Arus Pemilihan Gubernur Aceh 2017

Adolf Hitler. @snopes.com
Dalam sebuah pesta demokrasi (pemilihan umum), menang dan kalah adalah sebuah romantika yang pasti menimpa peserta dan pendukungnya. Kemenangan adalah keberuntungan dan kekalahan adalah kemalangan, sama besar risikonya.

Oleh karena itu, di antara beberapa pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur Aceh, hanya sepasang yang beruntung, yang lain akan bernasib malang.

Mari kita perhatikan arah politik menurut kehendak sejarah, bukan menurut kehendak calon, tim, dan pendukungnya.

Calon dari Partai Politik

1. Dari NasDem

Tarmizi A Karim.

NasDem adalah partai baru di Aceh yang sebagian anggotanya ada orang baru dan ada orang lama dalam politik. Dipengaruhi oleh menurunnya citra Partai Aceh (PA) akibat kekeliruan beberapa orang kadernya ditambah penggiringan opini yang menyesatkan oleh media untuknya, maka NasDem sebagai partai politik baru dapat tempat di hati sebagian masyarakat Aceh. Sebagai partai baru, NasDem belum punya masalah dengan masyarakat Aceh.

Dikabarkan, partai binaan raja media asal Aceh, Surya Paloh, ini mengangkat Tarmizi A Karim sebagai calon gubernur. Tentu, NasDem cukup alasan untuk itu.

Berapa persenkah peluang Tarmizi dan NasDem untuk menang? Kecil. Karena Tarmizi belum punya prestasi yang dapat diperlihatkan untuk Aceh. Begitu juga dengan NasDem sebagai partai baru. Diperkirakan, partai dan calon ini hanya akan meramaikan bursa KIP, kecil peluang untuk menang.

2. Partai Demokrat

Partai binaan SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) ini menetapkan calonnya sendiri, Nova Iriansyah, yang berpasangan dengan Partai Nasional Aceh (PNA), Irwandi Yusuf. Apa yang akan terjadi? Dipengaruhi oleh anggapan masih ada pengaruh di Aceh seperti masa SBY berkuasa, mereka mengangkat calon sendiri.

Mereka lupa bahwa partai ini tidak lagi memegang kekuasaan. Dan dua orang yang dipasangkan untuk calon gubernur belum bisa memberikan bukti penting untuk kemajuan Aceh. Irwandi yang telah menjabat walaupun ada melakukan sesuatu namun jauh dari harapan. Maka, pasangan ini juga kecil kemungkinan menang walaupun perolehan suara akan sedikit lebih banyak daripada Tarmizi A Karim yang diangkat oleh NasDem.

3. Partai Aceh dan Parta Gerindra

Partai Aceh yang merupakan binaan bekas pejuang GAM ini masih punya kekuatan untuk menang walaupun kadarnya sudah banyak berkurang.

Untuk calon gubernur 2017-2022, Partai Aceh mengangkat Muzakir Manaf sebagai calon gubernur, bergabung dengan Partai Gerindra mengangkat T A Khalid sebagai wakilnya. Alasan menggabungkan pasangan calon itu sulit dipahami oleh sebagian besar orang.

Dengan kekuatan yang ada, sekiranya baik dijaga, PA dapat memenangkan pilkada secara telak tanpa harus berkoalisi dengan partai manapun. Sebab yang mendirikan partai ini adalah orang yang telah melakukan sesuatu yang nyata untuk Aceh—baik itu dianggap baik atau tidak--.

Kebijakan PA berkoalisi tentu dimengerti oleh petinggi PA sendiri atau pihak yang sangat menginginkan itu terjadi.

Walaupun demikian, PA—baik berkoalisi dengan partai lain atau tidak—masih mampu memenangkan pilkada 2017 dalam sekali putaran. Orang-orang boleh berbeda pendapat tentang ini dengan segala teorinya. Namun saya mengerti benar kekuatan PA, dan dengan kekuatan itu PA akan memenangkan perang ini.

Akan tetapi, berdasarkan apa yang sudah dan tengah dilakukannya dengan pemerintahan, saya tidak percaya mereka mampu memperbaiki Aceh. Mereka akan menang, walaupun begitu saya tidak bisa mendukungnya, apalagi mendukung yang lain.

Calon Perseorangan (Independen)

1. Zaini Abdullah

Zaini yang merupakan Gubernur yang dinaikkan PA pada periode lalu tetapi tidak dinaikkan lagi, karenanya melilih naik sendiri melalui jalur perseorangan. Apa yang akan terjadi? Tentu, seperti yang terjadi pada Irwandi lalu. Kalah telak. Orang-orang yang bersikeras supaya Zaini maju lagi dalam pertarungan calon gubernur kali ini, tidak menyadari apa yang terjadi atau hanya ingin memanfaatkan kekuasaannya untuk dijiprati kemakmuran bagi diri mereka.

Zaini tidak terkenal sebelum dicalonkan sebagai gubernur oleh PA, dan ketika melepaskan diri dari kawanan yang mengangkatnya, orang-orang tentu akan tahu apa yang akan terjadi--seperti yang pernah terjadi pada Irwandi dan Nazar periode lalu--kalah telak. Orang-orang tidak bisa melawan kekuatan rakyat di perkampungan.

Uang dan teknik kampanye konvensional serta waham kebesaran hanya sedikit berguna. Selebihnya, itu akan menuntun pada rasa kecewa saat melihat kenyataan, ternyata pendukung yang disebutkan oleh timses, tidak ada sama sekali. Semua hanya khayalan. Khayalan tentang kemenangan. Ilusi kekuasaan.

2. Zakaria Saman

Sebagaimana Zaini Abdullah, Zakaria Saman tidak terkenal sebelum disiarkan oleh media bahwa Tuha Peuet PA ini akan mencalonkan dirinya sebagai gubernur Aceh. Berapa persenkah kemungkinan Apa Karya untuk menang? Kecil. Apa Karya, walaupun punya andil besar sama seperti Zaini Abdullah dalam tim intelektual GAM di luar negeri, akan tetapi tidak dikenal dalam medan perang di Aceh sebagaimana dikenalnya Muzakir Manaf. Pangkat di masa hidupnya sang Wali Nanggroe Hasan Di Tiro, tidak ada gunanya dalam pemilu ini.

3. Abdullah Puteh

Ini yang menarik. Abdullah Puteh, sisa dari gubernur masa lalu, sebelum MoU Helsinki. Orang yang muncul dari kegelapan kepada cahaya. Namun ini zaman yang berbeda. Tentu, peluang menang untuk Puteh lebih kecil dari semua calon yang sudah disebutkan tadi.

Kini, mari kita lihat apa itu partai lokal dan partai nasional.

Secara teori sejarah politik di Aceh, menurut MoU Helsinki, anggota GAM yang kembali ke pangkuan RI diberikan hak untuk melanjutkan perjuangan politiknya di dalam NKRI melalui partai lokal—kemudian muncullah Partai Aceh (PA) dan beberapa partai lain. Dalam hal ini, Partai Aceh--atau apa saja namanya--yang didirikan oleh dan atas nama bekas pejuang GAM untuk Aceh adalah satu-satunya partai lokal yang berhak ada di Aceh.

Selain itu adalah partai milik kaum oportunis yang memanfaatkan pengorbanan orang lain untuk kekuasaan diri dan kolompoknya. Benar, ini negara demokratis, semua berhak membuat partai, tetapi orang-orang harus ingat bahwa partai lokal itu boleh dibuat karena ada perang, dan ada perdamaian. Jadi, selain bekas pejuang GAM, tidak memiliki hak untuk membuat partai lokal di Aceh. Dan itu pun hanya boleh ada satu partai, partai yang disetujui oleh penanda tangan MoU Helsinki, Malik Mahmud.

Maka, kalau kita ingin berpartai lokal, maka bergabunglah dengan PA. Atau kalau memusuhi ide Aceh, maka bergabunglah dengan partai nasional. Seharusnya begitu. Namun hal tersebut menjadi rumit sekarang di saat PA berkoalisi dengan Gerindra dalam pencalonan gubernur dan wakil gubernur 2017-2022. Besar kemungkinan—jika tidak memperbaiki diri dengan mengakui kelemahan dan mengajak orang cerdas lainnya di Aceh untuk bergabung, maka--setelah menang pada pilkada 2017, PA akan tinggal sejarah.

Banda Aceh, 9 Agustus 2016

Thayeb Loh Angen, penulis Novel Aceh 2025.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki