UIN Perlu Segera Buka Prodi Arkeologi

Oleh Thayeb Loh Angen
Aktivis di PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki)


Kiri baju putih: Dosen arkeologi Islam FKIP Sejarah Universitas Syiah Kuala (USK), Dr Husaini, MA. Kanan: baju bergaris coklat putih: Dosen fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam (UIN) Banda Aceh, Hermansyah, di situs kerajaan Lamuri, Lamreh, Aceh Besar. Foto: pptim.or.id
Sebagai pusat peradaban Islam di Asia Tenggara selama hampir seribu tahun, Aceh memiliki sekian banyak benda-benda arkeologi yang tersebar dan terlantarkan di seluruh Aceh. Keadaan ini menghajat akan lahirnya arkeolog muda di Aceh.

Namun di antara beberapa Universitas dan Perguruan Tinggi di Aceh tidak ada yang membuka fakultas atau jurusan atau program studi (prodi) arkeologi. Arkeologi adalah sebuah bidang yang akan menjaga jati diri Aceh serta arkeolog muda akan memiliki masa depan cerah sehingga harus ada wadah resmi tempat belajarnya.

Fakultas Adab dan Humaniora yang ada di UIN Banda Aceh adalah salah satu yang memiliki syarat yang cukup untuk membuka prodi arkeologi sekarang juga. Ini didukung penuh oleh adanya benda arkeologi yang berada di Aceh sebagian besar merupakan warisan peradaban Islam. Seharusnya fakultas arkeologi itu sudah dibangun sejak masa fakultas dakwah diciptakan, sama-sama bergerak.

Tanpa adanya prodi atau fakultas arkeologi, maka universitas dan perguruan tinggi di Aceh telah menelantarkan kekayaan yang berharga mahal. Itu seperti membiarkan emas menjadi tiang jemuran. Hal tersebut, sudah saatnya diperbaiki oleh kita semua.

Sudah masanya, rektor UIN Banda Aceh dan Dekan Fakultas Adab dan Humanioranya untuk melihat kepentingan yang mendesak ini. Semuanya sudah ada, hanya maksud baik dan tindakan cepat yang perlu dilakukan.
 
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki