Saifuddin Bantasyam: Air Bersih HAM dan Prasyarat Syariat Islam

Pemerhati HAM, Saifuddin Bantasyam, SH; MA, (kanan) bersama Kepala BP SPAM (Badan Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum Regional Aceh) Drs. Azhari Ali, MM. Ak (tengah) dan Teuku Zulkhairi (kiri) dalam Bincang Kebudayaan bertajuk "Solusi Air Bersih Untuk Aceh dalam Pandangan Kebudayaan dan Hak Asasi Manusia". Acara ini dilaksanakan oleh Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT) bersama managemen gedung Turki Sultan II. Selim ACC, Banda Aceh, Sabtu (27/6/2015).  Foto: Ariful Azmi Usman.

Banda Aceh - Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT) kemarin (27/6/2015) bersama managemen gedung Turki Sultan II. Selim ACC, Banda Aceh menyelenggarakan Bincang Kebudayaan bertajuk "Solusi Air Bersih Untuk Aceh dalam Pandangan Kebudayaan dan Hak Asasi Manusia".

Pemerhati HAM, Saifuddin Bantasyam, SH; MA, bersama Kepala BP SPAM (Badan Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum Regional Aceh) Drs. Azhari Ali, MM. Ak kemarin (27/6) menjadi pemateri.

Saifuddin mengatakan, pemerintah seharusnya menjadikan air sebagai pilihan utama dalam setiap program yang dijalankannya karena hal itu kebutuhan Hak Azazi Manusia (HAM). Air, kata Saifuddin, merupakan alat utama bersuci yang merupakan prasyarat ibadat wajib dan hal terpenting dalam penerapan syariat Islam.

"Air adalah sumber utama kehidupan makhluk hidup, tujuh hari kita tidak minum bisa meninggal, beda dengan makanan. Tapi kenyataannya saat ini masih banyak orang yang menganggap remeh akan hal ini," kata Saifuddin yang juga dosen Komunikasi Politik di FSIP Unsyiah.

Saifuddin Bantasyam berharap pemerintah agar bisa lebih memerhatikan kebutuhan utama ini. Karena akan melahirkan banyak permasalahan lain jika ini tidak diselesaikan dengan bijak.

"Warga bisa menggugat pemerintah di pengadilan jika pemerintah tidak mampu selesaikan persoalan air ini. Tapi juga, class action ini baru bisa dilakukan jika warga telah memiliki wawasan yang cukup dan bukti yang kuat yang bisa dibawa ke pangadilan. Penggunaan hak-hak sipil ini akan mempercepat terpenuhinya hak azazi warga untuk memperoleh layanan air bersih yang standar," tegas lelaki yang juga pakar politik dan hukum ini.

Pakar Air Bersih, Azhari Ali, mengatakan, dirinya telah tenemukan solusi untuk ir bersih supaya tersedia di seluruh Aceh. Azhari mengatakan, dirinya dipercaya menangani proyek air bersih di Aceh Utara, yang akan dijadikan pilot projeck untuk seluruh Aceh. Menurutnya, selama bertahun-tahun mengurusi air bersih, dirinya mendapatkan Aceh Utara dan Bireuen merupakan wilayah terbaik dalam hal mengurusi air bersih.

Sementara Banda Aceh, kata Azhari, sebagai pusat Aceh, saat ini memiliki sekitar ada 80 sekian persen pelanggan air bersih di kota Banda Aceh yang terdaftar di PDAM. Namun dari jumlah tersebut baru sekitar 52 persen air bisa digunakan secara baik di kota Banda Aceh, karena ada pelanggan-pelanggan yang sudah tidak aktif lagi dan ada yang belum mendapatkan air.

"Saya telah menulusuri, untuk Banda Aceh, Sungai Sarah bisa menjadi solusi untuk sumber air karena saat ini di Banda Aceh belum ada sumber air baku. Sungai Sarah lebih tepat untuk menjadi sumber air dan lagi ianya masih alami dan belum tercemar. Walau begitu pemerintah kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh besar harus mengkomunikasikan hal ini dengan baik. Karena sungai Sarah berada di wilayah Aceh Besar," kata Kepala BP SPAM.arfa
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki