Kedai Kupi Aceh

“Pemerintah Aceh sekarang harus belajar pada manajemen kedai kupi yang melayani pembeli dengan baik selama 24 jam sehari. Kalau telat semenit saja pelanggan mereka akan lari dan kedai itu tutup. Aceh harus bekerja 25 jam sehari supaya bisa bangkit.”
Dr Mehmet Ozay, Sosiolog Turki
Dr Mehmet Ozay, Sosiolog Turki


Oleh
Thayeb Loh Angen
Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT)

Kedai kupi di Banda Aceh telah tumbuh menjamur sejak 2005, setelah bencana gempa dan smong 26 Desember 2004. Kini setelah 10 tahun, kedai kupi itu semakin banyak. Memang sebagian ada yang bangkrut karena tidak mampu memenuhi kebutuhan pelanggan.

Ada beberapa hal yang mengubah budaya Aceh dengan kehadiran kedai kupi ini. Datangnya masyarakat dari kebudayaan yang berbeda dari luar Aceh, juga kebutuhan akan makanan dan minuman serba cepat tersaji karena kesibukan penanggulangan wilayah bencana, melahirkan pasar dan kedai-kedai darurat yang akhirnya dijadikan usaha berterusan karena lamanya pemulihan keadaan.

Pengaruh buruk dari kedai kupi tidak akan dibicarakan di sini. Sebelum ini, kedai kupi adalah tempat khusus lelaki. Namun kini, terutama di kota Banda Aceh, kedai kupi juga tempat bagi perempuan -walaupun hanya sebagian kecil. Bahkan orang Tiunghua yang secara sengaja membatasi pergaulannya dengan penduduk dalam, telah mengunjungi beberapa kedai kupi tertentu.

Bagaimana dengan bahan baku kupi, apakah biji kupi yang dipakai semuanya dari Aceh? Bubuk kupi ulahan dan bungkusan dari luar pun banyak memenuhi kedai-kedai tersebut. Dan, yang paling membedakan kedai kupi di Banda Aceh dengan tempat lain adalah disediakannya internet cuma-cuma dan layar untuk menyaksikan pertandingan sepak bola- seakan-akan itu menjadi wajib.

Namun, benarkah itu cuma-cuma? Harga minuman dan makanan di kedai kupi yang menyediakan internet dan layar cuma-cuma lebih mahal daripada yang tidak menyediakannya. Gaya kedai kupi Banda Aceh kini telah tersebar di tempat lain.

Lalu, apa yang bisa dipelajari dari kedai kupi di Banda Aceh?

Seorang sosiolog asal Istanbul, Turki, Dr Mehmet Ozay yang telah pulang pergi mengunjungi Aceh sejak tahun 2006, mengatakan:

“Pemerintah Aceh sekarang harus belajar pada manajemen kedai kupi yang melayani pembeli dengan baik selama 24 jam sehari. Kalau telat semenit saja pelanggan mereka akan lari dan kedai itu tutup. Aceh harus bekerja 25 jam sehari supaya bisa bangkit.”
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki