Impian Koneksi dari Pulau Weh


Panitia dan Peserta IT Camp Aceh Smart City 2015 di Panorama Seulako, Iboih, Sabang. Foto: Doc. Anugrah Yudhi Pratama.
Di depan bangunan sederhana berkonstruksi kayu yang terletak tak jauh dari bibir pantai, hanya berpaut sekitar 15 meter, delapan puluhan remaja berdiri rapi, tertib dan terpisah antara muda mudi. Satu per satu nama mereka dipanggil oleh pemuda berbaju hitam dan memakai tanda pengenal atau badge yang bertuliskan “TEAM”.

“Kalian silakan ambil baju di dalam,” ujar pemuda tersebut dengan menggunakan pengeras suara.

“Tolong antri dan masuk per lima orang dulu,” tambahnya mengarahkan.

Dengan tertib, mereka mengambil baju kaos bersablon pada panitia. Baju bersablon itulah penanda mereka resmi menjadi peserta IT Camp Aceh Smart City 2015 yang diselenggarakan oleh beberapa organisasi yang bergabung dalam Forum Aceh Smart City, di antaranya: Sare Community, Komunitas Pengguna Linux Indonesia (KPLI) Aceh, Street Cyber, Indonesian Backtrack Team Regional Aceh dan data Aceh. Acara tersebut  juga didukung oleh Dishubkomintel Aceh serta Dinas Koperasi dan UKM Aceh.

Kegiatan tersebut akan berlangsung dari tanggal 27 hingga 29 November 2015 di Panorama Seulako, Iboih, Sabang. Panorama Seulako itu sendiri letaknya tak jauh dari kawasan wisata pantai Iboih, hanya berpaut sekitar 3 kilo meter ke arah kawasan wisata tugu Nol Kilometer.
***
Langit yang mendung disertai belaian angin laut, membuat suasana malam itu, Jum,at, 27 November 2015 semakin dingin. Tiada pilihan lain bagi peserta, selain berlindung di balik selimut, setelah 3 jam diterpa angin laut di atas kapal Ferry ‘KMP BRR’ dalam perjalanan dari Banda Aceh menuju ke pulau Weh   dan satu jam setengah diguyur hujan ringan dalam perjalanan dari Balohan menuju lokasi tempat diadakan IT Camp Aceh Smart City 2015. Ditambah dengan jadwal kegiatan  keesokan harinya yang akan menguras banyak tenaga.

Desiran ombak yang menghempas tepian pantai, memecah kesunyian Panorama Seulako. Walau tanpa suara kokok ayam, namun desiran ombak tersebut seakan menjadi pengingat bahwa fajar di ufuk timur sudah menyingsing dan hanya beberapa menit lagi shalat Subuh sudah bisa dilaksanakan. Wajah yang segar setelah semalaman istirahat, membuat mereka bersemangat menjalani kegiatan yang telah terjadwal.

Shalat Subuh, menjadi kegiatan pertama dilakukan. Setelah itu, rangkaian kegiatan berlanjut dari senam pagi, belajar pengenalan blog hingga out bond menyusuri hutan dengan perbukitan yang terjal dan tumbuh berbagai jenis tumbuhan, rotan salah satu tumbuhan yang paling banyak dan mudah kita dapatkan.

Selama satu jam lebih menyusuri hutan, para peserta acara pun beristirahat di lokasi yang tidak jauh dari pesisir pantai yang banyak tumbuh pohon bakau. Tak disangka, di lokasi tersebut, peserta disambut oleh seorang pakar IT nasional, Andri Johandri, yang akrab disapa Om Jo.

Pria yang ditaksir berusia 40-an tahun, pada kesempatan itu, sengaja diundang panitia untuk memberi materi kepada peserta.

“Pemuda-pemudi Aceh harus menguasai server dan bisa membuat aplikasi untuk mempromosikan Aceh,” ujarnya yang dikelilingi oleh peserta dan panitia acara ini. “Aplikasi wisata kopi, warung kopi, tempat membeli souvenir, dan berbagai aplikasi lain,” tambahnya.

Semua informasi tentang Aceh sebisa mungkin diusahakan tersedia. Informasi tersebut akan mendorong orang luar untuk berkunjung ke Aceh. “Informasi itu sangat penting bagi wisatawan,” ujar Andri meyakinkan.

Penyampaian materi dengan memadukan teori dan pengalamannya, membuat peserta antusias dan penuh semangat mendengarnya. Pertemuan tersebut berlangsung cair dan terbuka, dimana peserta bebas bertanya pada pria yang bersama timnya berhasil membuat alat pengukur curah hujan untuk petani.
Membuat alat hal tidak terlalu sulit, biayanya juga murah. 

“Kami hanya menghabiskan biaya sekitar Rp 7 juta,” ujar Andri yang membuat peserta semakin kagum akan manfaat tekhnologi. “Alat tersebut, harganya berbeda jauh dengan alat yang dimiliki BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika). Bahkan, alat tersebut menghasil datanya dalam bahasa Indonesia,” ungkap Andri yang tak lama setelah itu harus segera pamit dan kembali ke kota Banda Aceh.
***
Setelah makan malam, acara pun dilanjutkan. Dengan materi berkaitan tentang blog dan bagaimana mendapatkan keuntungan dari blog.

“Pemilihan nama blog hal yang sangat penting,” ujar Zainal Mahyar, pemateri pertama dari dua pemateri yang dihadirkan panitia.

Suatu blog akan ramai dikunjungi jika berisi konten yang unik dan berkualitas. “Sebaiknya sub domainnya dipilih sesuai dengan konten yang akan diisi,” ujar pemilik akun facebook “menara langit”.

Untuk mempertahankan jumlah pengunjung, Zainal yang juga pemilik website waroong.net menyarankan agar tidak terlalu sering menggonta-ganti template.
Pemateri selanjutnya, Ahmad Salihin, yang dalam dunia blog lebih dikenal dengan RDK (Rumput dan Kerikil) mengatakan berbagai konten bisa diposting di blog di antaranya: artikel, video dan photo.

“Konten yang di-post sebaiknya juga ditulis keterangan,” tambahnya.
Selain untuk menyalurkan hobi menulis, blog juga bisa menjadi tempat kita berbisnis. “Ada banyak cara kita mendapat income dari blog. Salah satunya adalah mendaftarkan blog sebagai partner google adsense,” ujar pria yang tertarik menjadi partner google adsense setelah melihat langsung kawannya mencairkan uang kiriman pihak Google di kantor pos yang mencapai Rp 20-an juta.

Blog yang sudah bermitra dengan google adsense, nantinya akan muncul promosi iklan dari jutaan perusahaan yang sudah menandatangani kontrak dengan Google. Dari penayangan iklan itulah, pemilik blog akan mendapatkan income. “Jika pengunjung blog mengeklik iklan, maka secara otomatis Google akan membayarnya kepada kita. Sekali klik bahkan dihargai hingga USD 20,” ujarnya.

Menjadi partner google adsense bukanlah perkara yang sulit, namun dibutuhkan strategi tertentu agar diterima sebagai partner. “Blog yang unik, spesifik dan berkualitas akan lebih mudah diterima sebagai mitra,” ujar pria yang tidak mempunyai pekerjaan lain selain menulis di blog dan memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari dari income bermitra dengan google adsense.

Baginya, bermitra dengan google adsense merupakan investasi jangka panjang dan mesin uang hingga tua. Karena itu, pria yang di lingkungan blogger dikenal sebagai penjual blog ber-adsense, selalu menghindari main curang mendapatkan income lebih. “Jangan mengakali mesin google, karena dibalik mesin tersebut ada banyak otak jenius yang mengelolanya”, ujar dia mengingatkan.

Pemutaran video tentang usaha penggiat relawan IT dalam mengatasi kesulitan  sinyal di perbatasan kalimantan dan berbagai daerah di Indonesia menjadi momen menarik malam itu. Apalagi setelah pemutaran video tersebut, ada diskusi dengan relawan IT tersebut.

Muhammad Dahlan dan  Sawfatur Rahman adalah relawan yang dihadirkan panitia
acara tersebut. Sebelumnya mereka berpura-pura menjadi peserta. Untuk diketahui, mereka adalah pengelola web di gampong Cot Baroh, Geulumpang Tiga, Pidie. Atas ketekunan dalam mengelola laman web www.gampongcotbaroh.desa.id, mereka mendapatkan penghargaan Destika Award 2014.

Membuat web untuk mempublikasikan berbagai kegiatan di gampongnya, mereka terinspirasi dari penayangan video dari sebuah stasiun televisi nasional tentang kondisi masyarakat sebuah desa di lereng bukit merapi yang sudah melek teknologi terutama menggunakan smartphone dan iPhone.

Kebersamaan dan kemeriahan kegiatan yang mengambil tema “Langkah Awal Menuju Aceh Smartcity yang Islami” semakin lengkap dengan makan ikan bakar bersama. Itu adalah akhir dari serangkaian acara. Di mana keesokan harinya semua yang berasal dari luar pulau Weh akan meninggalkan kawasan wisata bahari menuju ke Banda Aceh dan selanjutnya pulang ke daerahnya masing-masing.


Laporan: Muhajir, Peserta IT Camp Smart City 2015, Sekjen Ormas Al Kahar, Salah Seorang Admin Grup Facebok Mapesa: Masyarakat Peduli Sejarah Aceh.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki