Mensyari’atkan Olahraga

 
Woroud Sawalha (kanan berjilbab), pelari 800 m di Olimpiade London 2012. Ia kelahiran 3 November 1991 di Asira ash-Shamaliya, Nablus, sebuah kampung berpenduduk kurang dari 10 ribu jiwa di Tepi Barat utara Palestina. Foto: palestinalibre.org
 
Oleh Muhammad Zulkausar Barazy

Dalam kesehariannya kata olahraga sering kali didengar. Olahraga sendiri pun telah menjadi aktifitas keseharian yang akrab ditubuh juga lingkungan kita. Dimana-mana, tidak pagi juga sore setiap orang sering melakukan kebiasaan yang menyehatkan ini. Di lapangan-lapangan umum, di sekolah-sekolah, di kantor-kantor dan sebagainya, Olahraga pernah kita dapati.

 Secara umum pengertian olahraga adalah sebagai salah satu aktivitas fisik maupun psikis seseorang yang berguna untuk menjaga dan meningkatkan kualitas kesehatan seseorang tersebut. Menurut Cholik Mutohir olahraga adalah proses sistematik yang berupa segala kegiatan atau usaha yang dapat mendorong mengembangkan, dan membina potensi-potensi jasmaniah dan rohaniah seseorang sebagai perorangan atau anggota masyarakat berupa permainan, pertandingan, dan prestasi puncak dalam pembentukan manusia yang memiliki Ideologi yang seutuhnya dan berkualitas berdasarkan Dasar Negara atau Pancasila.

Dalam ajaran Agama Islam sendiri pun olahraga telah pernah disinggungkan tentang kebaikannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih Allah cintai daripada mukmin yang lemah. Dan pada masing-masingnya terdapat kebaikan. Bersemangatlah terhadap perkara-perkara yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau bersikap lemah.” (HR. Muslim).

 Kekuatan disini merupakan pengertian dari seorang mukmin yang sehat akan iman juga jasmaninya. Sehat jasmani ini dapat ditemukan dari olahraga, yang dengan berolahraga yang baik akan membawa dampak positif juga pada diri kita dikemudian harinya. Dan apabila kita merenungkan petunjuk dari Rasulullah shallallahu alaihi wai saallam di dalam hal itu, maka kita akan mendapatkan petunjuk yang lebih sempurna dan dapat menjadi penjaga kesehatan dan kekuatan yang bermanfaat di dalam kehidupan dan di hari kebangkitan (kiamat) kelak.

 Akan tetapi jika di amati dewasa ini, banyak olahraga-olahraga yang memang menyehatkan jasmani, namun sayang tidak demikian dengan kesehatan imannya. Kesehatan jasmani lebih banyak diutamakan tanpa diiringi dengan keimanan, bahkan tak jarang keimanan harus tergadaikan dengan lebih mementingkan olahraga yang sedang coba ia geluti tersebut.

 Berbagai olahraga juga even disekitar banyak kita dapati akan pelanggaran atas keimanan ini, keefesienan waktu yang seharusnya merupakan saat untuk sejenak menunaikan kewajiban harian sebagai hamba-Nya harus tergantikan dengan lebih mementingkan acara itu terlaksana dengan baik dan cepat daripada harus berwudhuk untuk melaksanakan beberapa gerakan tanda kesyukuran kita atas nikmat yang telah Ia berikan.

 Juga tak pelak sering didapati pula olahraga yang jelas-jelas sering mempertontonkan aurat yang terbuka bagi setiap dipelakunya. Saat sedang melakukan kegiatan menyehatkan ini sering pusat juga lutut sebagai aura dari kaum laki-laki ini terlihat. Dari Jarhad radhiallahu ‘anhu, dia berkata Rasulullah Saw Bersabda : “Rasulullah Saw duduk bersama kami, sementara pahaku tersingkap. Lalu beliau berkata: “Tidak tahukah engkau bahwa paha itu adalah aurat?” HR Abu Daud (4014). Hadits shahih.

Di dalam riwayat lainya, At Tirmidzi (2795) disebutkan: “Sesungguhnya paha itu adalah aurat”. Apalagi kaum hawanya, pakaian yang hanya membalut ketat tubuh mereka dengan jelas telah memberikan pandangan yang tak mencerminkan budaya keIslamannya dan ditambah dengan rambut yang tergerai terbuka tanpa kerudung.

 Saat semua itu terpampang, mereka-mereka para pelaku ini dengan nyamannya mengatakan itu semua untuk lebih membuat diri mereka lebih leluasa juga nyaman saat olahraga sehingga memberikan hasil yang maksimal nantinya. Sungguh kepentingan akan sesaat lebih diutamankan daripada kewajiban yang sesungguh sebagai kewajiban hamba atas kehidupan yang telah Allah Swt berikan.

 Di daerah yang terkenal sebagai Serambi Mekah ini, hal tersebut tak menutup kemungkinan akan kita temukan. Padahal daerah yang dijuluki juga sebagai Tanah Para Aulia ini telah mempopulerkan semboyan Syariat Islam sebagi hukum kedaerahannya. Di setiap sudut kota serta pembicaraan masyarakat lagi-lagi Syariat Islam terus dikumandangkan sebagai hukum yang harus terus dijalankan.

 Namun sayangnya, penegakannya pun belum merata. Disana- sini masih saja kita dapati kemaksiatan atas pelangaran dari hukumnya. Zina ditemukan dimana-mana, perjudian terus tumbuh di sudut-sudut kota dan korupsi pun tak ayal sudah jadi mendarah daging disetiap pergerakannya.  Tragisnya kesalahan itu semakin meraja lela hingga terus berjamur sampai kegiatan olahragapun telah menjadi biangnya pelangaran Syariat Islam.

 Perjudian saat olahraga juga sering mewarnai daerah ini, tak di kampung-kampung, di kota-kota pun penyakit iman ini sudah sering kita jumpainya, padahal yang awal-awal  berolahraga untuk menyehatkan tubuhnya nyatanya hanya berujung dengan kebrobrokan akhlak, jadilah kesehatan jasmani yang ia dapati dari olahraga itu tidak membawa berkah bagi si pelaku.

 Untuk itu, kita sebagai ummat muslim, sebagai orang yang mempunyai adat dan istiadat yang luhur, juga kita sebagai orang yang mempunyai peradaban Islam yang tinggi, sudah sepantasnyalah kita memberi contoh yang baik dengan merubah kerusakan itu semua. Janganlah kita terlalu mengesampingkan hal-hal sepele ini atas memalingkan diri kita dari kenyatakan hidup yang sesungguhnya, bahwa  banyak sekali penyelewengan akan norma-norma agama Islam dari keseharian berolahraga kita ini.

 Oleh sebabnya, dalam menyambut POMNAS (Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional) dan Aceh daerah Serambi Mekah sebagai tuan rumah dalam penyelegaraannya tahun ini, sudah sewajibnya kita dari pemerintahan juga seluruh lapisan masyarakat dapat menyajikan budaya keislaman disetiap lininya, tak terkecuali dengan even olahraga ini.

Tampakkanlah bahwa kita benar-benar daerah yang menjunjung tinggi nilai Syariat Islam sebagai landasan hukum kesehariannya termasuk berolahraga. Setiap tingkah yang kita lakukan sesuai dengan ajaran-Nya, sehingga semboyan Aceh sebagai “Serambi Mekah” pintu menuju Mekkah tak hanya menjadi isapan jempol belaka dikalangan luar sana, yang namun akan terus menjadi pedoman bagi mereka daerah lainnya dalam menerapkan panji-panji keislaman di keseharian mereka. Karena sesungguhnya ajaran Islam itu bukan ajaran yang kaku bagi umatnya yang namun ajaran Rahmatan Lil ‘almin, ajaran yang dapat membawa kebahagiaan di dunia juga di akhirat.


Muhammad Zulkausar Barazy, peserta Kelas Sastra dan Perkabaran Sekolah Hamzah Fansuri.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki