Aceh Butuh Pemimpin Bukan Pejabat Baru


Tulisan ini singkat saja kutulis untuk menjawab beberapa propagansa dari keinginan beberapa orang atau kelompok untuk mendapatkan kekuasaaan.

Keinginan mereka mendapatkan kekuasaan bukan karena mereka punya ide besar dalam cara membangun sebuah negeri, akan tetapi hanya karena ingin berkuasa saja yang dengannya mudah mengatur-atur sesuatu sesuai seleranya, termasuk memperbanyak isi pundi-pundi mereka.

Awalnya, di masa Suharto berkuasa di Indonesia, munculnya perlawanan dari rakyat Aceh karena ketidakadilan Indonesia dalam bidang ekonomi di Aceh, bukan karena peninstaan agama atau lainnya. Itu dapat ditandai dari kata yang sering didengung-dengungkan bahwa alam Aceh yang kaya tidak diurus oleh orang Aceh sendiri dan hasilnya tidak dibagikan untuk rakyat di Aceh.

Artinya, itu adalah pemberontakan karena ketidakadilan ekonomi. Pemberontakan seperti ini akan berhenti tatkala penggugatnya mendapatkan yang mereka persoalkan, yakni, kelimpahan harta.

Pemberontakan yang terjadi karena agama di Aceh belum pernah terjadi. Namun itu pernah disebutkan terjadi di masa Daud Beureueh. Akan tetapi itu termasuk hiasan pemanis sejarah disebabkan bukan itu inti Daud Beureueh memberontak. Ia memberontak karena kehilangan jabatannnya sebagai pemimpin Sumatra yang diangkat oleh Sukarno. Sebelum itu terjadi, beberapa orang ulama melarang ide Daud Beureueh tersebut, namun tidak didengar. Selama jabatan itu ada, Daud Beureueh tidak memberontak. Setelahnya baru ada DI/TII.

Belum pernah sekalipun terjadi perang karena agama di Aceh sebab tidak ada satupun musuh yang datang secara langsung ingin memerangi Islam dan tidak ada seorang pun yang sejak awal gerakannya memberontak karena ingin menegakkan Islam.

Dan di masa setelah kekuatan kesultanan Aceh Darussalam melemah dan runtuh karena sultan dan tentaranya banyak yang syahid. Memang ada beberapa orang ulama memimpin perang untuk membela agama, itu pun disebabkan karena serangan musuh telah mengarah kepada mereka.

Mereka berperang karena musuh dating keri ini, bukan mereka yang mendatangi musuh di negerinya sebagaimana di masa Al-Kahar Yang Agung, Laksamana Keumala Hayati, dan Sultan Iskandar Muda, yang menyerang kafir Portugis ke seberang laut karena menjajah Melaka. Istilahnya, perang ulama di Aceh dalam melawan Belanda karena mempertahankan diri.

Sekarang, yang dibutuhkan oleh Aceh adalah seseorang dengan ide brilyannya tentang konsep membangun Aceh dengan sistematis, cepat, dan bertanggungjawab. Sejak masa setelah MoU Helsinki 2005, kita belum pernah melihat ada orang seperti itu. Tidak ada.

Satu periode kepemimpinan eksekutif dan legislatif telah lewat dan kini peroode kedua mereka hampir habis, belum terlihat pemimpin yang memiliki konsep. Mereka hanya menginginkan jabatan kekuasaan, bukan ingin membangun negeri ini.

Aceh butuh orang seperi Recep Tayyip Erdogan di Turki, Lee Kuan Yew di Singapura, dan Mahathir Mohammad di Malaysia, seseorang yang memiliki konsep dan berani bertindak untuk membangun negerinya.

Irwandi-Nazar tidak memiliki itu, Zaini-Muzakir tidak memiliki itu. Kita butuh orang lain yang memiliki konsep untuk Aceh, orang yang tidak menyalahkan pihak lain, akan tetapi selalu memiliki solusi untuk membangun apa saja dengan benar dan bertanggungjawab.
 
Oleh Thayeb Loh Angen
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki