Karya Revolusioner Iqbal, Namik, dan Pante Kulu


Oleh: Thayeb Loh Angen

Ada banyak tokoh dalam sastra. Kali ini kita bicara tentang tiga orang yang memiliki kesamaan dalam pemikiran, karya, dan pengaruh mereka dalam dunia sastra, sosial budaya, termasuk politik. Mari melihat lebih dekat ketiga tokoh itu.

Mohammad Iqbal

Mohammad Iqbal lahir di Punjab, India, 9 November 1877. Ia meninggal di Lahore, 21 April 1938. Penyair, politisi, dan filsuf besar abad ke-20 ini penduduk negara India.

Mohammad Iqbal mempelajari hukum dan filsafat di Inggris. Saat itu ia menjadi  anggota All India Muslim League, cabang London. Pada Desember 1930, Iqbal berpidato, mendorong dibentuknya negara muslim di Barat Daya India.

Hasil ide dan karyanya melahirkan negara Pakistan dengan presiden pertamanya Mohammad Ali Jinnah, kawan Iqbal, yang mengikuti idenya secara utuh.
Pemerintah Pakistan menghargai Iqbal sebagai penyair nasional, hari ulang tahunnya menjadi hari libur di Pakistan.

Namik Kemal

Namik Kemal, lahir pada 2 Desember 1840, di Tekirdag, Turki. Ia meninggal dunia pada 2 Desember 1888, di Gum (sekarang di Chios, Yunani). Ia penduduk Kesultanan Ottoman.
Sejak usia delapan tahun, Namik diajarkan puisi dan tasauf oleh kakeknya, Abdullatif Pasha. Ia juga belajar puisi di Kars selama sepuluh tahun.

Ide dan karyanya dipengaruhi oleh penulis dan editor koran Tasvir-i Efkar, Ibrahim Sinasi, yang menganut cara dan ide Barat. Nanik Kemal menjadi editor Tasvir-i Efkar pada 1865, ketika Sinasi melarikan diri ke Prancis. Pengaruh Sinasi merasuki Namik.

Namik Kemal mendirikan gerakan Turki Utsmani Muda (The Young Utsmani) pada 1865. Meskipun seorang pemikir liberal, ia tidak pernah menolak Islam dalam rencana mereformasikan negara. Dia percaya bahwa Islam sesuai dengan Turki modern yang bersistem pemerintahan konstitusional.

Dalam pelariannya ke Eropa tahun 1867, ia menerjemahkan karya Victor Hugo, Jean-Jacques Rousseau, dan Charles-Louis Montesquieu, ke dalam bahasa Turki. Ia juga menerbitkan surat kabar Hurriyet.

Ketika diizinkan pulang ke Turki, pengaruh dan kemasyhurannya semakin meluas. Konsep tanah air dan kebebasan yang ia telurkan sepanjang hidupnya menjadi kredo banyak orang, terutama kaum muda. Ia pun ditangkap dan diasingkan.

Dalam pengasingan itu, pada 2 Desember 1888, Namik Kemal meninggal dunia.
Empat puluh tahun setelah kematiannya, Mustafa Kemal mendirikan Negara Republik Turki sekuler, yang menandakan, ide Namik Kemal dijalankan oleh generasi berikutnya dengan haluan yang diubah.

Dan sekira delapan puluh tahun negara impian Namik Kemal berdiri, muncul AK Parti yang dipimpin Recep Tayyip Erdogan. Erdogan, sepertinya menerapkan ide Namik Kemal secara utuh, sebagaimana Ali Jinnah mewujudkan ide Iqbal di India, setelahnya.

Teungku Chik Pante Kulu

Teungku Chik Pante Kulu lahir pada 1836, di Pante Kulu, Titeue, Pidie, dari keluarga terpandang. Ia penduduk Negara Kesultanan Aceh Darussalam.
Setelah belajar di daerahnya, Pante Kulu menuju Mekah seraya berhaji. Di sana, ia mempelajari sejarah, falsafah, sastra, dan sebagainya.

Di Mekkah, selain meresapi banyak syair, Pante Kulu mempelajari sejarah pahlawan Islam. Di sela belajar, ia berbincang dengan para pemimpin gerakan Islam dari berbagai penjuru dunia.
Pembicaraan dengan mereka, salah satunya, Muhammad bin Abdul Wahhab yang mengikuti pemikiran Jamaluddin al-Afghani, merasuki jiwa Pante Kulu muda.

Sekira empat tahun di Mekah, akhir tahun 1881 Masehi, Pante Kulu kembali ke Aceh. Dalam perjalanan pulang, di atas kapal antara Jeddah dengan Penang, dia mengarang puisi panjang, Hikayat Prang Sabi.

Ia terinspirasi dari penyair Hassan bin Tsabit yang mengobarkan semangat jihad kepada kaum Muslimin di zaman Nabi Muhammad  SAW.

Hikayat Prang Sabi diserahkan kepada Teungku Chik Di Tiro, kawannya, yang telah diberikan tanggung jawab sebagai pemimpin perang. Dan, naskah Hikayat Prang Sabi kemudian disalin dalam jumlah banyak, dibacakan oleh masyarakat luas.

Setelah itu, rakyat Aceh melawan Belanda kembali dengan tujuan syahid. Dan, Teungku Chik Pante Kulu pun syahid dalam perang itu, sebagaimana dianjurkannya kepada sekalian orang dalam Hikayat Prang Sabi.

Dari ketiga tokoh tersebut, ide Iqbal dan Namik, sampai kini, terus hidup dan dijalankan oleh generasi berikutnya di Turki, India, dan Pakistan. Akan tetapi di Aceh, nasib ide Teungku Chik Pante Kulu terkubur bersama dirinya.

Selain ide, karya Namik dan--terutama--Iqbal terus disiarkan ke seluruh dunia, isi pemikiran mereka menginspirasi umat manusia sepanjang zaman. Mereka dihormati di negerinya dan di negeri lain, sementara Teungku Chik Pante Kulu, jarang diingat.

Maafkan kami, Teungku Chik. Di sini, seusai perang tinggalah puisi, untuk ibu-ibu menidurkan bayi.

Thayeb Loh Angen, Penulis novel Aceh 2025, pengurus Sekolah Hamzah Fansuri.

Catatan: Tulisan ini telah disiarkan di Harian Serambi Indonesia pada Ahad 18 September 2016 dengan judul “Iqbal, Namik, Pante Kulu”
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki