Buka Puasa Bersama, Sebuah Budaya atau Pesta Pora?

Acara berbuka puasa bersama Ramadan 1437 H portalsatu.com, di Banda Aceh, Selasa, 28 Juni 2016. @M FAJARLY IQBAL/PORTALSATU.COM
Seorang jurnalis media Al-Arabiya, Ayman al-Ghabawee, menulis tentang buka puasa bersama di sekitar Kerajaan Arab Saudi, bisa menelan biaya yang fantastis.

Ayman al-Ghabawee menghitung-hitung satu makanan buka puasa seharga 10 riyal (Rp35,35 ribu). Apabila ada 150 ribu orang yang ikut serta dalam iftar ini, dana yang dileburkan untuk menjamu mereka sebesar 1,5 juta riyal atau Rp5,3 miliar.

Kabar tersebut pernah disiarkan oleh Portalsatu.com, bersumber dari dream.co.id yang mengutip berita dari Al-Arabiya, Senin 20 Juni 2016.

Saya setuju dengan pendapat Ayman itu. Kemarin, 25 Juni 2016, saat berbincang-bincang dengan Dr Mehmet Ozay –seorang intektual Turki asal Istanbul-- sambil minum teh, saya menyebutnya. Saya mengatakan pendapat jurnalis Arab itu disebabkan pembicaraan kami telah menyinggung perihal NGO-NGO Turki yang kerap mengadakan buka puasa bersama, memberikan makanan untuk orang-orang, dan membagikan daging kurban hari raya haji di seluruh bagian dunia.

“Alangkah baiknya kalau yang dilakukan itu bukan sekedar memberi makan orang-orang, harus ada hal yang hasilnya bertahan lama,” kata Dr Mehmet.

“Kalau menghadiahi buka puasa bersama, alangkah baiknya, bungkusan makanan itu diantarkan ke rumah-rumah orang miskin atau tempat orang-orang miskin, sebab, yang hadir pada buka puasa bersama--terutama yang dilakukan pemerintah-- adalah orang-orang dekat mereka, orang-orang yang berada,” jawabku.

Sekali lagi saya setuju dengan pendapat Ayman bahwa alangkah baiknya uang itu dipakai untuk membantu orang lain yang membutuhkan. Namun berbuka puasa bersama adalah budaya, bukan acara sosial. Anda tidak bisa menghitung-hitung uang untuk cara budaya.

Saya memperkirakan, budaya buka puasa bersama, awalnya lahir untuk silaturrahmi dan memeriahkan bulan puasa seraya salat magrib berjamaah. Walaupun kemudian, kadang hal itu bergeser disebabkan dilakukan oleh orang-orang yang memiliki tujuan selain untuk ibadah. Tetapi itu adalah budaya, budaya Islam.

Baginda Yang Mulia Rasulullah, Nabi Muhammad SAW, bersabda, yang artinya, “Barangsiapa memberikan makanan untuk berbuka kepada yang puasa, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang puasa tanpa mengurangi pahala orang yang puasa itu sedikit pun.” (HR. Tirmidzi. Tirmizi berkata, “Hadits ini hasan shahih.”)

Jelas sangat bahwa menyedekahkan bahan berbuka puasa untuk orang adalah berhukum sunat. Namun, kita tidak diminta menimbun gunung, tidak perlu memberikan makan orang kaya, mereka punya makanan yang berlebihan. Yang perlu diberikan makan itu orang-orang berpenghasilan kecil.

Dan, sebagaimana media-media mengabarkan, BPS Aceh mencatat jumlah penduduk miskin di Aceh pada September 2015 bertambah delapan ribu orang atau dari 851 ribu orang (17,08 persen) pada Maret menjadi 859 ribu orang (17,11) persen pada bulan tersebut.

Apakah yang menghadiri acara buka puasa bersama di rumah dinas wali kota, bupati, gubernur, partai-partai, dan sebagainya, turut hadir orang yang terhitung dalam 859 ribu itu? Sekali lagi, menyedekahi orang bahan berbuka puasa berhukum sunat, dan acara buka puasa bersama adalah budaya. Namun, memberikan makanan untuk orang yang membutuhkan lebih berguna daripada memberikannya kepada orang yang berkecukupan.[]Sumber:Portalsatu.com

Thayeb Loh Angen, Penulis Novel Aceh 2025, Aktivis di PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki), Jurnalis.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki