Sekolah Hamzah Fansuri Sang Pelopor Ruang Belajar Terbuka

Belajar mengajar Kelas Sastra dan Perkabaran Sekolah Hamzah Fansuri, bersama Sulaiman Juned (dua dari kiri), Saiful Bahri (kiri), dan Sulaiman Tripa (dua dari kanan), di kedai Taufik Kupi, Banda Aceh, 19 Mei 2015. Foto: Rahmatullah Yusuf Gogo.
Brum....
Brum..
Brum...


Suara desingan motor saling bersahutan di seputaran pakir gedung Sultan Selim II. Berbagai jenis motor dan mobil ternyata telah berjajar rapi di sepanjang halaman gedung tersebut seketika aku pun melihat jam tangan lagi, ternyata pukul telah menunjukkan 15.15 WIB dan itu menandakan kami sudah telat 15 menit dari jadwal masuk kelas Sekolah Hamzah Fansuri hari ini, Selasa (19/05/2015).

Di samping itu, kami pun merasa kebingungan bersama tak tahu lagi harus melangkah ke mana lagi untuk menuju kelas alam kami di SHF, mengingat tempat ini masih asing bagi kami meski sebelumnya hanya pernah mendengar namanya saja yang berisi tentang bagaimana kemegahan gedung ini dalam setiap even pengunaannnya oleh berbagai kalangan untuk menyemarakkan kegiatan yang mereka laksanakan.
“Kring, kring, kring” kucoba menelpon salah satu temanku yang sudah lebih dulu datang.

“Masuk saja terus ke ruang seminar lantai dua, kami di situ,” ujar suara teman kami, Rahmatullah, di seberang sana. Bergegas kami berempat pun langsung ke lantai dua dan di sana kami dapati orang-orang sangat ramai, suara dari dalam ruang nyaring sedikit demi sedikit terdengar hingga keluar.

“Permisi, Bang. Silakan tulis nama di daftar sini,” kata salah seorang perempuan di depan pintu.

Kami pun berempat saling bertatapan, “Kenapa kelas hari ini di sini,” kata temanku berbadan gempal. Seketika aku pun baru teringat bahwa hari ini ada acara seminar kepemimpinan sekaligus peluncuran buku salah satu teman lamaku Ariful. Bersamaan dengan itu kami pun lalu bergegas saling menulis nama di daftar tersebut, lantas melangkah masuk untuk menjalani acaranya.

Berada di dalam gedung Sultan Selim II ini sungguh sangat nyaman. Kursi yang berjejeran dari bawah ke atas seperti sebuah gunung yang terus menjulang tinggi ke atas dan mempertontonkan keindahan yang ada di bawahnya dan di sini tontonan itu adalah mereka sang pengisi acara kepemimpinan serta Ariful Usman penulis buku Istanbul Warna Ibukota Dunia  yang sebentar lagi akan peluncurannya.

“Jadi pemimpin itu harus bisa melayani bukan dilayani dan saya memakai tiga konsep yang pertama enak makanannya, yang kedua enak pelayanan, dan yang ketiga bersih tempatnya, dan selanjutnya saya serahkan kepada yang di atas,” ujar narasumber pemilik Taufik Kupi di bawah sana.

Setelah seminar selesai, acara selanjutnya adalah peluncuran buku dari penulis muda yang disponsori langsung oleh  Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT) dan Departemen Beasiswa di bawah Perdana Menteri Turki, YTB (Yabancı Türkiye Bursları).

Ariful merupakan seorang mahasiswa FISIP di Unsyiah. Perjalannya ke Turki di bulan Agustus 2014 kemarin dalam sebuah kegiatan memperdalam keahlian dan pertukaran budaya telah menghantarkannya menjadi seorang penulis. Karyanya hari ini pun menjadi batu loncatan pertamanya. Meski di usia muda dan berprofesi sebagai wartawan foto di salah satu surat kabar di Aceh namun kemunculannya dalam penulisan buku perlu diacungi ibu jari.

“Menulis tidak sulit, semua orang bisa menulis yang penting memiliki keinginan untuk menulis,” kata Ariful di sela-sela kata sambutanya. Ia menambahkan, “Menulislah karena dengan menulis kalian dapat hidup seribu tahun lagi, seperti, …,” katanya.

Seketika riuh tepuk tangan bergema di ruangan dan tanpa terasa, hatiku pun ikut merasakan kehangatan semangat darinya.

Setelah kata sambutan tersebut, dilanjuti dengan acara foto bersama juga penandatanganan cendera mata sebagai lambang peluncuran buku tersebut. Satu persatu dari orang-orang besar undangan naik ke podium, ada kajur komunikasi Unsyiah, penyunting bukunya Sulaiman Tripa, juga salah  seorang penulis Aceh lainnya seperti Thayeb Loh Angen juga beberapa rekan PuKAT lainnya.

Kulirik jam, ternyata ashar telah tiba seiring dengan penutupan acara hari ini. Kami para siswa SHF pun masih rada-rada bingung apakah hari ini ada kelas atau tidak, mengingat acara ini pun telah selesai. Akan tetapi ternyata ada. Setelah keluar dari ruang yang sebelumnya ada pembagian buku gratis juga, namun kami tak mendapatinya mengingat tidak ada kupon karena telat datang, lantas kami pun bergegas pergi menunaikan shalat. Ternyata di jalan kami terpisah dengan  dua teman lainnya yang tertinggal di atas.

“Ayuk, lansung kita shalat saja duluan,” kata Rahmatullah, teman di SHF.

“Nanti pun mereka menyusul juga,” tambahnya. Kami pun bersegera pergi.

Di teras lobi depan, kami berpapasan dengan guru SHF, Thayeb, serta ketua kelas kami, Muhajir, yang sedia setiap saat di sampingnya.

“Ya, sudah, shalat dulu, nanti lepas shalat kita duduknya,” kata Ketua Kelas. Seketika kami pun langsung bersiap-siap untuk shalat asar, dan ini berarti kelas tetap ada hari ini.

“Horeee.....,” aku membatin.

Di depan, kami pun langsung berpapasan dengan mushala setelah melewati lapangan basket. Ketika melangkahkan kaki ke halaman mushalla, terlebih dulu kami harus melewati taman kanak-kanak. Mushalla ini merupakan halaman belakang dari kantor balai kota Banda Aceh. Sungguh membuatku terjekut, tidak menyangkanya. Dan berarti gedung Sultan Selim II ini langsung berbelakngan dengan Balai Kota. Makanya semua jamaah yang kudapati shalat di sini pun banyak yang berseragam PNS dan ternyata pagawai Balai Kota dan kantor Depag Aceh.

Usai menunaikan kewajiban, kami pun keluar bergegas untuk melanjutkan kegiatan hari ini, masuk kelas SHF.

“Jadi, di mana kelas ktia hari ini?” Tanyaku kepada temanku, Rahmad.

“Di kedai kopi belakang gedung ini,” jawabnya.

Aku pun binggung sehingga di sepanjang perjalanan memikirkan itu kedai kopi karena sejauh pandanganku tidak ada kedai kopilah di sini.

“Dan bukankah tempat kami berada ini sekarang tepat di belakang gedung Sultan Selim II?” Sergah hatiku, namun ternyata dugaanku tidak benar. Setelah melewati tempat parkir tampaklah sebuah pintu kecil yang menghubungkan ke sebuah kedai kopi di dalamnya.

Di kedai kopi itu, ternyata kami mendapati kawan-kawan yang sebelumnya tertinggal di belakang sana. Mereka sudah lebih dulu sampai di sini, juga  tampak guru kami juga ketua kelas, tapi ada tiga orang lagi yang duduk bersama mereka. Belum kami tahu siapa gerangan mereka  dengan raut muka agak tuha, kecuali satu orang yang sebelumnya sudah terlebih dulu kukenal lewat acara tadi sebagai penyunting buku, Sulaiman Tripa.

Kuamati sekeliling, suasana di sini ternyata tidak kalah nyaman dengan kedai-kedai kopi lainnya, di mana-mana kesibukan juga orang berbicara silih berganti bersahutan menyemarakkan keramaian ala kedai kopi. Di sela-sela penglihatanku perkenalanpun berlangsung dari kami para pelajar terlebih dahulu, lalu dilanjuti dengan mereka yang masih membingungkanku. Setelah perkenalan ternyata kusadari mereka adalah para penulis yang sangat produktif di masanya juga di masa kini dengan berbagai karya mereka, yakni Sulaiman Juned serta Saiful Bahri.

Lantas pembicaraan pun berlangsung seputaran dunia tulis menulis. Sulaiman Juned mengatakan.

"Ada empat ketrampilan menulis, pertama membaca, bukan saja buku tetapi juga baca alam ini bagaimana ia bekerja mengharmoniskan kehidupan makhluk didalamnya, kedua menyimak atau mendengarkan setiap orang bicara dengan baik dan menyerapnya menjadi pengetahuan sendiri, ketiga setelah itu berbicara, berbicaralah kalian apa-apa yang baik setelah sebelumnya kalian menemukannya dari membaca juga mendegar, dan keempat baru menulis, barulah kalian akan bisa menulis akan apa yang kalian telah alami sebelumnya sekaligus memperkayanya dengan tiga hal tadi, dan sungguh keempat hal tersebut merupakan kunci wajib yang harus dimiliki seorang penulis sejati," tutupnya.

Setelahnya silih berganti mereka memberikan semangat (motivasi) bagi kami para pelajar SHF ini. Berbagai masukan yang positif coba mereka berikan untuk menumbuhkan minat kami pada dunia tulis menulis ini seperti mereka sebelumnya, dan ini sungguh ampuh pada kenyataanya, melihat teman-temanku yang lain ketika menyimak.

Kulihat mereka semua sangat antusias bertanya ini itu tentang kepenulisan. Para senior pun mereka sangat santun dalam menjawab setiap apa yang ditanyakan dan ini merupakan sebuah gambaran kelas yang  ideal seperti yang sang guru kami di SHF inginkan dalam proses belajar mengajarnya di sekolah ruang terbuka, yakni dengan kelas ini diharapakan para pelajar mampu dengan baik dalam berfikir saat belajar mengajar sedang berlangsung.

Menurut guru kami pula, “Udara yang dirasakan di kelas belajar pada alam terbuka ini lebih efektif,” dan kenyataannya bagi kami para pelajar tentang sebuah pembaharuan kelas belajar seperti ini nyatanya cukup pengaruh bagi proses belajar kami hingga kini. Meski tempatnya berganti-ganti yang namun karena suasana pergantian inilah selalu dapat menjadi tolak ukur kenyamanan tersendiri bagi penyerapan kami dalam menangkap ilmunya.

Seperti halnya tempat ini, walau di kedai kopi belakang gedung Sultan Selim II sekalipun, tetapi tetap saja bisa menjadi ruang belajar produktif, dan ditambah lagi hari ini dengan kedatangan penulis-penulis senior Aceh untuk memotivasi belajar kami meski moment mengajar itu harus “ditodong” terlebih dahulu oleh guru SHF, Thayeb Loh Angen.

Lapuran Muhammad Zulkausar barazy sebagai tugas menulis feature di kelas Sastra dan Perkabaran Sekolah Hamzah Fansuri, Jumat 22 Mei 2015.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki