Penakluk Gelombang

Naskah fotografi surat Sultan Zainal Abidin Samudra Pasai yang tersimpan di Museum Negeri Aceh. Foto: CISAH/misykah.com

Karya: Lodins

Cerpen ini diselesaikan pada Sabtu 2 Syawwal 1436 H/18 Juli 2015, terinspirasi dari data sejarah di dalam buku "Daulah Shalihiyyah di Sumatera" karangan Taqiyuddin Muhammad, terbitan CISAH (Central Information for Samudera Pasai Heritage), 2011.

Bismillahillahirrahmanirrahim.

Seorang yang bertugas mengangkut kitab-kitab berharga dari berbagai belahan dunia melintas di depanku. Kepulan debu-debu jalanan yang terjemur oleh musim kering itu menyerangku. Aku menarik ujung daripada kain sorban untuk menutup wajah sesaat. 

Aku mendekati suatu benda yang seakan mirip satu kotak tipis dari kulit kayu. Ternyata hanya sebuah kitab. Mungkin ada baiknya juga bila aku membaca dahulu kitab itu sebelum mengejar Tuan Mahmud si pengangkut kitab-kitab itu dari Bandar tengah menuju ke istana di bagian perpustakaan kesultanan Alkahhar.

“Amma Ba’du. Aku hamba Allah yang miskin lagi hina adanya berasal dari garis keturunan Sultan Iltumish raja yang disegani di Delhi. Kitab ini aku persembahkan pada siapa yang menyukai akan manfaat dalam suatu hal menjaga sejarah berharga pada suatu bangsa, yakni kesultanan Asshalihiyyah, Samudera Pasai. Selama menjadi diwan di istana ini selama tiga puluh tahun yakni aku mulai pada tujuh hari sebelum kami menenggelamkan kapal Portugal di Selat Melaka yang ingin merampas lada-lada para pedagang Pasai.”

Itulah kalimat-kalimat awal isi dari kitab tersebut dan pada halaman terakhir tertulis nama kota Antiokhia dan nama seseorang pada yang tintanya telah rusak mengembang karena terkena air. Saya menduga itu adalah nama kota dan penyalin dari tulisan dari yang aslinya.

Di antara tiga belas bab saya mencoba membaca bab yang berjudul; 
“Ibnu batuthah sang petualang dari Maghrib”, 
“Ra-Ubabdar”, dan 
“Sang Laksamana Sufi dari Pasai”.

Masih terasa seakan puluhan gajah yang gagah pasai baru saja berlalu walau sebenarnya telah satu jumat kawanan gajah perang itu diistirahatkan kembali ke kandangnya di tebing gunung Geureudong. Dan riak gelombang pantai Samudra Pasai pun kini kembali tenang.

Tatkala Samudra Pasai diserang oleh armada Majapahit yang dikomandoi langsung oleh Patih Gajah Mada, panglima yang sangat disegani di negerinya.

“Dengan izin Allah penyerangan itu dapat diatasi oleh para askar Samudra Pasai dengan tanpa hambatan,” demikian kataku pada petualang sufi tangguh yang berasal Maroko, Ibnu Batuthah.

Ibnu Batutah terdampar di sini ketika sedang menuju ke Tiongkok. Kami mengagumiya, ia punya kesamaan dengan Sultan Pasai. Kami habiskan hari-hari dengan petualang hebat ini dengan melihat-lihat keadaan kota kami Samudra Pasai seperti ke tempat tenunan sutera, pertanian lada, pasar, pelabuhan, zawiyah-zawiyah, dan berziarah ke makam Sultan Malikusshalih.

Aku beserta dengan Amir Daulatsah, Qadhi Syarif Sayyid As-Syirazi, dan Syeikh Tajuddin Al-Ashbahani. Selama lima belas hari kami menemaninya. Sultan Mahmud Malik Al-Zahir di tiap ketika usai muzakarah ilmu agama suka berlama-lama berbincang-bincang baik tentang kesultanan Maroko dan lain-lain. 

Sebelum meneruskan perjalanan ke Tiongkok, Ibnu Batuthah menulis sebuah catatan kecil tentang Pasai yang kelak semua catatan petualangannya ke berbagai benua ditulis dalam kitab Tuhfat Al-nazhar. Dan dalam dua kali kunjungannya ke Samudra Pasai, negeri ini telah pun sangat membekas di ingatannya hingga nama Sultan Malik Az-zahir yang memerintah negeri Samudra Pasai ditulis di antara tujuh nama raja-raja yang dikagumi, yang memiliki kelebihan yang luar biasa.

Namun lama setelah kegagalannya dalam penyerangan ke Samudra Pasai, Majapahit kembali menyusun kekuatan untuk menyerang kembali dan berhasil membujuk menantu sultan untuk berkhianat pada Pasai.

Pada penyerangan tahap ini Patih Gajah Mada tewas di pantai Samudra Pasai. Karena penganut Shiwa suka membuat patung bagi pemimpin mereka yang mati, maka kami pun memberi ramuan kapur barus pengawet untuk jasad Gajah Mada lalu menyerahkan jasad tersebut kepada para pajuritnya. Kemudian mereka mundur dan kembali ke Majapahit. Di tengah laut badai menghantam kapal yang membawa jasad Patih Gajah Mada, jasad itu pun menghilang di laut sedangkan para prajurit berhasil menyelamatkan diri.

Namun di waktu lain mereka menyerang kembali. Berdasarkan saran-saran dari si menantu sultan, Patih Nala pun berhasil memasuki kawasan Bandar Salasari, Syarkha, dan kota Madan. Kenyataan pahit ini melukai kedamaian negeri, membuat setengah dari kekuatan politik Pasai jadi suram, sultan dibunuh oleh sang menantu yang ingin menggantikan kedudukannya sebagai sultan.

Namun harapan sang menantu untuk menjadi sultan terlempar jauh dari hadapan karena seluruh rakyat Pasai menentang pengkudetaan itu dan memilih Ratu Dannir sebagai sultanah. Dan si menantu sultan pun dibunuh oleh istrinya, Ratu Dannir.

Namun, walaupun Ratu Dannir menjabat sebagai sultanah, gerak dan pengaruhnya dibatasi oleh Majapahit. Contohnya, para saudagar Pasai boleh bebas berhubungan dagang dengan para pelaut Portugal. Akan tetapi tidak dengan negara-negara Arab, Rum, dan Persia. Apabila membeli rempah-rempah, mereka dikenakan cukai yang tinggi sehingga enggan berhubungan dagang dengan Pasai.

Sedangkan di Ampel Majapahit, rekan- rekan kami yang berhasil ditawan dan dibawa ke sana telah berhasil mengislamkan seluruh penduduk Ampel yang kala itu masih menganut pada pemujaan Dewa Shiwa.

Kembali berita duka melanda Pasai, Malikah Dannir wafat diracuni oleh seorang yang berpura-pura sebagai juru masak istana. Maka diangkatlah panglima Patih Nagur Rabbat Abdulkadir Syah sebagai ganti Ratu Dannir oleh Majapahit. Namun pria berkulit hitam tinggi itu suka bermegah-megah di tengah keadaan kemiskinan yang semakin meruncing dan menyengsarakan rakyat.

Dengan kenyataan ini para petani lada pun mulai enggan ke ladang karena harga lada tidak menguntungkan pihak mereka. Pemuda-pemuda juga enggan menuntut ilmu ke zawiyah-zawiyah karena dalam undang-undang tidak lagi menanggung biaya pendidikan ilmu agama. Dengan kenyataan ini maka lebih daripada setengah rakyat tidak bisa baca tulis.

Kami yang berhasil menyingkir, kini mulai menyusun kekuatan kembali dan menjalin hubungan dengan luar negara secara rahasia. Sementara putra mahkota Pasai Sultan Muda Zainal ‘Abidin yang dibesarkan oleh seorang ulama sufi di Baidhawiy, Persia. Syeikh Tajuddin Al-Ashbahani mengirim surat untuk syeikh tersebut yang isinya menerangkan kemunduran peradaban di Pasai akibat pengkudetaan yang terjadi. Memahami bagaimana keadaan di Pasai yang benar-benar sangat membutuhkahkan sultan untuk kembali, maka Syeikh Nashruddin Al-Baidhawiy pun memberikan izin kepada Sultan Muda Zainal ‘Abidin untuk kembali ke Pasai. 

Setelah berhaji di Baitullah, mengunjungi masjid Nabawi, masjid Aqsha, dalam perjalanan ke Pasai, sultan Zainal Abidin singgah di pegunungan Himalaya untuk beruzlah selama satu bulan.
Ketika tiba di Pasai aku dan syeikh Tajuddin Al-Ashbahani tidak mengenalinya karena ia berpakaian ala budak juga tidak seorang pun mencurigainya karena ia hanya seorang pengangkut lada-lada ke Bandar.

Pada suatu dhuha di bulan Muharram tanpa sengaja aku melihat keganjilan dari caranya bekerja. Semua upah yang didapatkan pada siang hari disedekahkan pada malam hari. Ia membagi-bagikannya kepada anak-anak, peminta-minta dan orang sakit yang tidak dikenalinya. Karena penasaran, maka ketika lelaki aneh tersebut masuk ke masjid, aku mendekati kereta kudanya. Di sana kudapatkan satu naskah Mushaf Al-Quran gaya Utsmani yang ditulis dengan khat ta’liq, bertinta emas.

Tiga bulan kemudian kami telah berhasil bermufakat dengan lelaki aneh tersebut dan menemukan titik terang bagaimana membebaskan Pasai dari kekuatan musuh. Aku pun mengumpulkan para askar muda yang telah aku latih selama tiga tahun. 

Pada hari pembebasan, kami menyembunyikan senjata di dalam karung-karung lada dan barang lainnya yang dibawa ke Bandar. Dan di hari itu, patih Nagur Rabbat Abdul Kadir Syah terbunuh. Majapahit mengalami kehilangan ribuan prajuritnya dalam satu hari. Sedangkan Patih Nala terbunuh di suatu tempat yang berjarak tujuh mil di arah selatan Pasai.

Kami juga terpaksa menenggelamkan kapal Portugis yang kebetulan sedang merampas kapal pengangkut lada. Mereka tidak menduga apabila Pasai bangkit dengan tiba-tiba dan menyerang mereka.

Setelah masa-masa pembebasan tersebut maka tercatat dalam sejarah, Samudra Pasai yang dipimpin oleh Putra Mahkota yang berhak atas Kesultanan Pasai itu perlahan mampu memperkenalkan Islam ke seluruh Asia Tenggara.

Kini bandar pun ramai kembali. Kebun lada kembali dirawat, zawiyah kembali menjadi tempat paling disukai oleh para pemuda Pasai, juga banyak para pelajar dari seluruh Asia Tenggara menuntut ilmu di negeri berperadaban tinggi ini. Terlihatlah Pasai bagaikan kota pelajar Asia Tenggara yang menjadi penerang bagi dunia ilmu pengetahuan.

Hingga lazimlah bila orang-orang Pasai memberi gelar pada sultan yang tampan dan alim ini sebagai Ra-Ubabdar (penakluk gelombang), karena dalam setiap pelayaran ke seluruh sudut-sudut negeri di Asia Tenggara, beliau sendiri yang memimpin langsung armada-armada Pasai menaklukkan gelombang dalam usahanya mengislaman seluruh penduduk Asia Tenggara. 

Pada suatu hari aku terlibat dalam suatu penjamuan yang besar, hari itu para hulubalang Pasai menyambut kedatangan seorang pelaut muslim dari Tiongkok, Laksamana Cheng Ho. Ia datang beserta 27.000 anak buah kapal dan dengan menumpang 307 armada kapal laut. Armada itu terdiri dari kapal besar dan kecil. Yang terbesar panjangnya sekitar 127 meter dengan lebar 50 meter.

Lelaki yang bergaris keturunan dari seorang putra sultan Bukhara ini mengetahui Samudra Pasai atas khabar dari Ibnu Batuthah yang terlebih dulu pernah singgah di Pasai. Dalam silaturrahimnya ke Samudra Pasai, Laksamana Cheng Ho menghibbahkan sebuah lonceng besar kepada Sultan Zainal Abidin. Hadiah dari sultan sing fa. Kemudian lonceng besar tersebut dibawa ke istana dengan dibantu oleh seekor gajah yang biasa kupakai. 

Dan tugasku pun bertambah tatkala usia Nahrasyiah beranjak remaja. Anak Sultan Zainal Abidin yang cantik dan berwajah khas India ini sangat cerdas, pemberani, dan alim. Setiap usai shalat dhuhur ketika matahari sangat panas aku melatihnya ilmu beladiri, cara menggunakan pedang, tumbak, busu bleut, dan lain-lain. Aku memberi beban besi pada kedua kakinya untuk latihan lari dan melompat ke atas kuda ketika kuda sedang berlari kencang.

Kemudian pada suatu masa setelah sultan merasa harus meninggalkan jabatan kesultanan untuk kembali beruzlah, maka beliau pun mengangkat putri Nahrasyiah sebagai pemimpin Pasai. Seluruh rakyat telah mengenal baik siapa Nahrasyiah, yang mana telah banyak membantu ayahandanya dalam menyelesaikan berbagai permasaalahan yang dihadapi Pasai.

Di usia sebelas tahun ia telah menghafal tiga puluh juz Alquran, telah beberapa kali ikut armada sultan ke berbagai negeri, berhasil menghalau tujuh kali penyerang dari timur dan barat, menyukai sastra, juga fasih berbicara di depan umum dalam bahasa Arab, Urdu, dan Portugis.

Kami menyetarakan Ratu Kami Ratu Nahrasyiah sebanding dengan Rabiah Al-Adawiyyah dalam soal hal kesufian, dan setara dengan laksamana Artemisia dari Achemenia Persia dalam segi memimpin perang.

Pada saat tiap usai shalat maghrib di malam purnama ia suka berdiri berlama-lama mematung di pelabuhan menatap ke utara melintasi jutaan gelombang. Kepemimpinan Ratu Nahrasyiah selama menjadi Malikah Samudra Pasai terbukti telah berhasil membawa samudra Pasai menjadi negeri yang paling disegani di Asia Tenggara kala itu. Sedangkan di mata rakyatnya, ia adalah penguasa yang pemurah atau sering disebut dengan gelar Ra-Bakhsya Khadiyu (Penguasa yang Pemurah).

Hari ini usiaku telah mencapai seratus sebelas tahun dan menghabiskan sisa hidupku di Lembah Indus. Suatu hari aku mendengar khabar dari Abu Jalaluddin yang baru kembali dari Samudra Pasai bahwa Ratu yang dipertuan agung ini telah meninggalkan dunia fana ini menuju negeri keabadian pada hari Senin tanggal tujuh belas Zulhijjah tahun delapan ratus tiga puluhsatu Hijriah. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ampunan kepada para pemimpin kami yang salih, pemurah, adil, dan bijaksana. Amiin.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki