Filsuf, Pemimpin Aceh Masa Depan

Filsuf Al Kindi
Oleh Thayeb Loh AngenPenulis novel Aceh 2025

Aceh masa depan adalah Aceh yang beragam suku bangsa atau kosmopolit. Tentu akan ada sebuah kafilah (kelompok) yang terbesar, namun keberadaannya bersedia memberikan kebebasan bersikap pada kafilah yang lebih kecil. Musuh mereka berada di luar dan yang di dalam semuanya saudara.

Peradaban semacam ini pernah dibuat oleh Nabi Muhammad SAW saat pertama kali mendirikan negara Islam di Yasrib yang kemudian disebut Madinah. Pola ini pun pernah diberlakukan oleh kepemimpinan berikutnya, seperti di Baghdad, Damaskus, dan yang terakhir di Konstantinopel setelah ditaklukkan oleh Sultan Mehmet Al-Fatih dan kemudian berganti nama menjadi Islambul dan kemudian berganti sebutan menjadi Istanbul.

Aceh Baru

Dalam bidang ras, Aceh, sejak Kesultanan Samudra Pasai dan Aceh Darussalam telah menjadi Negara yang memiliki ibukota kosmopolit. Ada turunan India, Persia, Yaman, Turki, Cina, dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan berbaur dengan masyarakat setempat dan menjadi generasi majemuk.

Dalam bidang keyakinan hidu, Aceh, sejak lama sudah menganut sikap menghormati pihak yang berbeda keyakinan. Saat Islam datang, itu dilanjutkan dengan ayat Lakum Dinukum Waliyadin serta kewajiban melindungi kafir zimmi.

Pemimpin Aceh masa depan adalah orang yang berhasil menjadi rujukan oleh semua golongan, baik dari golongan besar mahupun kecil. Aceh akan bisa bangkit tatkala memakai konsep ini kembali dengan pikiran dan hati terbuka. Akan ada orang yang nantinya mampu melakukan dan berhasil menepis semua ide sebaliknya secara logis.

Ideolog adalah orang yang punya ideologi dan mampu mengajak orang banyak untuk percaya pada ide-idenya. Pada abad terakhir, di Aceh, melahirkan seorang Hasan Tiro sebagai ideolog. Di masa sebelumnya ada Sultan Ali Mughayatsyah, Sultan Al-Kahar Yang Agung.

Seorang pemimpin baru diharapkan segera hadir. Ia boleh dari kalangan akademisi, politisi, dayah, atau kalangan tanpa pernah masuk universitas dan dayah sekalipun, akan tetapi  mampu memahami hal yang terjadi, mampu menjawab permasalahan dengan bijaksana.

Dayah dan kampus, tidak lagi memiliki hak utama dalam melahirkan pemimpin Aceh masa depan. Aceh masa depan adalah milik kita bersama, pemimpin masa depan adalah orang yang kita bentuk.

Ciri-ciri Pemimpin Aceh Masa Depan

Pemimpin Aceh masa depan adalah orang yang membawa kitab suci di tangannya untuk rujukan rakyat dalam kehidupan sehari-hari. Dengan sabar, ia mengajak dan memerintahkan itu, namun, ia tidak membawa pedang di tangannya untuk menebas penentang.

Ia akan mengurangi penjara dan perlahan-lahan akan meruntuhkannya diganti dengan ruang-ruang belajar. Ia bagaikan serang ayah dan iu yang setia mendidik anaknya tanpa cemeti. Pemimpin masa depan akan menjadikan negeri sebagai universitas atau dayah terbuka. Masyarakat Aceh masa depan
adalah masyarakat cendikia atau intelektual.

Pemimpin masa depan tidak melarang perempuan membuka kepala, akan tetapi mendirikan pabrik pakaian dan menyediakan ruang usaha bagi masyarakatnya supaya dapat memiliki pakaian yang bagus untuk menutupi aurat mereka. Setelahnya baru diperintahkan untuk menutup aurat secara sempurna.

Belajarlah pada sultan-sultan Aceh di masa lalu. Belajarlah pada raja Maroko sekarang yang membuat aturan bahwa setiap rakyat Maroko harus kaya, lalu negara menyediakan fasilitas untuk itu.

Belajarlah pada pemimpin Turki masa kini. Kebutuhan rakyat menjadi kebutuhan negara sehingga masyarakat Turki harus mencari calon penerima zakat di berbagai negara lain karena semua orang Turki telah berkecukupan, tidak ada yang mahu menerimanya.

Kelimpahan rizki itu bisa diciptakan oleh pemimpin. Itulah tugas pemimpin Aceh masa depan. Kekuatan adalah tulang punggung peradaban. Ekonomi menjadi kekuatan politik, pendidikan, agama dan lainnya.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki