Alunan Hub fi Istanbul di Sultan II Selim ACC

Direktur Gedung ACC Sultan II Selim, Muhammad Fauzan Azim Syah menerangkan pola kepemimpinan yang dijalankannya di gedung tersebut, Selasa, 19 Mei 2015, Banda Aceh. Foto: Hirmawan, Aidil.
Dengan setelan kemeja putih dan celana jeans keabu-abuan,Taufik berdiri tegap tapi gaya bicaranya santai. Kata-katanya sederhana, tidak menunjukkan kalau ia seorang akademisi.

“Saya lagi membicarakan bagaimana kita harus memimpin, tapi saya orang yang melayani tamu yang datang ke kedai kopi saya, karena sifat pemimpin itu memang harus melayani,” ujar pemilik kedai kopi Taufik ini.

Taufik diamanahkan sebagai penyampai materi tentang Kepemimpinan dan Sukarelawan Volunteerism dan Leadership) dalam acara seminar yang digagas oleh Lembaga PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh Turki) di Gedung ACC Sultan II Selim, Banda Aceh. Acara yang dilaksanakan pada hari Selasa (19/05) dibagi dalam dua bagian.

Pertama, seminar yang bertema “Volunteerism dan Leadership”. Kedua, acara peluncuran buku “Istanbul, Warna Ibukota Dunia” yang ditulis oleh Arifun Azmi Usman, travelog Aceh yang mengunjungi Istanbul selama sebulan.

Gedung ACC Sultan II Selim terus kedatangan tamu dari berbagai kalangan. Mulai akdemisi, wartawan, pejabat dan juga mahasiswa dari berbagai universitas yang ada di Banda Aceh. Gedung yang dibangun oleh Pemerintah Turki ini mempunyai dua lantai dan beberapa ruangan di dalamnya. Ruang seminar yang menampung peserta lebih kurang 350 orang terlihat hampir penuh, hanya sedikit kursi yang terlihat kosong.

Taufik masih menyampaikan materinya tentang kepemimpinan. Berlatar belakang sebagai pengusaha kedai kopi, ia hanya menyampaikan konsep kepemimpinan dari sudut pandang seorang pembisnis. Ia ingin menunjukkan kalau bisnis itu bisa ditekuni siapa saja, asalkan punya konsep bisnis yang bagus, tidak surut langkah dan harus siap menghadapi kerugian. Menurutnya, bisnis kedai kopi Taufik sekarang yang terus berkembang karena pelayanan yang diberikan harus bagus.

“Kalau kita melayani pelanggan dengan baik, maka orang akan senang,” ujar lelaki yang telah membuka usaha kedai kopi sejak 2005 itu. Taufik lalu menutup kuliahnya dengan mantap. “Mengelola bisnis lebih mudah dari pada mengelola suatu organisasi,” ujar Taufik.
***

Acara seminar ini juga menghadirkan dua narasumber lain, yaitu Nahar Aba Hakeem (Pengamat Kepemimpinan dan Sukarelawan) dan Muhammad Fauzan Azim Syah (Director Gedung Sultan II Selim). Tidak lama setelah Taufik menutup kuliahnya dan Juanda Djamal sebagai pemandu mengambil beberapa kesimpulan terkait yang disampaikan oleh Taufik. Lalu mempersilahkan kepada Nahar Aba Hakeem untuk menyampaikan kuliahnya mengenai kepemimpinan.

Nahar memakai kemeja merah dan dilapisi jaket hitam diluarnya. Ia terlebih dahulu bersepakat dengan semua peserta dalam kuliahnya, setiap orang pasti mau menjadi pemimpin. Namun banyak di antara pemimpin itu tidak semuanya menuai kesuksesan.

“Untuk menjadi pemimpin jangan muluk-muluk langsung ingin memimpin golongan yang besar,” ujar Nahar yang sering berpindah posisi di atas panggung. Ia memberi arahan, untuk menjadi pemimpin yang sukses harus berawal dari bawah.

“Kita tidak harus menjadi seperti Jokowi, Zaini, dan menjadi bupati. Cukup merangkul orang-orang sekitar, harus memulai dari golongan kecil dengan sukses,” kata lelaki berkulit gelap ini.

Sedangkan Muhammad Fauzan Azim Syah tidak membahas kepemimpinan secara luas. Ia hanya menyampaikan tentang sepak terjangnya dalam memimpin gedung Sultan II Selim sejak tiga tahun silam. Dengan sangat yakin ia mengatakan, kalau kepemimpinannya di gedung Sultan II Selim tidak berhasil dalam waktu singkat.

“Sejak saya diamanahkan untuk memimpin gedung ini, saya menargetkan waktu 6 bulan untuk membawa perubahan yang lebih baik, jika lewat waktu tersebut tidak ada perubahan, saya bersedia mundur,” ujar lelaki yang akrab di panggil Fauzan.

Ia melanjutkan, pantas menaruh waktu seperti itu untuk mencapai target. Karena itu akan memotivasi kita dalam berkerja. “Alhamdulillah, ternyata saya berhasil. Dan sampai sekarang masih diamanahkan untuk memimpin gedung ACC Sultan II Selim,” ujar Fuzan yang juga fasih berbahasa Inggris.
***

Para pengunjung bersiap-siap mengikuti bagian kedua acara tersebut. Sebagian peserta ada yang keluar untuk menuju bagan dan sekedar mencari udara segar di luar sebelum mengikuti sesi yang ini. Sejenak panitia memutar lagu Instrumental Hub Fi Istanbul (Cinta di Istanbul) dan Instrumental Turkey Music. Alunan musik yang sangat syahdu. Terasa ruangan seminar seperti menjelma menjadi Istanbul. Peserta yang kebanyakan muda-mudi generasi masa depan Aceh.

Dalam angan-angan, saya menatap mereka seperti gadis dan lelaki Turki yang berhidung mancung, lagi putih yang berwajah cantik dan tampan. Namun angan-angan itu berhenti dengan cepat ketika panitia mematikan musik itu dan memberi aba-aba kalau acara peluncuran buku “Istanbul, Warna Ibukota Dunia” akan segera dimulai.

Moderator mepersilahkan Sulaiman Tripa sebagai punyunting akhir buku Istanbul Warna Ibukota Dunia untuk memberikan pendapatnya mengenai buku itu. Pertama ia merasa salut kepada penulis buku itu, Arifun Azmi Usman. Seorang wartawan foto di surat kabar Harian Rakyat Aceh, tetapi juga bisa menulis buku setebal itu padahal perjalanannya ke Istanbul sangat singkat.

“Penulis buku ini memberi pesan kepada kita, siapapun bisa menulis, walaupun wartawan foto sekalipun,” ujar Sulaiman Tripa.

Dengan mimik bicara yang sedikit ketawa ia melanjutkan kata-katanya “Walaupun Ariful menulis satu paragaf dengan satu titik, tidak masalah. Karena setiap buku akan melalui proses editing,” ujar dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala ini.

Sulaiman Tripa tidak banyak membahas tentang buku itu. Ia juga ingin secepatnya mendengar penuturan langsung pengalaman Arifun Azmi Usman selama sebulan di Istanbul dan mngenai proses penulisan buku setebal itu, padahal perjalanannya di sana sangat singkat.

Dengan langkah cepat, anak muda bernama Ariful Azmi Usman menuju atas panggung yang disambut riuh tepuk tangan peserta. Di sana terlihat jelas penulis buku itu melempar senyum kepada para hadirin. Senyum indah, seindah secuil kota Istanbul yang ada di sampul buku. Ariful menceritakan perjalanannya ke Turki selama sebulan untuk mewakili PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh Turki) dalam studi budaya ke Istanbul.

Ia mengunjungi beberapa tempat bersejarah di sana, seperti gereja Ayasofya yang pernah menjadi mesjid setelah penaklukan Konstantinopel, lalu sekarang berubah menjadi museum. Ia juga mengunjungi Mesjid Biru (Blue Mousque) atau juga dikenal dengan Mesjid Sultanahmet II yang menjadi ikon kota Istanbul.

Dengan cerita singkat itu, Ariful telah membuat peserta yang mendengar terkesima. Wajah-wajah mereka menyiratkan juga ingin ke sana. Ariful yang masih sangat muda, telah memperoleh prestasi yang luar biasa. Mengunjungi Istanbul adalah impian semua orang, walau bagaimanapun Istanbul sekarang, dulu pernah jaya Islam di sana dengan nama kotanya Islambul.

Pengalaman indah kalau tidak berbagi dengan mereka yang belum ke sana belumlah cukup. Dengan alasan itu, Ariful harus menulis pengalamannya di sana. Namun Ariful juga berasalan menulis itu juga penting, karena dengan menulis akan membuat hidup lebih lama.

“Kita bisa hidup 60 tahun atau lebih sesuai yang Allah kehendaki, namun dengan menulis kita bisa hidup seribu tahun,” ujar mahasiswa FISIP Unsyiah ini memberi semangat.

Buku Istanbul Warna Ibukota Dunia telah membuat beberapa peserta yang hadir di situ bergairah, ingin menulis dan membuat pengalamannya ditulis ke dalam bentuk buku. Seolah-olah tidak ingin ketinggalan dengan apa yang dilakukan oleh Ariful Azmi Usman. Ilham, seorang peserta peluncuran buku yang duduk di sebelah kanan saya, juga baru beberapa saat saling berkenalan, berujar dengan spontan.

“Kalau Ariful telah menulis Istanbul Warna Ibukota Dunia. Tahun 2017 atau 2018 saya akan menulis buku Sanliurfa Kota Wisata Sufi Dunia, karena di sana pernah tinggal Syaikh Badiuzzaman Said Nursi,” ujar Mahasiswa UIN Ar-Raniry ini yang juga mengagumi negara Turki.
***

Pelajar Sekolah Hamzah Fansuri mendapat kesempatan berharga setelah peluncuran buku selesai dilaksanakan. Atas perintah guru SHF Thayeb Loh Angen, para pelajar menuju ke kedai Taufik Kupi yang berada di belakang gedung ACC Sultan II Selim, melalui gang sempit.

Setelah sampai di kedai Taufik Kupi, kami dibawa ke meja yang terlebih  dahulu telah diisi oleh tiga orang. Dua orang dari mereka merupakan sangat asing di mata kami. Thayeb Loh Angen memperkenalkan mereka kepada kami, pertama Saiful Bahri yang memakai baju dinas PNS, dan Sulaiman Juned yang memakai topi bewana merah. Seorang lagi laki-laki yang memakai kacamata yang telah kami lihat tadi saat peluncuran buku, Sulaiman Tripa.

Saiful Bahri tidak kami kenal sebelumnya, namun beliau seorang cerpenis senior, cerpennya tidak sedikit telah diterbitkan harian Serambi Indonesia. Di sela-sela pertemuan itu beliau menyampaikan keluh kesah dalam menulis waktu muda dulu, harus menulis dalam lembaran buku tulis memakai pena.

“Kami dulu menulis tidak memakai sarana elektronik, sangat sederhana media menulis dulu,” ujar Saiful juga penulis cerpen Cot Lamkuweuh.

Sulaiman Juned dan Sulaiman Tripa juga tidak mau ketinggalan dalam menyampaikan pengalamannya dalam menulis. Sulaiman Juned yang saat ini telah menetap di Padang dan menjadi dosen salah satu perguruan tinggi di sana, juga berbagi tips kepada penulis muda yang tergabung dalam SHF (Sekolah Hamzah Fansuri).

“Untuk menulis yang baik, harus terlebih dahulu menjadi pembaca yang baik, untuk menjadi pembaca yang baik maka harus menjadi penyimak yang baik. Kalau itu sudah terhimpun dalam diri setiap individu, maka ia akan menjadi penulis yang baik,” ujar Sulaiman Juned dengan mimik sedikit tegas.

Sedangkan Sulaiman Tripa, sebelumnya hanya membaca tulisan-tulisan beliau lewat rubrik opini Serambi Indonesia, hari itu dapat bertatap muka langsung dengannya. Dengan nada lembut dan bersahaja ia menyampaikan kepada penulis pemula seperti pelajar SHF untuk fokus kepada jenis tulisan yang disukai.

“Kalau suka menulis cerpen, maka fokus kepada cerpen. Jangan terlalu cepat-cepat menulis novel, apalagi ilmu tentang novel itu belum dikuasai,” ujar Sulaiman Tripa yang sekarang juga aktif menulis di blog www.kupiluho.wordpress.com.

Beberapa pengalaman berharga telah didapat pada hari itu di ACC Sultan II Selim, mulai dari travelog Aceh ke Istanbul, hingga penulis senior Aceh yang telah meluangkan waktunya lalu memberi pengalaman dan ilmu-ilmu kepenulisan. Sekarang bisa memilih, ingin menciptakan pengalaman berharga untuk berbagi kepada orang lain, atau tetap sebagai penikmat pengalaman-pelangalaman orang lain.
 
Ditulis oleh Rahmatullah Yusuf Gogo sebagai tugas menulis featured di kelas Sastra dan Perkabaran Sekolah Hamzah Fansuri, Kamis 21 Mei 2015.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki