Gerimis pun Berpuisi


Peserta Kota Puisi ke 3 di Taman Sari, Banda Aceh, 6 Desember 2015. Dari Kiri: Syukri Isa Bluka Teubai, Thayeb Loh Angen, M Zulkausar Barazy, Khaidir Saputra, Zulfikar-Kirbi, Indra Maulana, Soeryadarma Isman, Sulaiman Juned, Iwan Setiawan, Ansar Salihin, Mustafa Ismail, Saiful Bahri, Nazar Shah Alam, Mustafa Islamil, Gading HS, Celia Cinta, dan Ayu Puspa Handa. Foto: Muhrain.

“Untuk mencapai akan sebuah cita-cita, niscaya bersabarlah,”  Thayeb Loh Angen, dalam tuturnya.

Sungguh kata-kata yang terus terngiang di telinga berbatin ini. Bahpun saya sudah pulang dari acara Kota Puisi itu dan sekarang menulis keelokan bersama waktu di Minggu sore tertanggal 06 Desember 2015.

Tepat pukul empat lewat tiga puluh satu menit, saya dan kanda Thayeb Loh Angen berada di Taman Sari, bersebelahan dengan mesjid agung yang selalu dielu-elukan oleh sekalian umat, khususnya orang Aceh. Baiturrahman namanya. Sebuah bangunan kokoh nan megah, pemilik sekaligus saksi bisu akan sekalian sejarah.

Di hadapan kirinya, salah seorang panglima perang Belanda tewas di bawah sebatang pohon geulumpang. Pohon malang itu kini sudah ditebang, entah kemana lagi harus berkiblat untuk sebuah sejarah.

“Mungkin hari ini Kota Puisi akan sepi oleh sebab hujan tengah bersenandung dalam gerimis puisi,” guman saya di dalam hati.

Karena memang hari Minggu tengah hujan dan di musim penghujan berbulan Desember. Dalam hujan yang tiada tadi kapan redanya, kami pun menunggu dan menunggu. Seperti tukang kontraktor sahaja pada sore itu. Mengontrol tiang-tiang beton warna-warni, tidak rapi dalam hal rendah tinggi.

Sudut ke sudut terjelajahi sendiri, menjamu bosan menunggu kepastian. Dan terngiang di dalam sanubari, kembali ke masa silam berelegi.

“Di sini bekas Hotel Aceh, tempat Presiden pertama RI menginap di waktu berkunjung ke Aceh dulu,” Kanda Thayeb bertutur. Mungkin dia tahu bahawa saya akan bertanya kepadanya.

Dan memang rasa keingintahuan saya sangat besar, hanya mendengar bahawa di situ tempat Hotel Aceh dahulu. Tepat sahaja di sore hari Minggu ini saya bersama orang yang tepat pula untuk bertanya-tanya tentang Hotel Aceh.

Pria berbaju kemeja berlengan panjang berwarna merah hati itu masih terlihat mondar-mandir. Entah apa yang ada di benaknya, dan lagi terus mondar-mandir akannya.

Nyoe that na teuh, singoh ka bak halaman phon Serambi photo tanyoe bang (Ada-ada sahaja ini, besok sudah di halaman muka Koran Serambi foto kita Kanda),” saya berkata padanya. Karena memang kami sahaja yang mondar- madir di sana.

Sebuah senyuman terukir di mulut saya, karena terpikir akan seperti kontaraktor sahaja untuk hari ini. Padahal untuk Kota Puisi tujuan hadir kami.

Dan setelah semua gundah gulana terlewati, satu persatu pecinta-pecinta syair berdatangan, pun tengah hujan sore itu. Terus berdatangan. Semula kami ingin melaksanakan akan acara baca puisi di antara tiang tembok warna-warni. Namun hujan kian tak mahu mengalah dan terus gerimisnya berpuisi sehingga kami pun mengalah pada diri.

Setelah bermusyawarah, bangunan beratap di sebelah pilihannya. Ke sana pindahlah kami. Alhamdulillah, terucap di dalam hati saya. Tidak sedikit rupanya yang bersedia menyisihkan waktunya bahpun di dalam hujan rela berbasahan. Acara itupun terlaksana dengan begitu khidmatnya.

Pecinta-pecinta syair terus mengisi tambahan daftar hadir dari waktu ke waktu, untuk mengikuti acara Kota Puisi. Sore hari Minggu ini adalah kali ketiga acara Kota Puisi terlaksana. Satu November yang pertama, Lima belas November untuk kedua dan Enam Desember ini untuk ketiganya.

Sesiapa sahaja dan di mana pun berada, tiada mengapa akannya untuk berhadir pada acara Kota Puisi.

“Jangan sia-siakan waktu anda, di Kota Puisi para penyair-penyair senior dan pecinta sastra termasuk semua sastra, ada di kota ini, dan sangat bersahaja bahkan luar biasa akan acara-acara yang seperti ini. Bisa mengumpulkan semua komunitas, dan semua sama. Tidak ada beda walau sedikitpun.” Ini penyebab semangat saya untuk acara ini.

Semua seniman dipertontonkan dan mempertontonkan aksi-aksinya (baca puisi) secara cuma-cuma. Maka berhadirlah untuk melihat tokoh seni favorit anda di depan mata.

Setelah semua acara berkesudahan dengan begitu khidmatnya di sore itu, kami pun pulang.

Sungguh tiada bisa terbayangkan untuk acara hari ini. Hujan, belum ada yang datang. Menunggu. Dan kenyataan berkata lain pada ketidak pastian.

Rupajih jadeh sit acara uroe nyoe (Rupanya terwujud juga akan acara pada hari ini),” kata-kata terakhir saya mengakhiri cerita ini.

Acara Kota Puisi ke 3 di Taman Sari, Banda Aceh diikuti oleh: Muhrain, Syukri Isa Bluka Teubai, M Zulkausar Barazy, Khaidir Saputra, Zulfikar-Kirbi, Indra Maulana, Soeryadarma Isman, Sulaiman Juned, Iwan Setiawan, Ansar Salihin, Mustafa Ismail, Saiful Bahri, Nazar Shah Alam, Mustafa Islamil, Gading HS, Celia Cinta, Ayu Puspa Handa, dan Thayeb Loh Angen

Laporan: Syukri Isa Bluka Teubai, Sekolah Hamzah Fansuri
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki