Mapesa Menjelang Puasa di Kota Al-Kahar


Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh) mengadakan acara perpisahan menyambut bulan puasa tahun ke 1436 hijrah nabi, Jumat 12 Juni 2015, di Kedai Pantai Cermin, Banda Aceh. Foto: Thayeb Loh Angen.


Oleh Thayeb Loh Angen

Kami berada di atas kedai berlantai papan. Dari sini bisa melihat laut melalui mulut kuala yang kini dangkal di hujung Krueng Neng, Kuala Cangkoi, Gampong Blang, Banda Aceh, 12 Juni 2015. Tempat kami berada ini dekat dengan tugu Ikrar Lamteh.

Di sanalah anggota Daud Beureueh menyatakan diri kembali menjadi warga negara RI yang punya sistem anti agama. Itu sebuah peristiwa sejarah di Aceh yang kemudian dikutuk-kutuk oleh orang yang suka menghakimi masa silam.

Kedai ini mengapung di atas air. Tiang-tiang betonnya ditancapkan ke tanah berlumpur. Kalau siang hari, akan terlihat pulau Weh di Utara, ada perahu-perahu yang melintas. Namun apabila malam seperti ini, hanya tampak lampu jingga di perahu nelayan dari kejauhan.

Lampu remang-remang berwarna merah, kuning, hijau, dan putih di kedai ini membangkitkan rasa romantisme bagi pengunjung, apalagi yang terbanyak terlihat adalah pasangan muda-mudi. Kedai ini memiliki beberapa bagian yang ketinggiannya berbeda.

Di atas pintu yang menjurus ke beranda yang dari sana terlihat langsung babah kuala (Kuala), tertulis "Kawasan Syariat Islam". Tulisan itu menegaskan bahwa yang dilarang oleh yang telah menerapkan Syariat Islam juga dilarang di kedai ini.

Pengurus kota beranggapan bahwa pelanggaran syariat Islam itu sebagaimana yang ikut disebut di kedai ini, seperti berzina dalam berbagai tingkatan. Pemerintah belum menganggap makan riba, korupsi, mengambil fee proyek atau mengambi gaji tanpa berkerja bagi PNS, dan sebagainya adalah pelanggaran syariat, walaupun mudharatnya untuk umat jauh lebih besar.

Ada media mengabarkan bahwa penerapan syariat di kota ini masih seperti menebang pohon di hutan, sebagian ditebang sebagian dibiarkan. Apabila pelangar syariat Islam yang ditangani pemerintah adalah masyarakat kecil, niscaya akan dihukum. Media itu mengabarkan bahwa ada rahasia umum tentang kejadian menggelikan di kota yang pemimpinnya mendakwahkan berzikir dengan suara nyaring dan beramai-ramai ini.

Beberapa tahun lalu, ada seorang penjabat kota yang berusia muda dan seorang separuh umur yang dekat dengan pemimpin di wilayah ini dikabarkan ditemukan berzina, akan tetapi tidak dihukum. Semoga Allah Ta’ala segera menghadirkan pemimpin yang adil untuk kota ini sebagaimana Sultan Al-Kahar Yang Agung dan Sultan Iskandar Muda Yang Adil.

Di sisi lain, sebagian penduduk kota ini mempermasalahkan banyak hal yang tidak kunjung selesai, namun di antara waktunya yang jarang berada di dalam wilayah, walikota mengurus hal yang sebenarnya bisa diurus oleh seorang kepala keluarga atau kepala dusun.

Air bersih tidak merata di kota ini, kalau air bersih tidak merata bagaimana orang bisa bersuci dengan baik dan sempurna? Begitupun listrik sering dipadamkan tanpa pemberitahuan. Kadang listrik dipadamkan di saat shalat magrib sehingga mengganggu kenyamanan beribadah umat Islam sebagai penduduk terbanyak kota ini.

Kedua masalah mendasar kebutuhan manusia ini, air bersih dan daya listrik yang cukup, tidak disebut sebagai pelanggaran syariat. Hak asasi manusia penduduknya belum terpenuhi.

Pemahaman pemerintah tentang syariat Islam di kota ini seperti pemahaman anak-anak tentang shalat, yakni meruku’ sujud dan sebagainya disertai mulut komat-kamit, tidak tahu apa yang harus dibaca apalagi dihayati, serta membaca kata ‘amin’ dengan nyaring. kota ini butuh cendikiawan yang tulus untuk mengurusi banyak hal.

Tulisan di atas pintu kedai tadi pun tidak mencegah pasangan tanpa ikatan nikah untuk bermesra-mesra sebagaimana yang telihat malam itu. Sementara di tengah kota, saat menuju ke kedai ini, kami melihat ada ribuan orang berpakaian putih duduk menghadap panggung pertunjukan zikir di lapangan Blang Padang. Mereka mengkuti zikir bersama yang didukung walikota, sebuah majelis yang lebih terlihat seperti pertunjukan panggung paduan suara melafazkan zikir dan nyanyian nazam.

Tulisan di pintu tadi lebih berkesan bertujuan apabila di kedai ini terjadi hal yang dilarang oleh orang-orang yang menganggap diri mereka sebagai ‘tangan Tuhan di bumi, penegak kebenaran’, maka pemilik kedai bisa membuktikan bahwa telah ikut melarangnya.

Kembali pada tujuan pertemuan malam ini.

Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh) selama ini berkutat dengan nisan-nisan zaman yang terbengkalai, suatu kegiatan berwarna hitam dan merah. Namun malam ini, tidak seperti biasanya, lembaga yang anggotanya para orang muda pencinta sejarah ini membuat kegiatan berwarna merah jambu (pink -Eng), warna yang dilekatkan pada romantisme dan suka ria.

Inilah acara perpisahan menyambut bulan puasa tahun ke 1436 hijrah nabi, bahwa kegiatan diskusi akhir pekan dan meuseuraya (gotong-royong) mingguan Mapesa akan dilanjutkan setelah hari raya Idul Fitri. Ada lima belas anggota Mapesa yang hadir. Dua belas orang lelaki dan tiga orang perempuan.

"Kita duduk di atas laluan utusan Sultan II Selim yang menuju Bitai, yang kemudian dikenal sebagai kampung Turki di Banda Aceh," kata Duta Nisan Aceh, Mizuar Mahdi Al-Asyi. Kenangan yang disebutkan Mizuar itu terjadi pada waktu 448 tahun lalu. Sejarah merah merah jambu hubungan Aceh dengan Turki.

"Di sini bekas tempat perang, sebelum smong (tsunami) masih terlihat bekas bivak-bivak Belanda. Akan tetapi jangan membicarakan perang lagi, sudah cukup itu," kata Deddy Satria, seorang arkeolog yang belasan tahun terakhir meneliti secara sukarela. Sebelumnya ia bergelut di dunia seni, seorang pemain biola yang handal.

Deddy Satria merupakan seorang dari tokoh andalan Mapesa selain Taqiyuddin Muhammad, seorang ahli membaca kaligrafi di batu nisan (inskripsi) dan sastrawan yang filsuf.

Walaupun ini acara santai dan bukan untuk berdiskusi sejarah, namun setelah beberapa saat Deddy Satria tiba, Mizuar dan Afrizal langsung membicarakan hasil penelitian terakhir tentang nisan-nisan di Samahani, Aceh Besar. Dan itu pun menjadi bincang-bincang (diskusi) ilmiah di saat hadirin lain bercengkrama tentang hal berbeda.

Pertemuan ini bersifat santai, hanya acara minum jus dan kopi bersama. Melihat setelah satu jam berlalu tidak membicarakan hal penting tentang tujuan pertemuan, sorang anggota memprotes ketua Mapesa, Muhajir Ibnu Marzuki.

"Siapa yang memilih tempat ini untuk pertemuan? Saya harus datang ke sini dari hujung ke hujung! Dan kita sudah lama duduk di sini, tetapi tidak disampakan sesuatu yang penting," kata Deasi, seorang guru yang telah ke Papua untuk pertukaran guru. Sebelum ke Papua, ia pernah ke Amerika dalam rangka pertukaran mahasiswa.

Deasi bergabung dengan para suka relawan yang kegiatan terbanyaknya membersihkan-menyelamatkan batu nisan (peugleh jrat) bersejarah ini dalam tahun terakhir. Ia bertempat tinggal di luar perbatasan Banda Aceh bagian timur, dan tempat ini berada di perbatasan Banda Aceh bagian Barat.

Hadirin pun mencoba menyepakati isi kegiatan pertemuan berikutnya, acara buka puasa bersama yang didahului kunjungan ke beberapa tempat bersejarah. Namun waktu untuk pertemuan itu belum bisa dipastikan.

Mereka hanya menyepakati bahwa malam ini tidak akan ada yang begadang sampai larut malam. Sebelum tengah malam, pertemuan bubar dan hadirin pulang ke tempat masing-masing.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki