Turki Kembali Jadi Idola Baru Negara Dunia

The-Ottoman-Empire-1299-1699.png. Foto: mapsof.net
 
Oleh Thayeb Loh Angen
Aktivis Kebudayaan, pengurus Sekolah Hamzah Fansuri.

Kemenangan Presiden Erdoğan dan AK Partisi (Adalet ve Kalkınma Partisi atau Partai Keadilan dan Pembangunan) dipercaya telah membangkitkan lagi rasa percaya diri umat Islam di seluruh dunia saat ini. Recep Tayyip Erdogan sebagai pemimpin AK Partisi dinilai telah berhasil mengangkat martabat Turki menjadi negara terhormat di mata dunia.

Tentang pengaruh Turki Baru bagi dunia, khususnya untuk penduduk muslim, tidak akan dibicarakan di sini karena itu telah banyak ditulis oleh orang ahli dari berbagai belahan dunia. Di sini kita lihat hubungan Turki dengan Aceh atau Asia Tenggara.

Kabar di media online tentang dongeng negeri Atlantik yang hilang dan bangsa Lamuria yang lenyap serta teori reka-rekaan bangsa Melayu oleh Malaysia yang muncul baru-baru ini nihil bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sebelumnya, sejarah yang dinilai serupa dongeng tentang Majapahit berkesan dipaksakan untuk dipercaya di buku sekolah dan universitas di Indonesia. Dari tahun ke tahun, sejarah Majapahit semakin lengkap disebutkan. Tidak cukup dengan itu, sandiwara radio dan film bersambung pun dibuat untuknya. Sementara tidak ada bukti apapun untuk khayalan tentang masa silam pulau Jawa tersebut.

Dongeng itu tidak akan mengubah sejarah Asia Tenggara bahwa pada kenyataannya ianya belum pernah melahirkan orang-orang yang menjadi pemimpin dunia bila dibandingkan dengan anak manusia dari belahan dunia lain.

Di antara sejarah itu, ada Sriwijaya, Negeri Lamuri, Kesultanan Samudra Pasai, dan Aceh Darussalam yang bisa menunjukkan bukti otentik. Setelah Islam masuk didakwahkan oleh utusan khalifah (diperkirakan utusan Khalifah Salahuddin Al-Ayyubi atau Ghuri bagian Persia India) ke Asia Tenggara, muncullah kafilah-kafilah orang Islam di Sumatra bagian Utara yang pusat peradabannya di utara Aceh.

Diyakini, setelah kafilah pendakwah Islam berhasil mempengaruhi penguasa setempat, mereka mendirikan kesultanan Samudra Pasai. Kemudian, agama Islam berkembang secara kuat dan menjadi agama resmi negara dan rakyat.

Menurut hasil penelitian terakhir yang dilakukan oleh Taqiyuddin Muhammad, seorang filsuf peneliti sejarah kebudayaan Islam, sultan-sultan di Samudra Pasai pun mengirim kafilah ke negeri-negeri di Semenanjung Melaka dan negeri-negeri di pulau Jawa serta ke negeri di pulau-pulau lain di nusantara. Karena inilah, sejarah Islam di nusantara dan Semenanjung Melaka terkait erat dengan Samudra Pasai.

Negeri-negeri tersebut mendaulat Negara Samudra Pasai sebagai ibukota Islam di Asia Tenggara. Setelah Samudra Pasai dan Melaka dan negeri Islam lain runtuh karena dikalahkan oleh Portugis, bangsawan Samudra Pasai dan Negeri Lamuri mendirikan Negara Kesultanan Aceh Darussalam yang ibukotanya berada di Banda Aceh, hujung utara pulau Sumatra.

Di belahan dunia lain, di tengah bumi, sesuatu yang besar masih terus berlangsung. Setelah dinasti Al-Ayyubi di barat tengah dan Guri di Turk timur, semenjak awal millenium kedua sampai awal abad 19 milinium kedua, Turki Usmani menjadi negara adidaya selama sekira tujuh ratus tahun.

Sebelum Turki Usmani, dicatatkan bahwa kekhalifahan Islam telah dipegang oleh orang Turki, semenjak Bani Saljuk dan Dinasti Mamluk, juga Al-Ayyubi. Disebutkan, setelah khulafaurrasyidin, hanya kekhalifahan Bani Umayyah dan Bani Abbasiah yang dipegang oleh orang Arab dan Persia. Ini menghasilkan kenyataan, kegemilangan dunia di bawah kekuasaan umat Islam yang begitu lama dipimpin oleh bangsa Turki.

Hanya sedikit data yang ditemukan untuk menyatakan bahwa Kesultanan Samudra Pasai pernah menjalin hubungan dengan Turki Al-Ayyubi atau Ghuri secara langsung, kecuali itu melalui orang-orang Baghdad (Persia) yang tersisa setelah dikalahkan oleh penakluk dari Turki Timur (Mongol), Jengis Khan. Saat  itu, Turki telah menjadi penguasa baru dunia yang berpusat di sekitar laut tengah. Sementara Eropa masih di dalam kegelapan, dan Amerika belum didengar namanya.

Kekuasaan bangsa Turki terhadap negara-negara lain di dunia dengan mengendalikan politik di semua benua, berakhir setelah ratusan tahun diserang habis-habisan oleh banyak negara Eropa yang Kristen, Perang Salib.

Itu berakhir dengan dihapusnya Kekhalifahan Turki Usmani yang berpusat di Istanbul, bagian Eropa, dan didirikan Republik Turki yang sekuler berpusat di Ankara, bagian Asia. Saat itu Eropa dan Amerika menjadi penguasa dunia. Mereka mendirikan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang diperkirakan meniru pola Turki Usmani tatkala memimpin dunia.

Setelah sekitar lima puluh tahun dalam masa keruntuhan dan sakit-sakitan dengan sistem pemerintahan sekulernya, kini Turki bangkit kembali, sebagai Turki Baru dengan membawa Islam di dalam idenya. Ini disambut dengan penuh harapan baik oleh sebagian besar penduduk Islam di banyak negara dunia.

Di alam bawah sadar penduduk bumi yang beragama Islam, masih menganggap Turki sebagai khalifah dunia dengan Istanbul sebagai ibukotanya. Memang, ingatan yang diwariskan itu hampir menghilang. Namun, Tuhan Yang Maha Kuasa mentakdirkan, menjelang ingatan itu benar-benar menghilang, ianya dijadikan kenyataan kembali. Allahu Ekber!

Dunia Islam pun percaya diri kembali dan dunia Barat penerus Perang Salib tersedak dalam kebingungan tatkala Recep Tayyip Erdogan muncul dengan kepala tegak gagah bersuara lantang sebagai pemimpin dunia yang baru dengan membela Islam sebagaimana Sultan Mehmet Al-Fatih Yang Agung, sang penakluk Konstantinopel.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki