Melawan Radikalisme

Rahmatullah Yusuf Gogo (dua dari kanan), di komplek Baiturrijal (Kandang XII) bersama rekan-rekan SHF (Sekolah Hamzah Fansuri dan Mizuar Mahdi Al-Asyi Rumi Duta Nisan Aceh, Mei 2015. Foto: Muhajir.

Oleh: Rahmatullah Yusuf Gogo

Sejak fenomena ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) muncul ke permukaan, masyarakat Indonesia salah satu yang menerima efek dari fenomena tersebut. Tidak sedikit orang yang berasal dari negeri ini bergabung dengan ISIS di Suriah, bergerilya di sana demi tercapai ideologi mereka untuk membentuk sebuah negeri Islam (Daulah Islam) yang mereka sebut dengan Khilafah.

Sepak terjang ISIS untuk membentuk Negara Islam Iraq dan Suriah sudah menjadi perhatian dunia belakangan ini, ISIS sedang mengusung ideologi lama di abad modern ini, yaitu membentuk Daulah Islam di semenanjung Iraq dan Suriah. Awal dari pergerakan ISIS mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan umat muslim dunia, karena Islam pernah berjaya di masa Daulah Islam Umayyah yang berpusat di Damaskus dan Daulah Islam Abbasiyah di Baghdad. Maka sangat mungkin ketika Daulah Islam berdiri lagi di masa kini, kejayaan seperti di masa silam akan kembali.

Semangat ini telah memepengaruhi umat Islam saat ini untuk bergabung dengan ISIS dalam membangun Daulah Islam. Negara-negara barat atau eropa yang penganut Islam masih sangat minoritas malah banyak sekali yang menyebrang ke Suriah dan Iraq untuk berjuang membangun Daulah Islam.

Semangat Daulah islam ISIS juga sampai ke Indonesia, namun hal ini bukan sebuah kejutan ketika ada simpatisan ISIS yang berasal dari Indonesia berjuang membangun Daulah Islam di Iraq dan Suriah. Selain karena Indonesia komunitas muslim terbesar di dunia, negara Indonesia juga hampir menjadi sebuah Negara Islam pada masa kemerdekaan yang dikenal dengan DI (Darul Islam) atau NII (Negara Islam Indonesia) yang dideklarasikan oleh SM Kartosoewirjo pada tahun 1949.

Namun ideologi Darul Islam Kartosoewirjo tidak kunjung terwujud, karena Kartosoewirjo dianggap pemberontak oleh pemerintah Indonesia dan harus diperangi dan ditangkap hidup atau mati. Setidaknya masyarakat Indonesia telah mengenal Ideologi sebuah Negara yang berlandasan syariat Islam yang berasal dari negaranya sendiri, bukan barang baru ketika Ideologi itu muncul di belahan dunia arab saat ini.  Dan itu sangat memudahkan bagi Warga Negara Indonesia untuk bergabung kesana.

 Ideologi Daulah Islam ISIS lambat laun mendapat sorotan dari berbagai penjuru dunia, karena ideologi yang diususng ISIS sarat radikalisme dan kebrutalan. Ulama-ulama mulai ragu bahkan tidak percaya sama sekali dengan Daulah Islam yang hendak dibangun oleh ISIS, karena banyak tawanan dan orang yang disandera oleh ISIS dieksekusi secara tidak tidak manusiawi.

Individu-individu dan kelompok-kelompok yang tidak mau berbai’at (mengucap janji setia) kepada ISIS harus dibunuh dan dan dihukum mati. Orang-orang kafir dan Nashrani harus keluar dari zona yang dikuasai ISIS karena hanya mereka tetap teguh dengan agama yang dianutnya.

Hal ini sangat bertolak belakang dengan Daulah Islam yang pernah berjaya di masa silam, dimana masyarakat hidup tenteram dan sejahtera dibawah naungan khalifah Islam. Masyarakat non muslim tetap hidup aman di bawah naungan Islam dengan syarat membayar upeti. Hal ini tidak berlaku dalam Daulah Islam ISIS yang sarat radikalisme dan mulai terancam keberadaanya.

 Bagi pemerintah Indonesia dan negara-negara yang lain seharusnya sedang dalam “Warning Ideologi” yang dibangun dan disebarluaskan oleh ISIS dan simpatisannya. Buktinya, bisa dilihat dalam beberapa hari yang lalu, 16 warga WNI (Warga Negera Indonesia) hilang di Turki sampai sekarang belum ditemukan yang disinyalir bergabung dengan ISIS.

Tidak berapa lama setelah itu Pemerintah Turki melansir telah menangkap 16 WNI yang hendak menyebrang ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS. Lalu pemerintah Indonesia mengklarifikasi ternyata ke 16 WNI yang ditangap itu bukanlah WNI yang hilang di Turki.

Memang belum dapat dipastikan 16 WNI yang hilang ersebut bergabung dengan ISIS, namun apabila itu benar ternyata tidak butuh waktu lama untuk memastikan 32 masyarakat Indonesia sudah terperangkap dalam ideologi Daulah Islam yang sarat radikalisme yang digembar-gemborkan oleh kelompok ISIS.

 Pemikiran atau ideologi yang dibawa ISIS tidak asing bagi Indonesia, SM. Kartosoewirjo telah mendeklarasikan Negara Islam Indonesia (NII)/Darul Islam (DI) dan memiliki Tentera Islam Indonesia (TII) yang tersebar luas di Indonesia, termasuk Aceh yang dikendalikan oleh Teungku Daud Bereueh. Ideologi yang dibawa SM Kartosoewirjo dianggap sebuah ideologi “haram” oleh pemerintah Indonesia. Karena pemerintah Indonesia takut apabila ideologi pancasila diganti oleh ideologi Darul Islam atau Negara Islam Indonesia SM Kartosoewirjo. Di mana hukum yang mengatur segala aspek kehidupan masyarakat Indonesia berdasarkan al-Quran dan Hadits.

 Pemerintah Indonesia bereaksi keras waktu itu, SM Kartoewirjo dan Tentera Islam Indonesia harus diburu sampai ke gunung. Padahal pengikut DI/TII tidak sebrutal tentera ISIS masa sekarang yang suka menjarah, menghancurkan dan memenggal orang yang tidak berbaiat (mengikuti) mereka. Sangat jelas ideologi yang dibawa oleh SM Kartosoewirjo lebih menjunjung nilai-nilai Islam, membangun Negara Islam tanpa harus mengedepankan kekerasan. Maka banyak orang yang bergabung dengan TII waktu itu karena keyakinan mereka untuk memebentuk Negara Indonesia menjadi Negara Islam berdasarkan hukum-hukum yang tertera di dalam al-Quran dan Hadits.

 Bagi pemerintah Indonesia dari dulu sampai sekarang, sepertinya akan terus menerus “mengaharamkan” ideologi sebuah Negara yang berdasarkan hukum Islam dan mengucilkan pembawa ideologi tersebut. SM Kartoesuwirjo sebagai proklamator Darul Islam dieksekusi mati di pulau yang asing dengan masyarakat, dan kuburannya dikaburkan agar tidak seorang pun bisa berziarah ke kuburan tersebut.

 Dengan begitu ideologi yang dibawa Kartosoewijo tenggelam dan tidak pernah muncul lagi ke permukaan. Tapi ideologi Kartosoewirjo dkk tidak menghilang begitu saja sepeninggalnya sang pembawa Ideologi tersebut. Panglima DI/TII waktu itu langsung beralih ke tangan Teungku Daud Beureueh yang masih bergerilya di hutan belantara Aceh. Walaupun beberapa pengikut pentingnya waktu itu telah turun gunung dan menyerah kepada pemerintah Indonesia, seperti Hasan Saleh. Namun tidak bagi Teungku Daud Beureueh yang masih keukeuh dengan Ideologi Darul Islam Kartosoewirjo. Bahkan Gaus Taufiq-wakil Kartosoewirjo daerah Jawa Barat turut menyeberang pulau ke Sumatera untuk melanjutkan perjuangan di bawah komando Teungku Daud Beureueh.(Dr. Husaini Hasan: dari Rimba Aceh ke Stockholm, 2015).

Maka jangan heran ketika ideologi serupa muncul di Indonesia walaupun kali ini “serangan” ideologi itu muncul dari negeri Syam bukan dari dalam negeri sendiri. Namun pemerintah Indonesia sudah begitu resah dan terlihat sangat ketakutan.

Bisa dilihat kasus ISIS dengan keterlibatan beberapa Warga Indonesia, lebih hebat isunya dari pada kasus pelemahan KPK dengan mengkriminalisasi hampir seluruh pimpinan KPK, ekonomi Indonesia yang sedang kacau, nilai tukar rupiah yang semakin melemah per Dollar AS, naik turun harga BBM yang terjadi beberapa kali dalam kurun waktu satu bulan, Peraturan Presiden Jokowi menaikkan tunjangan DP mobil pejabat pemerintah setelah beberapa hari harga BBM dinaikkan, di mana pejabat semakin menikmati kesejahteraannya sedangkan rakyat jelata semakin melarat. Dan terakhir pemerintah melalui Menkominfo membungkam situs-situs Islam yang diklaim situs tersebut menyebarkan paham radikalisme.

Pemerintah Indonesia boleh-boleh saja takut warga Indonesia terpengaruh dengan ideologi ISIS yang sarat radikalisme, ketakutan ini bisa jadi karena warga Indonesia yang telah bergabung dengan ISIS suatu saat pulang lagi ke Indonesia lalu paham radikalisme di sana disebarluaskan di Indonesia. Lalu akan memunculkan gerakan itu di Indonesia, di mana pemerintah Indonesia sangat “mengaharamkan” Ideologi itu yang telah muncul di era SM. Kartosoewirjo.

Walaupun ideologi Darul Islam kartosoewirjo jauh berbeda dengan ideologi Daulah Islam ISIS yang sarat radikalisme. Namun ketakutan itu tidak seharusnya membungkam situs-situs Islam yang belum teruji menyebarkan paham radikalisme. Ini merupakan suatu pelanggaran yang dilakukan pemerintah, melawan pemikiran radikalisme dengan cara yang tidak patut, dengan melanggar hak-hak asasi warga Negara.

Situs-situs berita Islam dan dakwah diblokir sedangkan situs-situs pornografi, judi dan situs yang bertentangan dengan Islam lainnya dibiarkan saja oleh pemerintah. Saya melihat benih-benih Islamophobia mulai terlihat di negara yang manyoritas umat Islam, ini sebuah ironi dan sangat memilukan. Wajar-wajar saja bila Islamophobia muncul di Inggris, Perancis, dan Negara Eropa lainnya untuk menghambat pertumbuhan umat muslim di sana.

Namun apa jadi Islamophobia muncul di Negara penganut Islam terbesar di dunia. Padahal jumlah warga Indonesia lebih sedikit yang bergabung dengan ISIS bila dibandingkan dengan warga Negara Inggris dan Eropa lainnya.

Saya tidak ingin beranggapan pemerintah Indonesia sedang membesar-besarkan isu ISIS sebagai kesempatan untuk menutupi isu beberapa kebijakan dan keputusan-keputusan kontroversialnya belakangan ini. Juga tidak ingin beranggapan pemerintah sedang mengambil kesempatan untuk menjatuhkam media-media Islam yang memang tidak menyebarkan paham Radikalisme. Apapun itu, silahkan pemerintah Indonesia dan kita sama-sama harus melawan radikalisme, karena radikalisme akan mengancam keberadaan manusia.

 Namun, melawan radikalisme tentu harus dengan cara yang bijkasana, tidak sebelah pihak dan merugikan orang banyak. Mengenai pembungkaman media Islam di Indonesia, Pemerintah sudah seharusnya mencabut pemblokiran dan kembalikan media-media Islam, biarkan Warga Negara Indonesia menggunakan hak-haknya dan berkarya di negera mereka sendiri.

 Pemerintah harus melawan radikalisme dengan cara yang bijaksana. Siapapun kita, tentu sepakat untuk melawan pemikiran yang sarat radikalisme, tapi tidak dengan cara mengorbankan media-media Islam dan hak-hak warga Negara. Karena bukan tidak mungkin usaha pembungkaman media Islam yang belum tentu menyebarkan paham radikalisme, justru akan menjadi awal munculnya media yang betul-betul akan menyebarkan paham radikalisme tersebut.

Rahmatullah Yusuf Gogo, peserta Kelas Sastra dan Perkabaran Sekolah Hamzah Fansuri.
 
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki