Liburan ke Tarim

Hadramaut, Yaman.

Karya Lodins

Dulu orang-orang Aceh menganggap buku Aceh 2025 hanyalah lelucon seorang sastrawan. Kini, setelah sembilan tahun Revolusi Putih terjadi, aku menatap langit di negeriku dan ternyata, khayalan yang dianggap dongeng itu telah lama menjadi kenyataan. 

Langit di atas Pelabuhan Udara Antarabangsa Cot Panggoi biru begitu cerahnya. Aku menatap laut yang beberapa tahun lalu mulai ramai kembali setiap harinya. Dua puluh kapal besar dan lima puluh kapal kecil selalu melabuh di pelabuhan dunia Krueng Geukueh itu. Terlihat bendera di kapalku terus berkibar. Walau dari kejauhan pun aku dapat melihat dengan jelas kapal bewarna putih berbendera merah. Bendera itu panjangnya 7 meter dengan lebar 5 meter. 

Warna air laut biru jernih disebabkan pencemarannya oleh perusahaan penjual gas alam Aceh telah berakhir. Besi dari kilang gas tersebut lima tahun yang lau telah dibongkar dan dileburkan kembali dan dijadikan tiang-tiang pelabuhan udara ini. Tempat ini berjarak sekitar tiga puluh menit jalan kaki dari rumahku yang berada di Kota Paloh Dayah bagian selatan.

Sejak Sembilan tahun lalu Aceh mulai merangkak hingga kuat berdiri di atas kakinya sendiri. Bukti-bukti tersebut telah dapat kita lihat dengan jelas seperti jembatan Banda Aceh-Sabang, tiruan Bab El-Yaman dan gedung pencakar langit berbentuk rincong kembar di kota Budaya Paloh Dayah, Bandar zaman sillam, gedung kesenian yang memuat sepuluh ribu pengunjung di Nagan Raya.

Di kota bergedung rincong kembar ini aku tinggal bersama istriku dan anak-anak kami, yakni yang sulung bernama Osman, adiknya Gulsen, dan Mehmet. Istriku adalah orang Istanbul. Wanita berambut pirang, berwajah berbentuk daun sirih, hidung mancung, dan berkulit putih kemerahan ini tidak pernah bosan membantuku dalam banyak hal terutama dalam mengurus dokumen-dokumen dagang. 

Namun ketika tahun pertama kependudukannya di Aceh, ia kesulitan mencari bahan-bahan dasar resep makanan sebagaimana di Istanbul. Tetapi ternyata itu tidaklah sesulit yang dikira Rania. Semua bahan yang dibutuhkannya untuk memasak gulai dan kue ada di Pasar Aceh, namun disebut dengan nama dan bahasa yang berbeda. 

Senja ini, Rania menyusun letak piring-piring masakan Turkinya. Meja berkaca hitam itu pun telah dipenuhi oleh kebab, sutlu kadaif, baklafa, dan hacizade atau orang Aceh menyebutnya meuseukat, dan beberapa jenis makanan lainnya.

Ini adalah tahun ketujuh ia menjadi guru besar bidang arsitektur dan sastra di universitas peradaban Hamzah Fansuri. Orang-orang Istanbul menyebut universitas ini dengan nama Makhad Almaqdis. Menurut professor Tenzen dari Jepang, universitas yang didirikan sejak tiga tahun sebelum Revolusi Putih di Aceh ini adalah organisasi pendidikan terbesar di Asia Tenggara di bidangnya. Pengakuan itu disampaikannya pada sebuah media antarabangsa di hari ilmu pengetahuan. Dalam acara tersebut Rania juga mendapat anugerah arsitektur dari kementrian arsitektural negara Jepang. Sebenarnya, selain membuka kelas sastra dan arsitek, universitas ini juga membuka kelas penelitian kelautan dan pelayaran, ilmu kelistrikan dan daya pembangkitnya, bio tekhnologi, ilmu kedoktoran, ilmu falak dan astronomi, ilmu pasti, dan lain-lain.

Pada hari perayaan tahun ke sembilan Revolusi Putih, permintaan akan kapal buatan Aceh meningkat hingga mencapai delapan puluh persen dari sebelumnya yang hanya enam puluh persen. Kini telah pun kapal-kapal buatan Aceh bertebaran di seluruh perairan Asia Tenggara. Untuk melakukan berbagai kepentingan, kami bekerja sama dengan perkumpulan pembuat kapal Istanbul dan Jepang. Semua hasil dari penjualan seluruhnya jadi kas kota untuk membangun fasilitas umum. Itu sesuai dengan yang digaung-gaungkan oleh para pelajar dan mahasiswa ketika Revolusi Putih terjadi.

Di kilang perusahaan pembuat kapal ini aku memeriksa kadar kekuatan kapal dengan beberapa tahap pemeriksaan. Di sini tugasku hanya memeriksa tahap akhir pembuatan dan sebagai kepala penjualan. 

Awan yang berarak ke arah barat terlihat lamban akan menjadi mendung. Malam ini Menteri Ekonomi Turki, Yilmaz Bey, menyerahkan piagam penghargaan pembaharuan ekonomi Asia Tenggara kepada "Tun Abdul Jalil Muhammad Yusuf." Itu adalah namaku. Aku bangkit naik ke panggung ruang akbar itu untuk menerima piagam tersebut. 

Ratusan pencari kabar dari berbagai negara mengarahkan alat rekam gambar ke arahku. Dalam pada itu aku berpesan, 

“Kita semua dilahirkan ke dunia untuk menyelesaikan suatu tugas yang mulia. Semua adalah yang terbaik, apabila belum melakukannya maka carilah guru terbaik dan anda akan menjadi yang terbaik.” 

Sebenarnya aku  tidak menyukai piagam apapun namun untuk menghormati aku hanya memajangnya di sebuah lemari di ruang yang jarang dilihat oleh orang lain. Dalam hal rendah hati aku sering mengingatkan anak-anakku untuk mengucap alhamdulilah apabila mendapat kebaikan dari orang lain dan melakukan kebaikan pada orang lain dengan tidak mengharap pujian dari orang yang kita tolong. Ratusan kembang api malam itu pun berhenti dan berganti dengan hujan gerimis membasahi kota Paloh Dayah yang terselimut oleh malam.

Pada bulan Zulqaidah beberapa tahun lalu, aku dan Rania ke Banda Aceh untuk menghadiri undangan peresmian jembatan Banda Aceh-Sabang. Ribuan rakyat telah lama hadir di bawah terik matahari menanti acara dimulai karena dihadiri oleh seluruh penyanyi Aceh dari Joel Pasee, Imum Jhon, Rafli, sampai Liza Aulia. Mereka hadir hanya untuk menyanyikan satu lagu yang berisi semangat kebangsaan dengan gaya Dombira. 

Di sepanjang jembatan tersebut dipasang seratus kamera pengintai yang berada lima puluh meter di kedalaman laut. Ada lima orang perancang jembatan ini. Rania termasuk salah seorang darinya. empat orang lagi adalah Diana Celvin bersama dengan suaminya James dari Inggeris, Anna dari Jerman, dan Sharife Hanem adik kandung isteriku. Rania mengatakan kepadaku bahwa dalam menyelesaikan jembatan ini, kesabaran dan ketereraturan kerja sangat diutamakan oleh dirinya dan tim. 

Melihat lebih banyak para wanita yang terlibat dalam pembuatan jembatan tersebut, seorang turis dari Belanda terheran-heran. Maka aku pun menjelaskan pada Lidya Hurgronje itu.

“Dalam Islam. Perempuan dan seni tidak dapat dipisahkan. Mereka lebih tahu. Namun yang menyelesaikannya adalah para lelaki. Apabila para lelaki tiada maka terpaksa kaum wanita harus menyelesaikannya,” kataku. 

Ucapan itu kutiru dari Ummul Naqib, seorang wanita penjual minyak Zaitun di sebuah kedai dekat Masjidil Aqsha, sebuah mesjid yang telah dibebaskan oleh Recep Tayyib Erdogan dari  rampasan Israel, tanah kedaulatan bangsa Palestin. Pengunjung wanita Belanda itu pun mangangguk pelan dengan mata menyipit. Setahunya, di Belanda, tidak ada persamaan hak antara kaum wanita dan kaum lelaki. Di negeri yang penghuninya bermental penjajah itu, perempuan adalah warga negara kelas dua.

Di bulan Rajab aku ke Bandar Zaman Silam untuk menambah pengalaman tentang sejarah dunia. Di sana aku bertemu dan berbincang-bincang dengan Zaid Hanafi, seorang lelaki yang berasal dari Pattani. Lelaki itu ditugaskan untuk mengurusi hal yang berkenaan dengan gajah dan kuda. Dua hari lalu ia telah menambahkan dua ekor gajah lagi di sini. Yang tertua bernama meurah sabil dan yang putih bernama meurah khan. 

Kuda-kuda yang baru ia titipkan di penampungan yang berada di utara danau Laut Tawar selama satu bulan supaya nantinya binatang itu bisa menyesuaikan diri dengan iklim di Bandar. Bandar ini merupakan perwujudan sebuah perpustakaan dalam bidang fisik sejarah kejayaan masa silam. Di sini aku berkeliling di antara replika istana Topkapi kekhalifahan Ottoman, istana Daruddunia kesultanan Aceh Darussalam, dan banyak istana negeri lain yang telah tinggal sejarah.

Pada suatu ketika, perusahaan pembuat kapal tempat kerjaku yang berkantor pusat di Bireuen memberikan cuti selama satu bulan. Aku manfaatkan waktu itu untuk berziarah ke makam buyutku di Yaman. Sebenarnya rencana ke sana sudah dari bulan Rajab namun terbentur dengan jadwal Rania yang sedang mengumpulkan hasil tesis para murid sastra di kampusnya.

Syukur, rencana ke Yaman pun akhirnya terlaksana. Rania dan aku ke sana di bulan Zulhijjah tahun ini. Kami menempuh perjalanan yang panjang dengan pesawat Siwah Airlines dari pelabuhan udara Cot Panggoi langsung ke Yaman. Sungguh sebuah perjalanan yang sangat melelahkan. Walaupun begitu, ketika sampai di Hadramaut, kami tidak menyewa kendaraan karena ingin berjalan kaki di gurun pasir. Namun itu pilihan bodoh karena kami harus berjalan kaki sejauh beberapa batu menusuri gurun dan lembah berbatu. Lebih parah lagi, kami tersesat. 

Kulit kaki kami sedikit terkelupas. Betapa panasnya saat butiran pasir masuk ke dalam sepatu. Untung di dalam tas Rania ada obat kebas sisa yang dipakainya untuk luka bakar kemenakan kami, kemarin. Obat itu seharusnya dimasukkan ke dalam tas yang satu lagi, tetapi karena terburu-buru ia memasukkannya ke dalam tas barang rias dan uang. Tuhan Maha Pengasih. Itu telah menyelamatkan kami hari ini. Dan akhirnya kami pun tiba di makam buyutku, Syeikh Shalih bin Makmur, di Tarim. Ada belasan orang di pemakaman tua itu. Dari bentuk tubuh, bahasa, dan pakaiannya, kuperkirakan mereka adalah penduduk negeri ini.

Gurun pasir ini sesekali diitiup angin kencang yang panas. Di langit ada beberapa ekor burung elang. Mereka terbang melintasi tempat kami duduk. Seorang penjaga kebun kurma yang kebetulan lewat mendekat. Begitu mengetahui kami datang dari Aceh, ia menghadiahkan sekeranjang buah-buahan manis yang dibawanya. Ia  menanyakan, buah apakah yang paling lezat di kampungku. 

Tiba-tiba saja, elang kulihat di langit tadi menukik turun mendekat dan hinggap di dekat kaki kami. Di dalam cengkraman kuku-kuku tajamnya ada sebuah durian ranum. Lalu, sebelum sempat kami menanyakan apapun, raja burung telah pun menjauh. 

Aroma durian yang lezat itu pun menebar bersama angin gurun. Lelaki itu menanyakan tentang bau apa yang tercium oleh hidung mancungnya. Rupa-rupanya ia belum pernah melihat durian sebelum ini. Aku mengambil buah berkulit duri itu dan membukanya. Kemudian kuberikan kepada lelaki yang mengenakan dirinya dengan nama Abi Muaz Umar tersebut. Aku memakan buah kurma itu, tanpa sengaja lengket di lelangit dan merihku. Melihat itu, Rania segera mengulurkan air mineral dari botol yang dibawanya.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki