Bubble of Hope - Cerpen Juara SMP Se-Subulussalam

Oleh Siti Dinah Tsabitah
Pelajar kelas X SMA di Banda Aceh, cerpen ini mendapat juara pertama dalam Lomba Menulis Tingkat SMP se-Subulussalam pada tahun lalu.

Dina, gadis mungil yang kuat. Ia mampu mematahkan rasa takut yang melekat di kedua bola matanya. Membakar semua serpihan omong kosong ribuan hatersnya. Mata sayunya tersenyum, memandang secarik kertas di atas meja. Ia mulai menggerakkan pulpen di tangannya ke atas secarik kertas. Membuat darah di tangannya membeku. Sebuah cerita yang ia lukiskan. Ya, cerita terbaik di detik-detik terakhirnya.

Hari itu..
***
Mata Dina masih membelalak, kedua pupil matanya membesar ketika menyaksikan performance pianis muda favoritnya di Auditorium Jakarta. Chopin: Etude Op. 25 No.11, Le Vent d’hiver “angin musim dingin” menggema di Aula itu. Permainan yang akan merenggut nafas siapa saja yang melihatnya. Dia dan piano hitamnya. Benar-benar pemandangan yang menakjubkan. Jarinya menekan tuts-tuts piano itu dengan lihainya. Begitu indah. Begitu berwarna. Semuanya dapat dikatakan dengan jelas, menyatakan perasaannya dengan musik. Menghipnotis siapa saja yang mendengarnya.

Memaksa mereka memperhatikan. Tak ada yang boleh mengalihkan pandangan mereka. Lihatlah aku! Dengarkan lah aku! Apakah perasaan ini sampai kepada mereka? Apakah musik ini sampai kepada mereka? Tak ada yang dapat menghentikannya.

 Dina merasakan perasaanya. Ia tenggelam dalam lautan alunan musik itu. Mengapa musik yang ia mainkan sangat berbeda? Mengapa musik yang ia mainkan begitu berwarna? Permainannya bagai dewa di musim semi, begitu agung dan indah.

Sebentar lagi selesai, ya? Batin Dina. Padahal ia masih sangat ingin melihat penampilan pianis muda favoritnya itu. Dapatkah ia memaksanya untuk bermain sekali lagi? Mungkin tidak. Pianis itu menyelesaikan permainannya dengan sangat baik. Sorakan serta tepukan tangan mengiringinya menuruni panggung dengan perasaan bangga.

“Dia mengagumkan!” Celetuk Dina. Gadis kecil itu menepuk tangannya, membuat ribuan penonton yang lain mengikutinya. Tersungging sebuah senyuman di wajahnya. Lesung pipinya menampakkan diri.

“Sangat!” Balas Ara. Yap, Ara adalah sahabat terbaik Dina. Dia manis, tinggi dan gaul. Dia yang selalu menemani Dina dalam suka maupun duka. Dalam sunyi dan gelapnya malam.

“Menurutmu apa aku bisa seperti dia? Seperti pianis itu.” Dina menatap lekat sahabat baiknya itu.
 “Why not? Permainan pianomu tak kalah mengagumkan, Din.” Ara tersenyum tipis, meyakinkan Dina. Dina hanya tertawa kecil.


“So? Kita pulang sekarang?”Ara sudah mulai bangkit dari tempat duduknya, mulai melangkahkan kaki hendak pergi meninggalkan tempat konser para pianis itu. Namun, langkahnya terhenti ketika Dina menarik tangan kanannya.

“Aku masih ingin melihat satu performance lagi. Kali ini lagu sountrack film Up yang akan dimainkan. Boleh aku dengar dulu?” Mata Dina kini membinar, membuat Ara mengiyakan permintaannya. Hal yang tak bisa Ara tolak adalah ketika Dina meminta sesuatu, sorot matanya selalu berhasil membuat Ara menuruti semua kemauannya itu. Ara dan Dina kembali duduk dikursi VIP. Mereka memejamkan mata, merasakan indahnya lagu itu.

Siapa yang menyangka dengan penampilan yang hanya berdurasi 4 menit, siapa yang menyangka hanya melihatnya menekan tuts piano itu, masa depan Dina telah diputuskan.
Hari itu..
***

Gumpalan awan bergabung membentuk dentuman keras. Perlahan meneteskan air matanya. Dina masih terdiam, tangannya masih berdiri di atas tuts piano. Sesekali ia menghembuskan nafas panjang. Mencoba membuang segala keluh kesah dan penatnya. Memejamkan mata, lalu mulai menekan satu tuts.

Perlahan tangan mungilnya mulai menari di atas tuts piano, membuat suatu nada yang indah. Dina membawakan, musik Piano Sonata No.11 “Turki Maret”, salah satu lagu favoritnya. Matanya masih terpejam. Dan “dreng…!!” Sial! Ia salah menekan tuts piano. Nadanya salah lagi, lagi dan lagi. Dina mendengus kesal. Ia belum bisa menghafal not lagu itu.
“Oh, sial! Kenapa selalu begini? Kalau begini terus pasti aku tidak akan lulus audisi. Ah, sial! Menyebalkan!” gerutu Dina. Ia menekan tuts pianonya keras-keras. Ingin rasanya ia membanting piano itu.
“Jangan menyerah.” Terdengar suara lembut seorang wanita dari arah belakang Dina, membuatnya segera menoleh.
“Mama!” Seru Dina. “Apa aku bisa lulus audisi lomba piano itu, Ma?” sambungnya lagi.
“Kenapa tidak? Kamu putri kecil mama dengan berjuta talenta sayang. Mama percaya kamu bisa lulus audisi itu. Ingat, sayang kamu hanya tidak perlu terlalu memaksakannya. Sentuh lah dia, seperti kamu menyentuh kepala bayi. Maka piano itu akan menjawab semua perasaanmu. Kalau kamu terlalu memaksa piano itu tidak akan menjawabmu sayang. Ayo, semangat! Terus lah berlatih!” Mama menyentuh wajah Dina, mencoba meyakinkan. Menyadari akan kebenaran itu. Ada api yang menyala di dalam kornea mata Dina, membuatnya kembali semangat.
“Baiklah, aku akan terus berlatih, Ma! Aku ingin seperti papa! Jadi pianis terkenal dan mendunia!” Seru Dina. Ada gelembung harapan yang kini terbang. Yap, gelembung harapan dengan sejuta impian di dalamnya. Mama hanya tersenyum kecil. Sedikit terbesit di hati mama sebuah kecemasan. Entah kecemasan akan hal apa.
“Ya sudah, minum susu ini. Mama buatkan untukmu, supaya kamu lebih semangat lagi. Ayo, diminum!” Mama menyerahkan segelas susu coklat untuk Dina. Buru-buru ia mengambil dan menyeruput susu itu. “Pelan-pelan, sayang.”
“Udah habis, tuh, Ma susunya. Dina mau latihan lagi nih. Audisinya kan tinggal 3 hari lagi. Dina harus serius.”
“Baiklah, semangat putri kecil mama. Mama keluar ya, takut mengganggu konsentrasi kamu.” Baru berjalan beberapa langkah mama berjalan bendak pergi keluar rumah. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara pecahan gelas. Mama lantas menoleh ke arah Dina yang masih terpaku di atas kursi pianonya.
“Kamu kenapa, sayang?” Buru-buru mama menghampiri gadis kecilnya yang kini tengah terpaku sambil memegang erat kepalanya yang terbentur ke lantai. Membuatnya meringis kesakitan.
“Ma! Kakiku! Mereka tiba-tiba berhenti bergerak. Dan, dan… dan aku, aku terjatuh ma.” Seru Dina panik sambil memeluk mama. Ia tampak ketakutan.
“Ya Tuhan! Kita ke dokter ya?!” Mama bersikap tenang tapi kekhawatiran melilit hatinya. Dina menggagguk setuju tanda mengiyakan.
Tak ada yang tau takdirnya berubah hari itu.
Hari itu..
***
Mama hanya diam terpaku setelah mendengar penjelasan dari dokter. Tak dapat mempercayai apa yang menimpa putri tunggalnya. Menyalahkan takdir yang diberikan Tuhan. Bertanya-tanya mengapa harus putrinya. Membayangkan betapa keras putrinya berlatih, seberapa keras putrinya bekerja keras. Perih. Ya, perih yang dirasakannya. Bahkan, air mata pun tak dapat berkata-kata. Jantungnya telah membeku, mengeras menjadi lempengan es saat itu juga.

“Saya mohon kepada ibu untuk segera menyetujui melakukan rehabilitasi fisik terhadap putri ibu. Kita semua belum tahu, seberapa cepat perkembangan penyakit ini terhadap putri ibu. Sebaiknya Dina juga harus melakukan pemeriksaan rutin untuk mengetahui perkembangan penyakit ini pada tubuhnya,” jelas dokter.
“Baiklah, dok, saya akan menyutui apapun yang terbaik untuk anak saya. Lakukan yang terbaik untuk anak saya, Dok. Saya mohon,” pinta mama, nada bicaranya sedikit memelas. Mama menandatangani surat penyetujuan rehabilitasi fisik untuk Dina. Mereka berbincang bincang sebentar.
“Dok, apa boleh saya melihat tempat rehabilitasi fisiknya?” Mama menarik nafas pendek beberapa kali.
“Boleh, bu! Mari saya antar.” Dokter spesialis itu dan Mama pun pergi mengunjungi tempat rehabilitasi fisik. Tempat Dina akan memperbaiki perjalanan hidupnya. Memperbaiki sel sel kehidupan yang penuh tawa di hatinya.
***
Dina masih tertegun memandangi sepucuk surat keterangan dokter. Ada namanya yang tercantum di sana, dan nama penyakitnya. Ataksia. Hatinya meringis. Ia bingung hendak menyalahkan siapa atas semua penderitaan yang ia tanggung. Harus menyalahkan Tuhan atau keadaan? Pertanyaan besar itu terus melekat di hatinya, menumbuhkan tunas baru akan kebencian terhadap takdir.

Seorang pria bertubuh tambum dengan kacamata dan seragam putihnya membuka pintu. Ada wanita yang tak terlalu tua mengikuti pria itu dari belakang. Dina membulatkan mata begitu tau siapa yang ada di hadapannya. Mama dan sang dokter spesialis. Mama buru buru menyapu air matanya menggunakan ujung jarinya. Dina menyodorkan surat keterangan dokter itu. Ia menahan tangis di hati dan sesak di dada. Mamanya lantas merangkul Dina erat-erat mencoba membuatnya ikhlas. Membuatnya tidak menyalahkan Tuhan atau keadaan.

“Kamu akan baik-baik saja! Kamu akan sembuh sayang. Pasti!” Rangkulan Mama semakin kuat begitupun dengan tangisan Dina. Semakin, semakin, dan semakin terisak.

***
Hari itu, Dina mengenakan gaun putih tanpa lengan. Membiarkan rambut panjangnya tergerai bebas. Wajahnya terlihat cantik hanya dengan sedikit sapuan makeup tipis pada wajah imutnya. Matanya yang sayu penuh dengan ambisi. Mematahkan perasaan gugup yang mulai menyelimutinya. Perasaan ini, membuat darahnya mendidih. Tak sabar ingin segera naik kesana, ke panggung itu.

Hari itu, 5 tahun yang lalu. Hari dimana masa depannya telah diputuskan. Hari di mana, gadis kecil berumur 5 tahun itu dengan bersungguh-sungguh memantapkan hati untuk menjadi seorang pianis. Yang benar saja?! Ia baru berumur 5 tahun saat itu. Namun keseriusannya dapat diacungi jempol. Demi mengasah kemampuannya. Ia bahkan tidak pernah membuang-buang waktu hanya untuk bermain-main layaknya anak-anak seumurannya. Hanya untuk mengejar impian itu. Yap! Mimpi luar biasa yang membuatnya tetap tangguh, kuat dan tegar.
Ma, Mama! Tahu tidak? Dina tadi melihat pertunjukan piano bersama Ara! Ada seorang pianis yang sangat hebat. Permainannya sangat berbeda dengan yang lainnya. Musik yang ia mainkan lebih berwarna. Bukan, sangat berwarna, Ma! Dina, Dina ingin jadi seorang Pianis seperti dia! Kenang Dina.
Dina memasuki panggung. Ia merasakan atmosfer yang berbeda. Membuat darahnya kembali mendidih.Sedikit demi sedikit keringat bercucuran di keningnya. Bagaimana tidak? Seluruh hidupnya ditentukan oleh permainan pianonya yang hanya berdurasi beberapa menit. Dina menguatkan tekadnya.I a berjalan mendekati piano itu. Menarik nafas panjang sebelum memulai permainannya.
“Apakah permainanku akan sampai kepada mereka?Apakah musikku akan menggapai mereka?”Bisiknya pelan sambil menoleh kearah bangku penonton. Lalu dengan lembut ia menekan tuts-tuts piano itu, ia memulai permainannya.
Piano Sonata No.11 “Turki Maret” mulai menggema di Aula itu. Ribuan pasang mata menutup, terbawa alunan nada piano yang dimainkan Dina. Sorot mata penonton semakin membakar semangatnya, terselip berjuta harapan malam itu.
Prok..prok.prok.. Tepuk tangan penonton mulai bergema. Ribuan decak kagum terlontar begitu saja dari bibir penonton ketika Dina menyelesaikan permainan pianonya. Dina tersenyum manis, menampakkan gigi gingsulnya. Hanya beberapa menit saja ia mampu tersenyum.
“Hei, dia terjatuh!” seru seseorang di balik bangku penonton. Mama yang berada di sudut panggung menoleh cepat. Matanya membulat. Secepat kilat ia dan tim medis menuju panggung. Menjemput Dina yang saat itu sudah terkapar di atas panggung. Buru-buru Dina di rujuk ke rumah sakit.
***
Tubuh Dina terpaku membisu di atas kasur dengan peralatan medis yang membalut tubuhnya. Menyedihkan sekali ia saat ini! Benar benar menyedihkan. Tiba tiba matanya membuka! Iya, Dina membuka matanya! Tapi, ia tak mampu berbicara. Kehilangan kemampuan berbicara saat dan detik itu juga saat ia siuman. Sudah berpuluh kali ia mencoba menggerakkan mulutnya, tapi percuma. Tak ada satu suara pun yang keluar dari bibirnya.

Mata sayunya tersenyum melihat keatas secarik kertas di atas meja. Ara dengan sigap membantunya mengambil kertas tersebut.
“Dina..” Samar samar terdengar Ara terisak di pelukan Mama melihat kondisi Dina sekarang. Dina membalasnya dengan senyum pudar. Bibirnya pucat pasif.
Tangan Dina terbata menulis kalimat kalimat indah. Menulis ribuan harapan yang sudah tak mungkin ia capai semenjak penyakit mengerikan itu menyerangnya. Membuatnya tersiksa batin dan fisik. Sakit! Yap, sakit dan pedih yang dirasakannya.
Dina memberikan secarik kertas yang sudah ia tulis kepada Mama dan Ara. Mama kemudian menangis, bendungan air matanya kini ambruk. Membuat pipinya dibasahi air mata. Begitupun Ara. Kata-katanya penuh harap, begitu tajam, hati seperti tersayat membacanya.
Mama, Ara. Aku ingin pergi ke surga sekarang. Aku sudah merasa cukup mendapatkan moment-moment bahagia bersama kalian. Mama, terimakasih telah menjadi Dewi pelindungku, aku minta maaf karena membuat Mama menghabiskan uang terlalu banyak hanya untuk membiayai pengobatanku, dan Ara.. Terimakasih banyak karena telah menjadi malaikat kecil yang selalu berada di sisiku. Membuatku selalu merasa tenang dan bahagia. Sekarang aku ingin ke surga, meminta kepada Tuhan ribuan harapan dan do’a yang dibalut dalam gelembung-gelembung kecil untuk Mama dan Ara. Aku ingin meminta gelembung besar yang di dalamnya ribuan  harapan. Iya, harapan yang selama ini belum terwujud. Aku ingin itu ma, Ra! Ingin sekali. Aku bisa memintanya kepada Tuhan kan?

“Din, kamu 'nulis apaan, sih?! Kan aku sudah bilang, kamu itu pasti bisa sembuh, kok,” celetuk Ara. Ia memandangi tubuh Dina. Tubuh yang lemas, lunglai.

“Din, kamu respon kek ucapan aku. Jangan diam seperti ini,” sambung Ara. Ia menggoyangkan tubuh Dina. Mesin pendeteksi denyut jantung menyatakan Dina telah tiada. Gadis kecil itu kini tertidur lelap, pergi meninggalkan dunia untuk selama-lamanya.

“Mama ikhlas kamu pergi, semoga kamu bertemu Tuhan dan kamu mendapatkan gelembung harapan itu.” Bisik Mama ketelinga Dina yang sudah terbujur kaku tak bernyawa. Terbesit penyesalan dan keperihan yang mendalam, jauh terselubung di dalam hati Mama.

Ara dan Mama masih terisak. Memandang lesu jasad seorang Putri dan sahabat terbaik sepanjang Massa. Aira Zadina Stevani, atau yang akrab disapa Dina kini telah pergi. Menemui Tuhan untuk meminta sebuah gelembung harapan. Gadis kecil kuat yang tangguh itu pergi dengan damai. Dengan sejuta mimpi dan angan.* 
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki