Masrur Budidayakan Lele Sangkuriang



Petak tanah itu tidak terlalu luas, ia hanya beberapa meter saja, dan tempatnya juga tidak terlalu jauh dengan lalu lalang warga. Setiap warga yang melewati tempat tersebut terlihat penasaran akan tempat yang mereka lewati itu. Mereka selalu bertanya, apa yang dilakukan seorang pemuda ditempat tersebut setiap hari, kadang-kadang sampai sore.

Suatu siang pada April 2012 lalu, seorang warga yang telah lama mengawasi pemuda tersebut bertanya.

“Apa yang kamu lalukan disini wahai anak muda, setiap hari aku melihat kamu disini bekerja membersihkan lahan dan membuat petakan seperti itu?” tanya lelaki berusia 60 tahun itu sambil menunjuk kearah petakan kolam yang sedang dibuat oleh pemuda tersebut.

“Saya sedang membuat petakan kolam yang akan saya gunakan sebagai budidaya lele, Pak. Mungkin warga dan bapak penasaran apa yang sedang saya lakukan setiap hari disini, dan juga warga merasa asing dengan kedatangan saya di gampong Doy karena saya tidak berasal dari gampong ini, saya hanya mengolah lahan yang diberikan oleh kedua orangtua saya,” jawab pemuda berusia 26 itu.
***
Pemuda tersebut bernama Masrur. Is salah seorang mantan aktivis IAIN Ar-Raniry yang tengah menguliti bisnis perikanan khususnya budidaya lele sangkuriang di Gampong Doy Ule Kareng. Bisnis budidaya yang diguliti ini, ia rintis sejak tahun 2012, dan bisnis ini tidaklah berjalan lancar seperti yang dipikirkannya.

Pria yang hanya menempuh 14 semester di Fakultas Dakwa IAIN Ar-Raniry (UIN Ar-Raniry) tetap semangat menguliti bisnisnya meskipun lelenya lebih banyak yang mati dikarenakan pengetahuan yang ia miliki sangat terbatas saat itu.

“Namun saya bertekad tetap bertahan dibisnis lele ini,” ujar Masrur.

Bisnis yang digeluti oleh Masrur ini berawal dari hobinya saja.

“Modal awal bisnis budidaya ikan lela sekitar 500.000,” katanya.

Selain petak kolam yang ia miliki di lahan tersebut, Masrur juga memiliki sebuah gubuk dibelakang kolamnya yang berukuran 2x2 meter. Dinding gubuk tersebut dibuat dari bambu yang dipasang agak renggang untuk menunjang sirkulasi udara, atap gubuk disusun dengan daun rumbia dan lantai gubuk sangat sederhana hanya beralasankan tanah.

Di gubuknya juga terdapat dua unik mesin pellet apung, sebagai media untuk melanjutkan bisnis budidayanya yang diletakkan di sudut-sudut gubuk tersebut. Mesin itu dipakai hanya untuk menggiling pelet-pelet yang akan diberikan kepada lelenya.

Pemakaian mesin tersebut sangatlah mudah, dengan meletakan pelet yang akan digiling kedalam mesin dan akan dihancurkan dengan sendirinya oleh mesin tersebut, untuk meminimalisir modal usahanya dia memanfaatkan pakat alami (seperti perut ayam dan bebek) setelah pelet tergiling Masrur langsung membagi pelet tersebut dalam beberapa tempat untuk beberapa petak kolam yang telah berisikan lele sangkuriangnya.
***
Beranjak dari tiga kolam, sekarang ia telah memiliki 23 kolam, masing-masing kolam berkapasitaskan bibit sekitar 3000 ekor.

“Sebanyak 3000 ekor lele yang saya masukkan ke dalam kolam tersebut tidaklah semua bertahan hidup, 20% dari lele akan mati dengan sendirinya, dikarenakan oleh beberapa alasan,” ujar Masrur.

Dalam membudidayakan lelenya, Masrur tidaklah sendiri, dia dibantu oleh beberapa rekan kerjanya yang statusnya sama dengannya. Mereka bekerja tidaklah dibiayi oleh Masrur, mereka membantu dengan suka rela.

“Awalnya kami hanya melihat dan memperhatikan saja apa yang Masrur lakukan, bagi kami bisnis yang digeluti oleh Masrur tidak begitu menarik perhatian kami, sehingga kami tidak memperdulikannya, akan tetapi seiring berjalannya waktu kami menemukan titik kecerahan dari bisnisnya, tersirat dibenak kami untuk membantunya dengan senang hati sambilan kami juga belajar untuk meniti karir seperti dia,” ujar Dani, rekan kerjanya.

Banyak kendala yang dihadapi oleh Masrur dalam merintis budidaya lele sangkuriang ini, salah satunya yaitu pakan terlalu mahal tidak sebanding dengan hasil penjualan lele yang dia dapatkan. Akan tetapi, itu bukan suatu masalah yang begitu berarti bagi Masrur. Walaupun harga pakan yang begitu melunjak, dia masih bertekad untuk melanjutkan bisnisnya itu.

“Pakan bukanlah masalah bagi saya, walaupun harganya begitu mahal, saya mempunyai inisiatif sendiri untuk membuat pakan alami, baik itu dari perut ayam maupun bebek juga saya menggunakan perut ikan-ikan besar,” kata pria yang berusia 29 tahun ini.
***

Trik yang diberikan Masrur untuk memulai usaha atau bisnis budidaya lele yaitu, siapkan mental, tekad yang kuat, pantang menyerah, dan putus asa, jika ada masalah jangan mengeluh, akan tetapi cari solusi dengan menanyakan kepada sang ahli dalam budidaya perikan, serta hadapi semua kendala agar kedepan menjadi lebih baik dan sukses.

Untuk pemerintah setempat, setidaknya memperhatikan kesejahteraan masyarakat, setidaknya budidaya yang telah dilakukan oleh masyarkat setempat mendapatkan perhatiaan khusus dalam hal penjualannya. Lele yang dihasilkan setidaknya dapat di ekspor keluar aceh sehingga dapat mengharumkan nama Aceh.

 
Ditulis oleh: Dasma Susanti
Editor: Fira Zakia
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki