Cukup Bergek, Larangan Konser Harus Dicegah di Aceh

Oleh: THAYEB LOH ANGEN

@iloveaceh

Aceh kerap membuat hal yang tidak terduga. Dari memukul khatib saat khutbah sampai meninju gubernur yang baru habis masa tugas. Baru-baru ini ada lagi hal baru. Pelarangan konser musik. Larangan konser musik di beberapa tempat di Aceh seperti di Meulaboh, Banda Aceh, dan Lhokseumawe, baru-baru ini dapat membahayakan dunia seni di Aceh secara umum.

Bagaimanapun, sebagai bagian dari negara hukum, Aceh mempunyai aturan khusus yang disebut qanun. Dan, yang lebih penting, Aceh punya adat, adab, dan peradaban.
Selama ini, para seniman, menjalin hubungan baik dengan para penguasa, ulama, dan berbagai kalangan. Acara keagamaan diisi kegiatan seni. Acara seni diisi agama. Semua berjalan santun sebagaimana adat dan adab di Aceh.
Mengapa baru-baru ini ada kegiatan seni yang dilarang oleh penguasa dengan rekomendasi sebagian ulama? Ini pertanyaan besar yang menimbulkan beberapa pertanyaan lain. Semua itu harus dijawab dengan benar dan masuk akal.
Para seniman, khususnya yang terlibat dalam acara yang akhirnya dilarang, harus melihat ke dalam diri (introspeksi diri), apa yang salah dengan kerja kita. Pasti ada yang salah, kalau tidak, maka tidak ada itu larang melarang.
Para ulama, diharapkan menelaah kembali dengan bijaksana, apakah cara yang diambil di masa ini sesuai dengan di masa rasul. Apakah semua bidang telah diperlakukan seperti itu?
Misalnya, apakah sikap kita terhadap melarang korupsi sama keras dengan hal lain, semacam melarang konser? Apakah sikap kita terhadap prilaku riba yang dilakukan perusahaan besar dan pemerintah dengan banknya sama dengan sikap kita terhadap masyarakat kecil?
Kita seyogianya menelaah, apa sebenarnya yang paling membahayakan aqidah umat. Apakah konser atau film-film buatan dari golongan kafir. Apakah kita sudah membuat fim tandingannya?
Apakah ‘fashion show busana muslimah’ yang memperlihatkan perempuan di tempat umum itu tidak membahayakan pada muslimah dan menjadi zina mata bagi para laki-laki? Apakah menonton pertandingan sepak bola itu tidak menjurus pada judi?
Apa Solusi dari Masalah Ini?
Masalah ini akan selesai dengan tenang, setelah para pihak mengintrospeksi diri, kembali menelaah apa yang dilakukan oleh seniman, ulama, dan penguasa di Aceh pada masa Aceh menjadi sebuah negara yang kuat, berperadaban baik.
Para seniman Aceh di masa silam, memakai seni untuk mendakwahkan budaya, agama, dan peradaban Aceh secara umum. Mereka menciptakan syair yang menyejukkan hati, menguatkan iman. Para ulama dan penguasa menghargai para seniman itu karena membantu dakwah dan mengangkat nama Aceh.
Mengapa baru-baru ini, ada acara seni dilarang. Pertanyaannya, apakah itu dapat menguatkan peradaban Aceh. Apakah itu bisa menjadi dakwah budaya dan agama di Aceh? Kita, para seniman harus bercermin.
Dan untuk pihak agamawan, apakah orang dayah tidak mendengar nyanyian? Kalau tidak ada, bagaimana mereka membacakan barzanji untuk maulid nabi dengan irama berbagai lagu, semacam lagu India, dangdut, Arab, Turki, dan sebagainya?
Apakah di telepon genggam, iPad, android, televisi, kompoter, dan laptop orang-orang di dayah dan di rumah mereka atau pada keluarga mereka tidak ada lagu dan jenis hiburan lainnya? Kita sebaiknya jujur dalam hal ini, terpercaya, adil. 
Ini membuktikan, siapapun kita, manusia butuh hiburan. Butuh alunan musik. Hanya kita perlu menentukan, musik seperti apa. Kalau dibuat acara, acara seperti apa? Dan para seniman atau pembuat acara dapat menyiapkan dirinya dengan rumus yang telah ditentukan oleh para ulama dan penguasa.
Kalau acaranya hanya untuk hura-hura, untuk bergaya-gaya, panitia meninggalkan shalat karenanya, pengunjung laki-laki dan perempuan bercampur, tempat-tempat di dekatnya tidak diterangi cahaya atau gelap, bahkan acara pidato agama sekalipun patut dilarang, karena menimbulkan maksiat. Dan, kalau berani jujur, kita apakah pidato-pidato yang disebut dakwah islamiyah sekarang, yang banyak berisi lawakan itu sesuai dengan anjuran nabi?
Kita bisa seiring sejalan dengan musyawarah sebagaimana para indatu telah melakukannya ratusan tahun silam. Tidak ada yang dilarang, tidak ada yang dibenci. Semua dicintai, semua didukung, sesuai dengan agama, adat, dan reusam Aceh.[]
Thayeb Loh Angen, Penulis novel Aceh 2025, Aktivis Kebudayaan

Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki