Menziarahi Aliansi antara Aceh dan Ottoman

Bunga tulip di Istanbul, April 2014. Tulip adalah bunga yang dibudidayakan secara besar-besaran oleh Sultan Turki Usmani terutama pada masa pemerintahan Sultan Ahmed III. Bunga yang mekar pada musim semi (April) selama sebulan ini sekarang dipakai sebagai logo resmi Turkish Tourism. Foto. Nawawi

Oleh: Fira Al Haura
Mahasiswa, penulis muda Aceh.


Keindahan adalah sesuatu yang menawan mata. Begitu pula dengan Tulip yang menawan Sultan Kerajaan Ottoman Turki, suatu ketika. Begitu, menurut sejarah.

Jika musim semi datang di belahan Eropa sana, maka Belanda akan ditumbuhi dengan bunga-bunga yang menawan di April tiap tahunnya. Setangkai bunga yang sebenarnya adalah bunga nasional Iran dan Turki. Hingga akhirnya negeri kincir angin itu pun disebut dengan julukan bunga tersebut. Tulip, nama bunganya.

  Kata "tulip" sendiri berasal dari bahasa Turki yang artinya "surban", semacam kain yang dililit untuk menutupi kepala. Bunga liar yang tumbuh di kawasan Asia Tengah ini pertama kali dibudidayakan pada awal tahun 1000-an, pada masa pemerintahan kekhalifahan Ustmaniyah, terutama masa kekuasaan Sultan Ahmed III.

 Pada masa itu istana memiliki sebuah dewan khusus yang membudidayakan bunga-bunga tulip. Dewan itu dipimpin oleh seorang Turki yang juga merupakan kepala perangkai bunga istana yang tugasnya memberikan nama yang indah dan puitis bagi bunga-bunga tersebut. Seperti Those that burn the heart, Matchless Pearl, Rose of colored Glass, Increase of Joy, Big Scarlet, Star of Felicity, Diamond Envy, atau Light of the Mind. Inilah yang disebut Era Bunga Tulip. Barulah sekitar abad ke 16 tahun 1550-an tulip mulai dibawa ke Belanda oleh kapal-kapal yang berasal dari Istanbul.

 Di abad yang sama pula, Aceh yang jaraknya beribu-ribu kilometer dari Turki sedang dalam keadaan genting. Kejayaan Kerajaan Samudera Pasai telah runtuh. Akhirnya kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya membentuk federasi dan mendirikan kerajaan baru bernama Kerajaan Aceh Darussalam.

 Keadaan genting ini ditambah dengan datangnya tentara Portugis ke wilayah ini. Untuk itu, demi memperkuat posisinya di mata dunia, Kerajaan Aceh berinisiatif mencari dukungan pada kerajaan Islam yang terbesar di dunia, yaitu Turki Usmani atau yang dikenal dengan Dinasti Ottoman.

 Sultan ketiga Kerajaan Aceh Darussalam, yaitu Sultan Alaidin Riayat Syah al-Qahhar, mengirimkan utusan, di antaranya bernama Omar dan Hussain, untuk menemui pejabat Kesultanan Ottoman pada 7 Januari 1565 dengan membawa sejumlah besar komoditas berharga ke Konstantinopel. Peristiwa inilah yang disebut sebagai kisah ‘meriam lada secupak’.

 Beberapa abad setelahnya, perang antara Kesultanan Aceh melawan Belanda dimulai Pada tanggal 26 Maret 1873 Belanda menyatakan perang kepada Aceh dan mulai melepaskan tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal perang Citadel van Antwerpen. Pada 5 April 1873, Belanda mendarat di Pantai Ceureumen di bawah pimpinan Johan Harmen Rudolf Kohler, dan langsung menguasai Mesjid Raya Baiturrahman.

 Perang ini pecah karena Belanda merasa ketakutan terhadap kebijakan Aceh yang mengadakan hubungan diplomatik sebagai akibat perjanjian Sumatera 1871 dengan Konsul Amerika Serikat, Kerajaan Italia dan Kesultanan Usmaniyah di Singapura. Aceh juga kembali mengirim utusan ke Turki Usmani. Upaya diplomatik inilah yang menjadi alasan Belanda menyerang Aceh karena dikhawatirkan pengaruh Aceh di seputar Selat Melaka menguat kembali. Wakil Presiden Dewan Hindia Frederik Nicolaas Nieuwenhuijzen dengan dua kapal perangnya datang ke Aceh dan meminta keterangan dari Sultan Mahmud Syah tentang apa yang sudah dibicarakan di Singapura itu, tetapi Sultan Mahmud menolak untuk memberikan keterangan. 

 Sehubungan dengan invasi Belanda ini kembali menguatkan hubungan antara Aceh dan Ottoman. Ini menjadi faktor pendorong bagi elit penguasa Aceh untuk menghidupkan kembali hubungan lama dengan Dinasti Ustmani dan berupaya untuk bergabung atau berbagi hak teritorial dengan supremasi Ottoman. Upaya Aceh mengirim utusan ke Konstantinopel melalui serangkaian kunjungan mendapat sorotan bukan hanya dari beberapa media di Konstantinopel tetapi juga menyebabkan Perang Belanda menjadi isu politik internasional.

 Begitulah masa lalu menuangkan hubungan segitiganya. Belanda dan Turki dihubungkan dengan indahnya Tulip. Aceh dan Belanda yang berdarah dalam perangnya. Serta Turki dengan kisah ‘meriam lada secupak’nya dengan Aceh.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki