8 Juni, Anggota DPR Aceh dan Profesor akan Bicara Politik Turki

Recep Tayyip Erdogan presiden Turki.
Banda Aceh - Dua orang anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Aceh, Abdullah Saleh, SH dari fraksi Partai Aceh (PA) dan Ghufran Zainal Abidin, MA dari fraksi Partai Keadilan Sejahtra (PKS) dan guru besar UIN Aceh, Prof. Dr. M. Hasbi Amiruddin, MA yang pernah membuat penelitian di Turki dijadwalkan berbicara tentang “Kemenangan Erdogan dan AK-Partisi dan Pengaruhnya Bagi Dunia Islam."

Pembicaraan tersebut akan berlangsung dalam sebuah simposium yang dilaksanakan oleh PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki) dan managemen Sultan II Selim ACC) pada Senin 8 Juni 2015, pukul 09:00 WIB di Sultan II Selim ACC. Acara tersebut akan dipandu oleh Teuku Zulkhairi, seorang peserta pertemuan editor jurnal Islam di Istanbul pada 11-17 Mei 2015, yang dihadiri peserta dari beberapa negara.

Demikian kata aktivis di PuKAT, Thayeb Loh Angen, di Banda Aceh, 6 Juni 2015. Kata Thayeb, acara tersebut merupakan apresiasi terhadap pemilu anggota wakil rakyat Negara Turki yang merupakan sebuah usaha untuk membandingkan antara apa yang terjadi di Aceh dan Turki di masa terakhir. Recep Tayyip Erdogan, kata Thayeb, bersama AK Partisinya telah berhasil mengangkat martabat Turki di mata dunia.

“Namun lihatlah di Aceh, saya malu tetapi harus mengakui bahwa bekas pejuang GAM telah gagal mengangkat Aceh melalui Partai Acehnya. Di tahun 2010, ada tim dari Aceh atas nama PA datang belajar ke Partai Sosialis Demokrat di Jerman. Dan, itu tidak membawa pulang hasil apapun untuk kepentingan rakyat Aceh,” kata Thayeb yang juga seorang eks kombatan.

Malah, kata Thayeb, setelahnya ada kepala daerah dari PA ditangkap karena korupsi dan PA sebagai partai penguasa di Aceh tidak mampu mengangkat Aceh baik bidang ekonomi, pendidikan, kebudayaan, dan lainnya. Juga, kekagalan Aceh bangkit di masa damai, juga karena buruknya kinerja partai lain baik pasnas maupun parlok, serta kebodohan PNS yang dipekerjakan di pemerintah.

Pengurus Sekolah Hamzah Fansuri ini mengatakan, tentang keberhasilan Erdogan, boleh dibaca di buku atau media online yang terperaya. Karena itu, Aceh perlu membuka pikiran terhadap kelemahan dirinya sendiri. Thayeb mengatakan, selama berdirinya PuKAT, organisasi ini hanya berbicara tentang kebudayaan.

"Baru kali ini kita bicara tentang politik, itu karena politisi di semua partai telah gagal memperbaiki Aceh. Ketika politik telah gagal, maka orang harus kembali kepada budaya dan sejarah untuk belajar darinya. Hanya itulah satu-satunya cara supaya Aceh bisa selamat,” kata Thayeb yang juga penulis novel Aceh 2025.pd
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki