Warna Sekolah Hamzah Fansuri


Oleh Syukri Isa Bluka Teubai
Peserta Kelas Sastra dan Perkabaran Sekolah Hamzah Fansuri, angkatan II Tahun 2015

Pukul sembilan tepat, Selasa malam. Suasana sejuk, iringan bertalu-talu suara bersamaan dengan gema lantang. Sang Guru menerangkan pelajaran akan pelajaran yang sedang digeluti oleh anak-anak didik itu. “Wahai rekan-rekan sekalian, perhatikanlah setiap rincian kata di berita itu. Lihatlah dengan seksama akan perhatian tentang kaidah-kaidah yang sudah kita pelajari, lima w, satu h.”

Begitu terserap oleh sekalian murid itu akan kata-kata lantang sang guru di tengah-tengah puluhan tamu kantin Smea Gampong Lampineung lima puluh meter dari hadapan Kantor Gubernur Aceh. “Fiksi tambah fakta adalah fiksi. Fakta tambah fiksi adalah fiksi juga, feature tidak ada fiksi di dalamnya. Semuanya fakta, harus ditulis sedetail-detailnya, suasana, baju yang dipakai dan tempat kejadian harus ditulis semuanya.”

Guru itu pun terus berkata-kata. Sekalian murid mulai memperhatikan berita tersebut dan mencernanya menurut pikiran masing-masing, namun tetap pada arahan akan tujuan utama itu. Memperhatikan kaidah tulisan.

Belajar mengajar di Sekolah Menulis Hamzah Fansuri tidak bertumpu pada satu tempat. Adapun tempat-tempat itu di alam bebas, sesuai dengan mata pelajaran di sekolah itu, Sastra dan Perkabaran. Cuma dua mata pelajaran secara umum. Namun di bidang sastra ada puisi, cerpen dan novel. Dan berita, segala bentuk berita masuk ke dalam mata pelajaran perkabaran.

Selasa malam tanggal 03 November 2015, hadir di sana akan sekalian muridnya. Evan, pemuda ganteng berpenampilan rapi. Anwar, pemuda gagah berbadan kekar. Wildan, pemuda berbadan kurus dan periang. Syukri, pemuda berbadan kurus dan pendiam. Mereka semua sibuk dengan tugas masing-masing.

Mereka membahas tentang berita feature yang berjudul “Rahasia Roti Sele Samahani”. Ada hal menarik di sela-sela waktu belajar itu.

“Ini kenapa judulnya Rahasia Roti Sele Samahani, sedangkan masalah yang terfokus di sana tentang sosok Suliadi, pemuda kampung yang tidak punya biaya untuk menyambungkan sekolahnya sekaligus menjadi tulang punggung keluarganya da dia itu si pembuat roti tersebut. Kenapa bisa demikian? Bukan pada Rahasia Roti Sele Samahaninya,” Evan bertanya akan guru itu.

“Hehe. Itu tergantung penulisnya, mungkin dia menginginkan pembaca itu tertarik akannya,” tutur Tuan Thayeb.

Thayeb Loh Angen dengan segudang ilmunya menjelaskan perdetail masalah-masalah tentang berita itu. Bersamaan, kebetulan di Kantin Smea pada waktu itu ada penulis berita tersebut. Makmur Dimila namanya.

“Sekali lempar dua mangga kena.” Istilah itulah yang pantas disebut kala itu. Langsung Makmur dimintai akan penjelasannya kepada sekalian murid Sekolah Hamzah Fansuri.

Dan masalah-masalah itu terselesaikan dalam perbincangan hangat mereka malam itu. Walaupun belajar di kedai kopi, bising tutur, tawa terbahak dan segala sebab yang berlaku di situ. Tidak menjadi penyebab terhentinya akan belajar itu. Inilah Warna Sekolah Hamzah Fansuri.

“Beginilah cara belajar orang-orang hebat, tidak tersebab oleh keadaan di sekelilingnya, tempat dan suasana itu harus unik,” tutur sang guru.

Anak-anak murid itupun tidak merasa terganggu oleh hal yang demikian itu. Karena pada dasarnya mereka semua orang-orang hebat, dan akan mendunia pada waktunya. Amin.

“Belajar dan teruslah belajar wahai sekalian rekan-rekanku, kita akan mewarnai dunia dengan sekolah ini. Laksana warna pada sekolah kita yang memang harus begini.”

Rupanya sang guru itu mengharuskan akan suasana bebas, lepas dari keadaan sebagaimana mestinya sebuah sekolah pada umumnya. Di Sekolah Menulis Hamzah Fansurinya itu.*
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki