Perubahan Perpolitikan di Banda Aceh

Rekaan Jalan Banda Aceh. Foto: korantransaksi.com
Oleh Thayeb Loh Angen
Aktivis Kebudayaan, Penulis novel Aceh 2025

Pemilihan kepala daerah (pilkada) 2017 untuk kepemimpinan 2017-2022 di Aceh, khususnya di Banda Aceh, mulai hangat diperbincangkan. Pada syarah waktu lalu, saya mengambil nama bakal calon walikota Banda Aceh 2017-2022 yang disiarkan di laman portalsatu.com dan klikkabar.com.

Kali ini kuambil kabar dari siaran pikiranaceh.com yang ditulis oleh Muhammad Ramadhan. Ia memasangkan Teuku Irwan Djohan dengan Darwati A Gani, Kautsar dengan Sabri Badruddin, Illiza Sa’aduddin Djamal dengan Yudi Kurnia.

Saya ingin membaca sebuah analisa yang netral dan mendekati kebenaran, namun apabila tidak menemukannya, maka akan kutulis sendiri. Rilis pikiranaceh.com itu ada kesamaaan dengan yang kutulis bulan lalu, yakni tidak memasukkan orang yang belum ada namanya di dalam masyarakat.
Bahkan, Muhammad Ramadhan lebih berterus terang dengan menyatakan urutan ketiga dalam tulisannya, Illiza dan Yudi yang ia pasangkan, akan sedikit pendukung.

Semakin menarik pula, ia tidak menyebutkan Aminullah Usman karena bukan anggota partai politik, walaupun kita tahu bahwa Aminullah Usman mendapatkan suara kedua terbanyak pada pilkada Banda Aceh 2012.

Selain itu, saya tidak menemukan kelengkapan data di dalam ulasan tersebut. Misalnya, Darwati A Gani dikenal di media karena suaminya pernah menjadi gubernur, bukan karena dirinya sendiri, dan sebagainya.

Atau, ia tidak menyebutkan Illiza dan Yudi Kurinia tidak mungkin mencalonkan diri dalam satu paket dengan pertimbangan bahwa Illiza tidak memilih Yudi sebagai wakilnya pada 2015.
Tidak juga disebutkan bahwa Sabri atau partai Golkar dan Kausar atau Partai Aceh akan sulit bersanding karena ideologi kedua partai ini bertolak belakang. Dan banyak lagi.

Belakangan, harianmerdeka.com menyiarkan pendapat Dharma yang memasangkan Aminullah Usman dengan Darwati A Gani. Namun suami Darwati, Irwandi Yusuf, membantahnya. Saya tidak akan memberikan pendapat secara pribadi (subjektif) untuk semua nama atau bakal pasangan yang telah disebutkan.

Maka, bagaimanakah dan siapakah tokoh ideal yang sesuai untuk memimpin kota Banda Aceh 2017-2022?

Dari beberapa siaran laman media berdasarkan pendapat nasasumber, hanya menekankan pendapat pada tokoh yang sudah dikenal namanya, maka saya mulai melihat dari sudut pandang lain.

Disadari atau tidak, ada beberapa tokoh di luar partai politik yang besar kemungkinan akan menyemarakakkan pilkada Banda Aceh 2017. Saya tidak akan menyebutkan tokoh-tokoh itu disebabkan belum berjumpa langsung dengannya.

Lalu, seberapa besar kemungkinan masyarakat akan percaya dan memilih calon perseorangan (independen) di antara banyak calon dari partai politik dan sudah lebih dahulu dikenal? Saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu sekarang dan saya pun tidak mengajukan pertanyaan terbalik untuk perbandingannya.

Seorang pakar politik di Amerika Serikat, William Boast, dalam bukunya “Masters of Change: How Great Leaders in Every Age Thrived in Turbulent Times Hardcover”-Pemimpin Perubahan: Bagaimana Pemimpin Besar Menghadapi Perubahan di Masa Mendua-.

Perpolitikan di Banda Aceh tengah memasuki dunia yang mendua (turbulen). Keadaan ini muncul disebabkan sifat jenuh masyarakat pada pola kepemimpinan di Aceh, termasuk wilayah ini yang merupakan pusatnya.

Masyarakat Banda Aceh tengah menyiapkan dirinya menghadapi perubahan perpolitikan secara mendasar di kota ini. Daripada bersikap apatis (acuh tak acuh), alangkah lebih berguna apabila kita membuka telinga dan mata untuk menyaksikan dan terlibat di dalam perubahan kota ini saat meninggalkan kejumudannya menuju sebuah pergerakan berwajah baru yang beradab sebagaimana masa gemilangnya di masa Sultan Al Kahar yang Agung.

Banda Aceh pernah menjadi pusat dagang, ilmu pengetahuan, dan politik Asia Tenggara, di saat kota ini menjadi ibukota Kesultanan Aceh Darussalam yang wilayahnya meliputi hanpir seluruh Sumatra dan sebagian Semenanjung Melaka.

Walaupun Aceh kini hanya ibukota propinsi, namun di tangan seorang pemimpin yang handal dan bijaksana, kota ini akan menemukan kembali ruhnya.

Pemimpin seperti itu tidak muncul dari dunia perpolitikan tradisional atau konvensional (politisi yang hanya ingin jadi pejabat tapi tidak memiliki keahlian membangun wilayah) seperti sekarang. Namun akan muncul dari sebuah masyarakat yang tersadarkan terhadap kepentingan negerinya.*
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki