Rangkuman Novel Aceh 2025 Karya Thayeb Loh Angen

SELAMAT DATANG DI TAHUN 2025

Thayeb Loh Angen, 2006

ACEH 2025 / 1446 H
Sebuah novel Karya Thayeb Loh Angen

Judul Buku         : Aceh 2025 - 1446 H
Penulis               : Thayeb Loh Angen 
Pemeriksa Cerita: Zahraini ZA 
Seni Letak Halaman: Zulham Yusuf 
Seni Lapik           : Addin Ismail
Tebal Buku         : 340 halaman
ISBN                  : 978-602-71720-0-5
Jenis                  : Fiksi (Novel) 
Genre                : Masa hadapan (Futuristik)
Lama Penulisan  : 2010-2014
Cetakan 1 (Bahasa Melayu-Sumatera/Jawi): Nopember 2014
Cetakan 2 (Bahasa Melayu-Sumatera/Jawi): September 2015 
Penerbit             : Yatsrib Baru 
Telepon             : (0651) 636 244 | SMS: +62853 7381 6720
Harga Jual          : Rp 70,000. (Tujuh Puluh Ribu Rupiah)

Tersedia di         : Banda Aceh | Kedai Buku New Zikra, Kedai Bandar Buku
                           Lhokseumawe | Arun Post.


Begitu membaca novel Aceh 2025, dua orang tokoh utamanya, Tuanku Ben Suren dan Cut Benti Surenia, membawa kita memasuki tahun 2025 Masehi atau 1446 Hijriah.

Pada bab pertama yang berjudul Revolusi Putih, Tuanku Ben Suren mengenalkan kita bagaimana ia terjebak di dalam sebuah revolusi sosial yang terjadi di Banda Aceh pada tahun 2020. Ada sejuta lebih orang menyesaki semua jalanan di Banda Aceh. Setelahnya, ia pulang dan menetap di kampungnya, tidak keluar selain ke kampus dan tempat kerja.

Pada bab kedua sampai bab dua puluh, Tuanku Ben Suren dan sepupunya Cut Benti Surenia mengajak kita melihat keadaan Aceh di tahun 2025. Mereka mengelilingi Aceh selama setahun. Keduanya mengunjungi enam bandar (kota) besar yang dibangun menurut jarak antar wilayah di Aceh.

Namun, dalam perjalanan itu, keduanya terjebak badai raya. Cut Benti Surenia pun terhempaskan ke pantai Male, ibukota negeri Maladewa, lalu ia dihempaskan ke pantai Hadramaut, di negeri Yaman. Tuanku Ben Suren yang selamat dari badai itu masih berada di Aceh.

Pada saat mencari Cut Benti Surenia, Tuanku Ben Suren tersesat ke Venesia, kota besar di Italia, Istanbul, kota budaya Eropa yang terletak di Turki. Ia juga terhalau ke Silicon Valley dan New York di Amerika Serikat.

Ia dikabarkan bahwa badai yang menyesatkan kapal tumpangannya pun menghancurkan Amsterdam dan London. Setelah sekian lama terpisah dan terdampar ke beberapa negeri, kedua sepupu pun berjumpa lagi di Mumbay, kota besar di India.

Pada tahun 2025, di dekat tempat kerja Tuanku Ben Suren ada anak-anak menaiki pesawat kecil tanpa bahan bakar yang bisa terbang setakat lewat pucuk kelapa tertinggi.

Dalam perjalanan mengelilingi Aceh, Tuanku Ben Suren dan Cut Benti Surenia melihat teknologi yang dibuat (diproduksi) di Aceh. Mereka ikut menyaksikan peluncuran mesin pemecah badai (angin laknat). Mereka menyaksikan pertandingan di jembatan antara Banda Aceh - Sabang - Pulo Aceh.

Tuanku Ben Suren dan Cut Benti Surenia melintasi kereta rel listrik - jalan tanpa hambatan (tol) dengan tiga lajur, yakni dari Banda Aceh - Meulaboh/Nagan - Barus/Singkil, dari Lhokseumawe - Takengon - Meulaboh/Nagan, dari Banda Aceh - Lhokseumawe - Medan. Dan dalam cerita Aceh 2025, Medan meminta diri masuk ke wilayah Aceh.

Ada sebuah  bencana pada tahun 2020, air bah dari laut (smong/tsunami) menghancurkan pesisir Aceh Utara bagian Barat dan Kota Lhokseumawe, dan kedua orang ini terhindar darinya. Buku ini ditutup dengan bab 21, tentang keadaan Aceh seputar tahun 2030.

Selamat datang di masa hadapan, menyaksikan Aceh di tahun 2025.*
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki