketentuan terhadap adanya surga dan neraka, baik dan buruk, lelaki dan perempuan, hitam dan putih dan segala yang berpasang-pasangan itu bukanlah nihilitas, namun suatu sunnatullah yang diimani dan menjadi koridor manusia untuk bertindak bagi dirinya dan segenap insan yang melingkupi kehidupannya.


Riwayat dalam suatu puisi tersedia dalam beberapa larik saja, beda halnya dengan karya sastra drama, apalagi prosa semisal novel. Riwayat oleh penulis puisi justru dianggap sesuatu yang sublim, padat, menjadi komponen diksional yang bebas sekaligus terikat. Maksudnya adalah bahwa sastra puisi memberikan kebebasan bagi penulis untuk menyingkat riwayat yang hendak dikisahkan olehnya kepada pembaca. Dengan demikian menghadapi puisi adalah menghadapi kompleksitas riwayat dengan mengandalkan tafsir yang bebas dan terkordinat oleh satuan-satuan bahasa yang menjadi unsur-unsur puisi itu sendiri.


Tidak dibenarkan bagi para penafsir puisi untuk menelaah puisi yang dihadapinya di luar jalur teks yang telah disediakan penulisnya. Ketika upaya ekstrinsikalitas puisi dipakai justru untuk menafsir penulis, hal ini telah mencederai karya puisi sebagai suatu produk sastra yang otonom. Seorang penulis tidak dinilai berdasarkan selain isi karya-karyanya.


Memasuki bait kedua sebagai penutup, pembaca selanjutnya dihadapkan dengan kesadaran kolektif penulis terhadap perjalanan kesadaran nihilitas bahwa kejahatan tidak saja bermakna hampa bagi Tuhan. Namun sekaligus mempertunjukkan bahwa iman dan taqwa seorang insan ketika telah dipakai sebagai refleksi ‘taubat’ sebagai penghapusan sebetapa hebatpun kejahatan adalah suatu ‘rumah kesadaran’, ‘rumah kebenaran’ (aku pulang ke rumah kebenaran). Terkait dengan larik pertama bait kedua ini, pembaca menghadapi diksi ‘sulit’, betapakah ‘kesulitan’ untuk kembali yang dimaksud penulis di larik tersebut? Mengapa jalan kembali ke rumah kebenaran harus dihadapi dengan kesulitan, bahkan dibutuhkan kegigihan untuk kembali (aku berusaha gigih untuk kembali)?


Ternyata rahasia taubat menunjukkan kepada pelaku kejahatan bahwa dibutuhkan kesadaran yang ‘gigih’ untuk ‘kembali’ kepada ‘rumah kebenaran’, penulis lalu melanjutkan liriknya: /lebih keras dari sakit yang membuatku meninggalkannya/ , /lebih keras dari sakit kehilangannya/. Rasa candu berbuat kejahatan, enaknya berbuat dosa dan kebiasaan repetisi manusia yang merasa ‘nyaman’ bahkan ‘merasa aman’ melakukan kejahatan secara terus menerus hal inilah yang dimaksud oleh Thayeb sebagai sesuatu yang membutuhkan kerja keras, niat dan tekad menghadapi ujian pertaubatan untuk kembali kepada ‘rumah kebenaran’ sehingga makna taubat menjadi identitas yang eksis dan inisiatif melakukannya adalah dengan segenap kesadaran untuk memahami jalan salah tersebut dan berjanji serta bertekad agar tidak kembali mengulang.


Taubat membuat rasa tertekan pada jiwa diri manusia seolah ‘tanpa rasa’ sebagaimana larik:/ sekalian sakit itu membuatku tanpa rasa/, hambar tanpa rasa inilah kiranya yang menjadi awal terhapusnya dosa, ketika manusia insaf terhadap kesalahan berbuat jahat, ketika manusia tidak lagi khilaf dan membenar-benarkan kekhilafannya (bagi para daif) maka ketika itulah taubat mencapai titik awal manusia yang reaksional dan sadar berbuat benar dan bertahan kuat dan gigih untuk kembali di jalan kebenaran sebagai hakikat.


Lantas demikianlah para penunjuk kebenaran mencontohkan keadaan yang riskan sekaligus berbahaya dengan menjadikan dirinya sendiri sebagai contoh. Bukankah manusia pada dasarnya pemimpin, serendah-rendahnya yakni memimpin dirinya sendiri sebagai makhluk yang disertai akal dan jiwa suci seperti ketika ia lahir di dunia. /sebagaimana sebelum rahim/, /kehidupan itu adalah fana/, penulis menutup puisinya dengan dua larik pamungkasnya tersebut untuk meletakkan kefahaman kepada pembacanya bahwa siapapun manusia yang menghendaki pertaubatan, kembali ke rumah kebenaran, hampa nilai kejahatan yang telah diperbuatnya sebagaimana janji Tuhan akan memaafkan makhluk yang ‘kembali’ maka lalu kepada agama yang tidak menerima taubat adalah semata-mata kejahatan menduakan Tuhan.[]


*Muhammad Rain, adalah mahasiswa pascasarjana Unsyiah konsentrasi Magister Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2011, selain menulis esai dan kritik sastra bergaul juga dengan segala seniman, menyuarakan Kota Puisi dan Pendiri Teater Langsa 2006.


Sumber: kuflet.com/portalsatu.com
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki