Shema, Dara Rohingya



CERPEN | Karya Thayeb Loh Angen
Aktivis kebudayaan, pengurus Sekolah Hamzah Fansuri.

Namaku Shema, anak dusun di pesisir ladang kurang air. Itu nama yang diberikan ibuku, akan tetapi ayah memangilku Rebuma, maka namaku adalah Shema Rebuma. Nama itu kucatat baik-baik di ingatan karena kampung dan negara ini tidak mahu mencatatkan nama kami. Bahkan kami tidak dianggap ada.

Siang ini aku di ladang belakang rumah. Hujan yang jarang turun membuat tanaman-tanaman itu sulit berbuah. Kadang, air langit itu dilimpahkan dalam jumlah banyak sehingga membuat tanaman ini terkejut, sebagian rusak dan mati. Sisanya bisa kami angkut dengan berjalan kaki ke pasar yang berjarak dua batu dari ladang ini.

Hasil kebun itulah yang menghidupkan kami. Tentu, setelah sebagian hasilnya kami berikan kepada penguasa kampung yang orang Burma, karena kami orang Rohingya, yang tidak tercatat di negara ini, walaupun sudah ratusan tahun kami diami tanah yang dahulunya wilayah raja kami ini, sebelum ada orang Burma merampasnya.

Adikku, Abdula, muncul. Ia berlari mendekat. Sebuah kitab hukum syara’ karangan Syekh dari Aceh di tangannya. Ia suka menghafal isi kitab itu. Isi kitab suci Al-Quran pun telah dihafalnya sebanyak lima juz di usianya yang memasuki sepuluh tahun ini. Tahun depan, ia tidak akan diizinkan lagi ke sekolah, karena kami orang Rohingya.

“Ada sebuah kapal yang berangkat ke Thailand atau Malaysia. Paman telah membayar mahal supaya kita bisa pergi. Tengah malam nanti kita harus tiba di pelabuhan,” katanya.

“Ibu?” kutatap lekat-lekat mata adikku yang memancarkan sinar harapan.

“Ibu ikut. Ia yang mengatakannya.”

Kulihat kebun jagung yang segera kutinggalkan, dan orang Burma akan mengambilnya. Aku harus pergi. Hanya inilah kesempatan kami. Paman, adik ibuku telah belasan tahun menabung uang supaya bisa menyewa perahu untuk keluar dari tanah kelahiran namun penguasanya menjajah kami sejak lahir ini.

“Semoga Allah Ta’ala memudahkan perjalanan ini dan aku dapat suami yang baik. Aku ingin menikah di luar sana, yang bisa dalam usia muda, terhormat, dan tidak dihina saat mengajukan surat untuk menikah. Kudengar kabar, di luar sana, orang Islam merdeka menjalankan ajaran agamanya. Aku ingin seperti itu.”

Aku berlari menuju rumah. Setelah melewati hujung kebun dan halaman yang di sana berserakan dedaunan dan pelepah kelapa, terlihat Ibu tengah mengemas barang.

“Anakku, menjelang subuh kita berangkat. Kita akan meninggalkan tanah ini, meninggalkan kuburan ayah kalian, meninggalkan kuburan kakek nenek kita, semoga Allah merahmati mereka. Semoga kita akan berjumpa dengan mereka kelak, di surga,” kata Marhama, ibuku, disertai isakan. Namun tidak ada airmata yang keluar dari balik pelupuk matanya yang lembam.

Aku terdiam. Tidak bisa berkata apa-apa. Sebuah harapan muncul semakin menguat. Namun kabar bahwa sebagian orang kami yang keluar dari sini diusir di negeri tujuan dan dibuang ke laut, membuatku gemetar. Akan tetapi itu semua kehendak Allah Ta’ala. Apapun yang terjadi di luar sana, jauh lebih baik daripada di sini.

Begitu matahari terbenam, orang Rohingya sepeti kami harus berdiam di rumah masing-masing di dalam kelam, tidak boleh ada nyala lampu. Namun kami sesekali menyalakannya. Kalau diketahui penguasa kampung, tentu saja kami dibunuh.

Setelah salat isya, aku tidak bisa terlelap, membayangkan bagaimana nanti saat tiba di kapal. Apakah akan ada orang Burma yang melihatnya dan kami dicegah dan dibantai? Ah, semoga mereka tidak mengetahui hal ini.

Setelah beberapa jam berlalu, malam pun kian kelam.

Senyap.

Aku, Ibu, dan adik mengambil tas, lalu keluar dari rumah secara mengendap-endap. Kami harus melewati jalan bersemak belukar sejauh dua kilo meter untuk sampai di pantai tempat kapal ditambat.
Harus tepat waktu, kalau terlambat, maka tidak mungkin kami bisa hidup esok. Kalau orang Burma itu tahu bahwa kami ingin melarikan diri, maka itu akhir cerita kami di negeri ini.

“Tidak ada satupun orang Rohingya yang berkenan tinggal di Arakan ini karena pada akhirnya akan dibantai. Dan kalau kami bisa pergi, tidak ada seorang pun ingin kembali walau bagaimanapun keadaan di luar sana. Sungguh, perbudakan di negeri lain lebih manusiawi daripada menjadi penduduk biasa bagi orang Rohingya yang Islam,” aku memanggul tas yang agak berat.

Setelah satu jam berlalu, aku pun tiba di pantai tempat kapal ditambat. Ada ratusan orang di sana. Angin dingin datang lari laut malam, asin. Orang-orang Rohingya bergerak cepat memenuhi kapal itu dengan tubuh mereka yang malang. Berdesakan. Dinding kapal yang tinggi tidak bisa kunaiki. Seseorang menarikku dari atas setelah menarik Marhama. Lalu sesampai di sana, aku menarik Abdula.

Sejuk. Aku menggigil. Aku teringat ayah, Zakariya. Setahun lalu, orang Burma melemparnya ke api karena menunaikan salat di kebun. Siapapun yang ditemukan melaksanakan salat di negeri ini, niscaya akan dibakar.

Kapten kapal berteriak dalam bahasa Thai. Aku tidak tahu artinya, akan tetapi, perlahan-lahan, kapal yang kami naiki ini bergerak meninggalkan daratan Asia. Selamat tinggal negeriku, Arakan. Aku menjuju Arakan Baru, negeri di seberang laut.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki