Memetik Ilmu di Sultan Selim II

Belajar mengajar Kelas Sastra dan Perkabaran Sekolah Hamzah Fansuri, bersama Sulaiman Juned (kiri), Saiful Bahri, dan Sulaiman Tripa (kanan), di kedai Taufik Kupi, Banda Aceh, 19 Mei 2015. Foto: Rahmatullah Yusuf Gogo.
Pelajar Sekolah Hamzah Fansuri kembali mengikuti latihan belajar menulis di Sultan Selim II, Banda Aceh, Selasa(19/05/2015). Seperti informasi yang didapat Selasa itu, di Sultan Selim II diadakan acara seminar kepemimpinan bersamaan dengan peluncuran buku Istanbul Warna Ibu Kota Dunia.

Pelajar Sekolah Hamzah Fansuri mendapat kesempatan mengikuti acara ini, mereka langsung mengisi bangku-bangku kosong yang sudah tersedia. Di depan terlihat pemateri sedang menyampaikan materinya. Nazarullah salah seorang siswa Hamzah Fansuri penasaran siapa ketiga pemateri tersebut, tidak berlangsung lama pemberian materi pun selesai. Kemudian dilanjutkan sesi tanya jawab, di sinilah moderator menyebutkan beberapa kali nama pemateri di depan. Mereka itu adalah Taufik, Nahar Aba Hakim, dan Muhammad Fauzan Azim Syah.

Taufik adalah seorang yang sukses membangun kedai kopi yang sangat terkenal di Banda Aceh.
“Pemimpin itu harus melayani. Ada 3 hal konsep sukses saya yaitu melayani, menjaga kualitas dan serah diri pada Allah. Manajemen saya manejemen Allah,” kata Taufik yang warungnya dikenal dengan “Taufik Kupi” itu.

Nahar Aba Hakeem mengatakan pemimpin adalah orang-orang yang berani berbuat hal yang lebih besar terdadap apa yang dipimpinya. Pemimpin memiliki tanggung jawab yang besar  terhadap apa yang dicita-citakan suatu lembaga yang dipimpin. Banyak orang di dunia tetapi  hanya sedikit yang mau jadi pemimpin,” tambahnya.

Muhammad Fauzan Azim Syah, Direktur Gedung Sultan Selim II membagikan beberapa pengalaman yang telah ia tempuh untuk memimpin gedung ini.

“Jika ingin dihargai kita harus merasa menghargai orang lain, bangunlah sifat keterbukaan dengan bawahan, carilah orang yang visinya sejalan dengan yang kita harapkan,” kata Fauzan yang terlihat gagah itu.

Selesai seminar kepemimpinan, kemudian dilanjutkan acara peluncuran buku. Moderator terlihat sedang menaiki panggung dan langsung membuka acara itu. Sulaiman Tripa, salah seorang penyunting buku tersebut dipanggil untuk menyampaikan beberapa patah kata. Dia pun tidak segan-segan langsung maju ke depan panggung.

“Penyuntingan bukan keahlian saya, ini saya lakukan atas permintaan teman saya yakni Thayeb,” ujar Sulaiman.

“Saya sangat bangga kepada yang sudah mau menulis buku setebal ini. Selama sebulan ikut beajar di Turki mampu telah melahirkan sebuah karya yang bagus, ini adalah hal yang sangat luar biasa, “ kata Sulaiman yang tampak terharu.

“Tidak seperti mahasiswa saya di kampus, mahu mengajukan judul skripsi, tapi tidak memperlihatkan tulisannya, saat ditanya, ia menjawab bahwa tulisannya masih dalam kepala,” tambah Sulaiman yang juga dosen Universitas Syiah Kuala itu seperti menyindir.

Tak lama setelahnya, giliran Ariful Azmi Usman, penulis buku Istanbul Warna Ibu Kota Dunia.

“Perjalanan selama satu bulan ke negeri bulan sabit itu dalam berangka belajar tentang kebudayaan, ada banyak pengalaman yang saya dapatkan di sana,” ujar Ariful.

“Saat di Turki keadaan sedang musim panas, setiap hari selalu merakan panasnya terik matahari, sangat ingin saya melihat salju, tapi salju hanya di daratan Eropa lain,” tambahnya seperti bercanda.

“Sebenarnya perjalanan ke Turki bukan saya yang pertama kalinya, telah banyak yang ke sana dan belum ada yang mau menulis sebelumnya. Buku Istanbul ini sebagai kenangan sejarah bahwa saya sudah pernah ke sana. Menulis adalah cara yang tepat untuk mengabadikan sejarah, sangat indah bila mau menulis tentang sejarah kisah perjalanan hidup dan seketika sudah tuha kita dapat memperlihatkan itu kepada anak-anak cucu kita,” kata Ariful.

Pada peluncuran buku ini panitia menyediakan 100 buku untuk dibagikan ke para undangan, buku diberikan kepada tamu yang memiliki kupon yang telah dibagikan.

“Buku ini tidak dijual, saya ingin berbagi kepada kawan-kawan yang membutuhkan. Bagi yang tidak
memiliki kupon, kalau ingin mendapatkan bukunya bisa jumpai saya,” katanya yang juga mahasiswa FISIP Unsyiah itu.

Bagian terakhir dalam acara peluncuran buku yang diterbitkan oleh Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT) dan Departemen Beasiswa di bawah Perdana Menteri Turki (YTB) tersebut, beberapa tokoh penting dipanggil ke panggung untuk menandatangani bingkai buku yang telah disediakan.

Beberapa tokoh itu adalah Sulaiman Tripa, Muhammad Fauzan Azim Syah, Thayeb Loh Angen, dan beberapa yang lainnya. Setiap mereka juga mendapatkan buku yang bertajuk Istanbul Warna Ibu Kota Dunia sebagai cendera mata.

Dengan berakhir acara seminar dan peluncuran buku berduyn-duyunlah para tetamu undangan meninggalkan Gedung Sultan Selim II. Hanya beberapa arang yang tergabung Siswa Kelas Sastra dan Perkabaran Sekolah Hamzah Fansuri yang masih terlihat mondar-mandir di sekitar gedung itu, bukan mengapa, mereka akan belajar menulis yang dipandu oleh Thayeb Loh Angen di sekitar gedung itu.

Tepat di belakang Gedung Sultan Selim II ada sebuah kedai kopi, ke sanalah mereka diarahkan Thayeb. Ternyata sampai di sana ada beberapa orang yang telah menunggu tepat di bawah pohon yang rindang, lalu merapatlah semua pelajar SHF bersama tiga orang itu. Para pelajar Thayeb sangat penasaran akan siapa ke tiga orang tersebut.

“Ini hari yang bersejarah, inilah para sastrawan senior Aceh, sulit sekali bisa menghadirkan mereka ke hadapan kita,” ujar Thayeb sangat bersemangat.

“Mereka telah banyak melahirkan karya-karya di tanah rencong ini, kalian boleh bertanya apa saja pada mereka,” lanjutnya. Sebelum berbincang-bincang panjang lebar, satu persatu dari mereka diminta Thayeb untuk memperkenalkan diri. Mereka pun satu persatu memperkenalkan diri. Rupanya ketiga orang tersebut adalah Sulaiman Tripa (Dosen Unsyiah), Sulaiman Juned, dan Saiful Bahri.

Tanpa bermaksud memaksa Thayeb meminta mereka untuk menyampaikan beberapa nasehat dan motivasi belajar menulis kepada pelajarnya.

Lalu satu persatu dimulai Sulaiman Tripa, mengatakan sangat senang atas berdirinya Sekolah Hamzah Fansuri ini, dia berharap sekolah ini terus berkembang.

“Agar menjadi penulis kita harus membiasakan menulis dari sekarang, menulis jangan sebagai simbol saja, tapi  harus melahirkan karya-karya yang dapat dibaca orang lain. Mula-mula tulislah apa saja yang ingin ditulis. Ketika sudah sangat dikuasai kamu akan menemukan bidang menulis apa yang sangat kamu minati, maka konsentrasilah pada satu bidang itu,” kata Sulaiman yang terlihat sangat serius.

Sulaiman Juned, yang juga Dosen di Padang Panjang, mengatakan ada beberapa hal yang harus dipelajari untuk menjadi penulis yaitu membaca, menyimak, berbicara, dan menulis.

“Membaca yang dimaksud adalah membaca fenomena alam sekitar kita. Menyimak, simaklah dengan baik ketika orang menyampaikan sesuatu. Berbicara, ketika sering membaca dan menyimak maka akan dapat berbicara dengan baik. Menulis, setelah menguasai ketiga hal di atas lalu menulislah, pasti kamu akan dapat menulis dengan baik,” kata Juned.

Saiful Bahri, mengatakan berpandangan sedikit berbeda dengan Juned. “Modal utama menulis adalah membaca buku, membaca dapat memperkaya diri tentang kosa kata, gaya bahasa, alur cerita dan banyak lainnya. Berbeda buku berbeda isinya, maka akan sangat mudah bila menguasai banyak kata, bahasa, dan alurnya,” ujar Saiful.

”Menjadi penulis harus terus mambaca dan, pengalaman saya membaca itu mesti dari buku-buku,” lanjutnya.

Beberapa saat kemudian, Sulaiman berkata ia ada janji dengan seseorang  sehingga harus segera meninggalkan tempat itu. Thayeb dan lain-lain harus rela merelakannya. Sulaiman tampak sedang memanggil penjaga warung dan membayar semua minuman yang telah diminum. Berselang beberapa menit Juned dan Saiful pun minta pamit juga. Tinggallah hanya Thayeb dan muridnya.

Kala Thayeb sedang berbincang dengan para siswanya datanglah seorang yang berbadan besar dan beramput panjang, perawakannya hampir seperti preman India, namanya adalah Sarjev. Dia seorang penata panggung.

“Untuk acara-acara festival biasanya kita yang merancang panggung dan segala setingan acara,” kata sarjev. Lelaki itu terlihat seperti terburu-buru, sebentar berbicara ia langsung meninggalkan tempat itu. Kemudian bincang-bincang sesama pelajar pun berlanjut.

Tampak hari semakin gelap, pertanda kegiatan belajar harus dipadai. Thayeb pun mengatakan sebelum dipadai ia meminta satu per satu siswa Sekolah Hamzah Fansuri menjelaskan beberapa hal penting yang telah mereka dapati sejak mengikuti seminar kepemimpinan sampai mereka mendapatkan ilmu dari beberapa sastrawan Aceh.

Lapuran Nazarullah, untuk tugas menulis feature Kelas Sastra dan Perkabaran Sekolah Hamzah Fansuri Banda Aceh, 19 Mei 2015. 
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki