28 Nop, Musisi Erlinda Sofyan Konser 90 Menit di Banda Aceh


Banda Aceh - Komponis perempuan Aceh, Erlinda Sofyan, dijadwalkan mengisi konser ini selama 90 menit pada 28 November 2015, pukul 20.15 WIB di Auditorium RRI Banda Aceh, (di sisi barat daya lapangan balang Padang).

Dalam konser ini, Erlinda dijadwalkan menampilkan sembilan musik instrumental dan dua lagu vokal, satu berirama seriosa, dan satu lagi berirama folk. Pengajar di Sekolah Musik Moritza ini akan tampil bersama 45 bintang tamu yang terdiri dari grup Rapai Tuha dari Lamreung, Aceh Besar dan kelompok paduan suara New Laras Cita dari Banda Aceh.

“Saya ingin menampilkan komposisi musik ciptaan saya setidaknya satu kali dalam setahun. Berbeda dengan konser pertama di Yogyakarta pada Oktober 2014 lalu yang seluruh komposisinya saya tulis untuk orkestra penuh, kali ini untuk konser di Banda Aceh, komposisi yang saya buat lebih variatif,” ujar Erlinda Sofyan, komponis dan pianis yang juga mengajar di ISBI Aceh, Jantho.

Erlinda mengatakan, konser ini akan dibukanya dengan komposisi piano solo yang dimainkan sendiri. Ia akan berkolaborasi secara duet dengan penyanyi seriosa, penyanyi folk, penari, pembaca sajak dan pemain contrabass.

“Selain itu saya ada membuat komposisi untuk trio, kwartet hingga combo band. Melalui konser musik, saya akan selalu berbicara tentang Aceh,” kata Erlinda yang lahir di Nagan Raya, 11 Agustus 1985.

Sementara promotor Erlinda, Kepala Sekolah Musik Moritza, Moritza Thaher, mengatakan, ini adalah konser kedua Erlinda setelah konser pertama yang berjudul ‘Sultan Iskandar Muda’ yang berlangsung tahun lalu di Yogyakarta. Seperti konser sebelumnya, konser ‘Denting Damai’ ini juga terwujud atas dukungan Hibah Cipta Perempuan Kelola.

“Masyarakat bisa menunjukkan dukungannya untuk mendorong menjaga perdamaian Aceh dengan menghadiri langsung konser ini,” kata Moritza.

Moritza mengatakan, Erlinda Sofyan, Belajar piano di Sekolah Musik Moritza semasa kuliah di FKIP Sendratasik Unsyiah. Demi mengejar cita-cita sebagai komponis, ia melanjutkan pendidikan dan menyelesaikan pasca sarjana di ISI Yogyakarta jurusan penciptaan musik, 2012.

“Slamet Abdul Sjukur menjadi penguji untuk tugas akhir yang dipilihnya, musik film. Sekarang Erlinda sedang meramu berbagai kesenian Aceh sebagai bahan komposisi untuk pementasan pada pertengahan 2016 nanti,” kata Lelaki yang akrab disapa Momo ini.

Moritza mengatakan, Yayasan Kelola yang didirikan 16 tahun lalu merupakan merespon kebutuhan komunitas seni pertunjukan dan seni visual melalui  pemberian akses pembelajaran, informasi, dan pendanaan.

“Kelola mewujudkan pertukaran budaya dengan menjalin dialog antar pelaku seni, berbagi ketrampilan serta pengetahuan, dan membangun jejaring kerja antara seniman, penonton, dan masyarakat pendukungnya di Indonesia, Asia dan dunia internasional,” katanya.

Program-program Kelola, kata Moritza disusun sebagai tanggapan terhadap berbagai kebutuhan dan permasalahan yang diungkapkan oleh masyarakat seni visual, tari, musik dan teater Indonesia.

“Hingga kini, Kelola telah membuka kesempatan belajar bagi lebih dari 3500 seniman dan praktisi seni di seluruh Indonesia lewat program-program Kelola seperti lokakarya, Hibah Seni, Magang Nusantara, Magang Internasional, Pemberdayaan Seniman Perempuan, Hibah Cipta Perempuan dan Teater untuk Edukasi dan Pemberdayaan,” kata Moritza.

Selain Kelola, acara konser ini turut didukung oleh Radio Antero, Sekolah Hamzah Fansuri, Dewan Kesenian Aceh, Sekolah Musik Moritza, Dewan Kesenian Banda Aceh, Gabungan Musisi Aceh, Rumoh Musik Cibloe, Hikayataceh.com, Institut seni Budaya Indonesia di Aceh, dan Radio Republik Indonesia Banda Aceh.tla
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki