Awalnya, GAM Pembela Rakyat Aceh yang Sejati


Oleh Thayeb Loh Angen
Pemerhati Perang ASNLF-RI, Aktivis Kebudayaan, Jurnalis, Penulis Novel “Aceh 2025”

GAM (Gerakan Aceh Merdeka) merupakan sebutan media untuk organisasi politik garis keras pemerdekaan Aceh yang didirikan oleh Hasan Di Tiro di Gunung Alimon, 4 Desember 1976. Nama organisasi itu adalah Acheh Sumatra National Liberation Front (Barisan Terdepan Pembebas Bangsa Aceh Sumatra). 

Ketika pertama kali didengungkan, pemerintah RI di bawah pimpinan Suharto menamakan kafilah ideolog garis keras ini dengan GPK (Gerakan Pengacau Keamanan), dan rakyat Aceh sendiri menyebutnya AM (Aceh Merdeka). Kemudian, Suharto menyebut kafilah ini dengan nama GPLHT (Gerakan Pengacau Liar Hasan Tiro).

Setelah Suharto dijatuhkan oleh kaum kapitalis dengan membuat krisis moneter Asia Tenggara -yang takut pada kebangkitan Indonesia- dengan memakai tangan orang Indonesia sendiri, GAM pun merasa mendapatkan angin murni untuk nafas baru.

Itu, sebenarnya kesempatan ASNLF, namun salah dimanfaatkan sehingga tujuannya tidak tercapai. Itu terjadi karena ASNLF tidak siap menerima perubahan sehingga berhasil disusupi. Anggota Hasan Tiro tidak bisa beradaptasi dengan perubahan Indonesia dan dunia.

Secara ramai-ramai anak muda Aceh merapat ke pelarian Aceh yang baru pulang dari Malaysia dan akhirnya menjadi gerilyawan di pegunungan. Mereka mengikrarkan dirinya sebagai “Teuntra Wali” atau tentara Aceh di bawah komando wali negara Hasan Di Tiro. Saat inilah media-media mulai menyebut GAM untuk ASNLF.

Aceh yang sebelumnya tenang-tenang saja, kini menjadi ladang pertempuran siang dan malam. Korban mulai berjatuhan secara terang-terangan, berbeda dengan di masa Suharto, semua dilakukan secara sembunyi oleh pasukan siluman.

Dari 1998-2005, perang itu berlangsung. Itu adalah perang merebut Aceh kembali dari pihak GAM dan mempertahankan wilayah kesatuan negara dari pihak RI. Sebutan pun berbeda.

GAM menyebut ‘Si Pa-i Jawa’ untuk TNI-Polri (Tentara Nasional Indonesia-Polisi Republik Indonesia), dan TNI-Polri menyebut ‘Kelompok Sepataris Aceh’ untuk GAM. TNI-Polri menyebut ‘gugur’ untuk anggotanya yang tewas dalam mempertahankan wilayah NKRI dengan memerangi pemberontak GAM. GAM menyebut ‘syahid’ untuk anggotanya yang tewas dalam perang melawan penjajah RI.

Masyarakat Aceh sendiri menyebut ‘Awak Geutanyoe’ untuk GAM’ dan ‘Awak Si Pa-i’ untuk TNI-Polri. Dari sebutan ini, terlihat bahwa rakyat Aceh memakai istilah yang dibuat oleh GAM yang lebih sering bersama mereka dan muncul dari kalangan mereka sendiri.

Sekitar tahun 2000-an media menyebut ‘tentara GAM’ untuk anggota GAM yang bersenjata dan berperang melawan TNI-Polri. Dan masyarakat menyebut ‘teuntra’ untuk anggota GAM yang bersenjata. Untuk anggota GAM yang sipil, rakyat Aceh menyebutnya ‘ureueng nanggroe’.

Sekitar tahun 2003, media mulai menyebut TNA (Tentara Neugara Aceh) untuk anggota GAM yang bersenjata. Sebutan ini dari pihak GAM sendiri yang menyamakan perbandingan antara TNI dengan TNA.

Dalam hal ini, salah satu kesalahan GAM adalah meniru format RI dalam buntuk ketentaraanya, dengan waham mereka adalah tentara sah dari Negara Aceh Sumatra. Mereka lupa bahwa di luar sana, penduduk dunia hanya mengakui negara RI dan tidak mengenal Aceh.

Status GAM sendiri adalah gerilyawan yang seharusnya melawan secara sembunyi-sembunyi tanpa meninggalkan jejak bukan malah dengan sengaja menunjukkan diri, bergaya-gaya dengan mobil dan pakaian serta hiasan diri yang gemerlap.

Sejak saat itu, tanpa disadari, perjalanan GAM menuju seremonial bunuh diri secara massal, bukan lagi memerdekakan Aceh dari RI. Kesalahan ini dimulai dari petinggi-petinggi GAM saat itu, kemudian diteruskan kepada anggotanya secara tanpa sadar.

Alasan Orang Masuk GAM dan Sikap Mereka Setelahnya

Ketidakadilan Suharto telah mengakibatkan Hasan Tiro mengobarkan semangat perang dari penduduk Aceh. Lahirnya ASNLF karena ada dua orang, yang pertama Hasan Tiro, kedua Suharto. Penjajahan melahirkan pahlawan dari anak terjajah.

Sebagian orang di Aceh bergabung dengan ASNLF untuk memperjuangkan nasib Aceh yang terjajah. Ketidak adilan ekonomi, hukum, dan sosial oleh pemerintahan RI. Sementara hasil alam Aceh lebih banyak dari Brunei Darussalam dan Timur Tengah. Ini menandakan, ketimpangan ekonomilah yang memicu perwalawan dan kemudian menjadi masalah politik.

Kedaulatan politik dan ekonomi Aceh adalah tujuan utama dari orang-orang ini. Sebagian lagi bergabung karena tidak ada pekerjaan lain, sebagian lagi karena ingin tekenal, sebagian lagi karena memang bermusuhan dengan Polri disebabkan kasus pencurian, perampokan, narkoba, atau pembunuhan. Orang-orang ini telah mempercepat proses hancurkan GAM dari dalam. Satu bagian lagi, bergabung untuk mencuri rahasia, sebagai penyusup.

Golongan pertama, yang bergabung untuk memperjuangkan keadilan dan kedaulatan Aceh, setelah masuk GAM, sikapnya semakin baik dan bijaksana. Mereka menjadi lebih taat beribadah dan menghormati setiap orang. Golongan ini banyak yang telah tewas karena mereka bersungguh-sungguh dalam ideologi mereka namun kurang strategi. Mereka menganggap kematian di dalam perang tersebut adalah syahid.

Ada beberapa orang baik dan bijak ini yang tersisa, namun tidak muncul ke hadapan masyarakat disebabkan mereka bukanlah orang yang mencari kemasyhuran duniawi (popularitas) ataupun kekayaan. Kini, di antara mereka ada yang menjadi petani biasa, peternak, bekerja di perusahaan, dan sebagainya, pekerjaan yang mereka dalami dulu sebelum masuk GAM, atau serupa dengannya.

Tidak ada dari mereka yang menjadi kontraktor ataupun berebutan menjadi pejabat pemerintah. Merekalah GAM yang sejati, jarang dikenal orang. Mereka tidak akan melawan RI lagi karena mereka menuruti perintah pemimpin tertinggi, yakni Wali Nanggroe. Mereka seperti ronin yang bijak.

Selain dari golongan yang sedikit ini adalah orang-orang yang masuk GAM dengan alasan lain yang telah disebutkan. Merekalah yang muncul, dan itulah yang secara membabi-buta dijadikan refresentatif
(acuan) oleh orang untuk GAM, baik dari kalangan terdidik mahupun tidak.

Dengan berpendapat begitu, orang-orang telah menghina dan memfitnah orang baik dan tulus, sesuatu yang tersalah menurut aturan negara dan agama manapun.

Tulisan ini tidaklah bertujuan untuk menyerukan supaya orang memandang baik terhadap semua orang anggota GAM yang sebagian kini menjadi anggota KPA (Komite Peralihan Aceh), PA (Partai Aceh), dan semacamnya. Tidak. Kalau mereka salah, maka kritiklah dan jangan sekali-kali mengikuti mereka.

Saya hanya ingin, handai taulan sebagai orang yang bijaksana, marilah kita melihat sesuatu dengan kebijaksanaan. Hanya sekitar sepuluh persen dari semua anggota GAM yang merupakan golongan pertama.

Kalau mereka yang menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat ataupun gubernur, bupati, dan walikota, maka setahun setelah 2006, Aceh sudah sejahtera, dan bermartabat. Namun kemungkinan besar mereka tidak akan mendapatkan kepercayaan itu, sebab tidak akan mahu menjilat atau menyingkirkan orang lain untuk mendapatkannya.

Mereka tidak tertarik untuk menyakiti dan merampas hak orang lain supaya mereka dapat menambah jumlah mobil, rumah, istri, dan memperluas kebun. Tidak. Tujuan mereka hanyalah mengembalikan martabat Aceh, menyelamatkannya dari kezaliman penguasa tanpa menjadi penindas pengganti.

Semoga Allah mengizinkan Aceh kembali menjadi penduduk dunia yang terhormat. Amin. Hanya Allahlah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa atas segala kehendak-Nya.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki