Pengalaman di Gedung Sultan Selim II dan Sastrawan Senior

Belajar mengajar Kelas Sastra dan Perkabaran Sekolah Hamzah Fansuri, bersama Sulaiman Juned (dua dari kiri), Saiful Bahri (kiri), dan Sulaiman Tripa (dua dari kanan), di kedai Taufik Kupi, Banda Aceh, 19 Mei 2015. Foto: Rahmatullah Yusuf Gogo.

Suara motor berhenti menandakan kami telah sampai ke perkarangan parkir Gedung Sultan Selim II, kira-kira jam menunjukkan pukul 13:16. Safrijal memandangi bentuk gedung sambil bertanya kepada saya.

 “Apakah betul ini tempat yang kita tuju?” Tanyanya seraya memarkirkan motor spin miliknya. Tidak berapa lama sampai, terbersit dalam pikiran saya, di manakah posisi tempat yang harus saya tuju, karena menurut pemberitahuan Muhajir Ibnu Marzuki.

“Untuk pertemuan hari ini, kita akan belajar di kawasan gedung ACC Sultan Selim II (dekat komplek makam Baitur Rijal) pukul 15.00 - 17.00 dengan materi belajar menulis feature.” Begitu kata Muhajir melalui pesan singkat yang dikirim kepada saya.

Saya bertanya kepada kawan-kawan, di mana tempat yang dimaksud Muhajir Ibnu Marzuki. Salah satu kawan saya yang bernama Zulkausar menjawab.

“Saya juga belum tahu di mana tempatnya,” tutupnya sambil melihat-lihat ke sekeliling yang berkesan seperti mencari orang hilang. Kami hampir putus asa mencarinya. Kata kawan yang bernada memerintah.

“Coba telpon dulu kawa-kawan, siapa tahu sudah sampai tujuan,” tutur Nazarullah.

Dan saya langsung mengeluarkan ponsel untuk saya telpon, ternyata tidak bisa karena pulsa saya tidak cukup, lalu saya kirim pesan kepadanya yang bertuliskan dimana posisi kalian, tapi malah tidak dibalas dan menambah kebingungan kami.

Lama menunggu saya mencari alternatif lain dengan mengirim pesan mesenjer kepada Rahmat Yusuf Gogo. Tak lama saya menunggu.

“Kling, kling, kling,” bunyi ponsel saya dan saya sangat berharap pesan tersebut dari Rahmat Yusuf Gogo.

Setelah saya membuka pesan mesenjer, ternyata saya benar, pesan darinya yang bertulis

“Saya di dalam Gedung lantai dua, ke sini terus ke dalam ruang seminar,” tulisnya.
 Tak menunggu lama, saya langsung memberi tahu kawan-kawan bahwa acaranya di dalam ruang seminar.

“Ayo! Kita sudah telambat ini,” kata kawan saya, Zulkausar, yang berdiri tidak jauh dari saya.

“Tup, tup, tup,” suara langkah kami yang terburu-buru seperti dikejar orang gila. Setelah melewati tangga, ternyata kami masih belum tahu di mana ruang seminar tersebut. Lalu saya memerintahkan teman saya untuk bertanya kepada lelaki yang ada di depan kami yang sedang bersanda gurau kelihatannya.

“Bang, gedung seminar di mana, ya?” Tanya Zulkausar.

Dan lelaki itu menjawab.

“Oh, ruang seminar di sana, Bang,” sambil menujuk lurus ke kanan dan bersedia mengantar kami sampai di depan pintu masuk ruang seminar. Saya mengucapkan terima kasih kepada lelaki yang belum sempat saya tanya siapa namanya.

Baru tiba di depan pintu, kami diperitahkan untuk mengisi buku acara.

“Isi nama, nomor telepon, dan tanda tangan,” kata seorang perempuan cantik diiringi senyuman manis kepada kami dari belakang meja pendaftarannya. Setelah semuanya selesai menulis data diri kami masing-masing, perempuan manis itu masih tersenyum manis sambil berkata.

“Terimakasih semuanya,” tutupnya.

Saya membuka pintu dan lekas masuk. Mata saya melihat ke sana kemari untuk mencari tempat duduk yang kosong. Saya menunjuk kepada kawan-kawan bahwa di atas masih ada yang kosong kami terus melangkah menuju ke atas yang suasana saat itu terasa sangat sejuk dan menembus sumsum tulang saya seperti berada Kutub Utara saja ternyata hanyalah sebuah mesin AC.

Setelah saya duduk, saya fokus ke arah depan yang terdapat empat pemateri yang sedang memaparkan tentang cara-cara jadi pemimpin. Tampaknya orang-orang yang sudah banyak makan asam garam serat akan pengalaman. Saya sangat terpana saat pemilik kedai Taufik Kupi Banda Aceh, Taufik, memberi dan membagi pengalamannya yang katanya.

“Jadi pemimpin itu harus bisa melayani bukan dilayani dan saya memakai tiga konsep yang pertama enak makanannya, yang kedua enak pelayanan, dan yang ketiga bersih tempatnya, dan selanjutnya saya serahkan kepada yang di atas,” tutupnya.

Setelah itu pemateri yang lainnya, Nahar, berkata.

“Saya sangat setuju dengan kata-kata Pak Taufik,” katanya sambil tersenyum dan bertepuk tangan memberi apresiasi kepada Taufik.

“Ya, ya, ya,” tambahnya lagi.

Pemateri yang ketiga juga tidak ikut ketinggalan memaparkan pengalamannya.

“Jika kita ingin dilayani, layani dulu orang lain. Jika kita ingin dihormati, hormati dulu orang lain,” begitu kata direktur Sultan Selim II ACC Muhammad Fauzan Azim Syah yang kadang-kadang berbicara dengan bahasa asing.

Muhammad Fauzan Azim Syah tidak ikut diam, dia terus membangkitkan semangat muda-mudi yang hadir dalam acara tersebut.

“Kita jangan hanya mengkritik pemerintah, mulailah dari diri sendiri untuk sukses bila tidak kita akan mati dalam kekecewaan,” begitu tambahnya dan juga dengan ini berahirlah acara seminar tentang cara-cara menjadi pemimpin yang sukses.

Selanjutnya acara seminar peluncuran buku Instanbul Warna Ibukota Dunia yang ditulis oleh Ariful, seorang mahasisiwa Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) yang sekaligus berpropesi sebagai wartawan foto. Saya sangat terkesan dengan gagasannya begitu juga dengan umur yang sangat begitu muda dapat membuat suatu gebrakan yang harus dicontoh oleh khalayak ramai untuk kemajuan yang kita inginkan.

Dalam peluncuran buku yang diterbitkan oleh Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT) dan Departemen Beasiswa di bawah Perdana Menteri Turki, YTB (Yabancı Türkiye Bursları), Ariful berkata.

“Menulis tidak sulit, semua orang bisa menulis yang penting memiliki keinginan untuk menulis,” tambahnya.

Tak beberapa lama selesai berbicara acara selanjutnya diambil oleh pemandu yang meminta orang-orang penting yang berpengaruh dalam buku tersebut, tidak lupa juga dihadiri oleh guru saya Thayeb Loh Angen yang mengajar di Sekolah Hamzah Fansuri (SHF) untuk berfoto bersama-sama dan menandatangani karya dari Ariful tersebut.

Setelah acara selesai, kami bersama kawan-kawan salat sejenak di musalla yang ada di gedung tersebut. Selanjutnya kami keluar bertemu bersama lagi dengan Thayeb, Muhajir dan beberapa orang lainnya yang belum saya kenal.

Muhajir memberikan perintah.

“Kalian ke kedai kopi dulu, kawan sudah menunggu di sana,” begitu tambahnya. Tidak berpikir lama kami langsung menuju warung kopi yang dimaksud Muhajir tersebut.

Kira-kira lima menit lamanya, kami menunggu di kedai kopi tersebut, pelayan pun menghampiri kami dengan bertanya.

“Sudah pesan, Pak?” Suaranya sangat manis dan saya teringat kata Taufik.

“Pemimpin itu harus melayani.” Begitu dalam pikiran saya.

Datanglah Thayeb dan Muhajir menghampiri meja yang diduduki oleh tiga orang Bapak-bapak yang berpakayan rapi dan kami langsung bergabung bersamanya. Ternyata mereka adalah senior kami yang sudah banyak makan asam garam serat akan penglaman dalam dunia tulis menulis.

Tiga orang tersebut ternyata ‘ditodong’ oleh Thayeb untuk memberi materi yang berisi semangat untuk perjuangan kami ke depan untuk menulis karena mereka pernah melalui masa-masa seperti kami juga, yang bernama Sulaiman Tripa, Saiful Bahri, dan Sulaiman Juned. Mereka bertiga berasal dari Pidie. Ketiganya baru bertemu kembali setelah beberapa tahun terpisah.

Samsul Bahri berkata.

“Dulunya sangat susah untuk jadi penulis, harus melewati banyak waktu, tidak seperti sekarang zaman yang semua mudah,” imbuhnya seraya meneguk segelas kopi.
Sulaiman Juned adalah seorang penyair dan penulis berkata.

“Kalian harus pilih salah satu yang kalian mahu, yang kalian mampu, jangan semua dipilih,” katanya yang hanya fokus menulis puisi dan naskah drama.

Sulaiman Tripa adalah seorang dosen yang sekaligus penulis itu mendukung perkataan Saiful Bahri.

“Benar memang, tulislah yang kalian mampu, jangan karena ada artis yang menulis novel, kita ikut juga,” begitu cetusnya.

Jam menunjukkan 18:30 menandakan hampir magrib. Begitupun dengan kami, sudah waktunya pulang. Sebelum pulang, kami disuruh membuat tugas tentang perjalanan turun dari parkir sampai dengan parkir mahu pulang.

Sangat banyak pembelajaran hari ini tentang membaca keadaan di sekitar kita dan jarang terjadi peristiwa seperti ini.

Lapuran Muhammad Reza sebagai latihan menulis feature Kelas Sastra dan Perkabaran Sekolah Hamzah Fansuri, 19 Mei 2015, Banda Aceh.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki