Ebru Gulsen dan Laila Peurigi 1566

Karya
Thayeb Loh Angen
Pengarang Novel Teuntra Atom dan Novel 2025, Aktivis di Pusat Kebudayaan Aceh - Turki (PuKAT)
 
 
TATKALA Ebru Gulsen menjual kain di Pasar Aceh, aku dan suamiku tengah mengumpulkan lada-lada kering di Indra Puri. Lada-lada itu baru saja kami angkut dari Lamteuba.
 
“Cut Nyak Meurandeh, pajan keuh sangkira taba lada-lada nyoe u Syah Bandar(kapan kita angkut lada-lada ini ke pelabuhan)?” Laila Peurigi berteriak di sudut krong.

“Besok.”

Kulihat Laila Peurigi tidak berkata apa-apa lagi. Ia sibuk menggulung kain-kain sana’ani yang dibelinya dari Ebru Gulsen dan dihadiahkan kepadaku sehelai. Kemarin ia mengabarkan tentang munculnya seorang penyair dari Istanbul, Ebru Gulsen, di Bandar Aceh Darussalam.

“Aku akan mengajakmu menjumpai Ebru Gulsen.”

“Aku tidak bisa bahasa Rum (Turki -peny).”

“Ia bisa bahasa Arab. Bawalah Nyak Siti Priya. Mintalah Ebru mengajarkannya cara menulis puisi.”

“Apakah menurutmu, dara Rum berambut pirang itu mahu mengajarkannya?”

“Bahkan Ebru adalah guru yang baik bagi anak dara kecilmu itu. Ia datang dari tepi Harem yang terhormat.”
***
 
Ratusan orang dari berbagai negeri berdesakan di Pelabuhan Ulee Lheue. Aku, Laila Peurigi, dan Nyak Siti Priya berdiri di hadapan belasan karung lada. Syah Bandar muncul dan berbicara dengan Cut Nyak Meurandeh. Setelah ada kesepakatan harga, lada-lada itu diangkut ke kapal dari Maghrib (Maroko -peny) yang dilabuhkan paling belakang dan akan segera berangkat ke Madagaskar.

Mereka bertiga menuju rumah bermalam tempat Ebru Gulsen tinggal. Di antara jurung yang di kiri kanannya berbaris perahu, mereka mendengar bacaan syair yang syahdu mendayu diiringi suara
rapai.

“Itu anak-anak nelayan di pelabuhan. Mereka membaca syair-syair itu setiap hari, setelah ayah-ayah mereka menjual barang-barang ke Syah Bandar,” kata Laila Peurigi.

Mereka bertiga sampai di rumah Ebru Gulsen yang saat itu baru saja selesai menamatkan membaca surat Yasin. Mereka duduk di beranda rumah itu seraya menatap pantai dan barisan perahu.

“Kakanda Laila, menurut orang di pelabuhan, engkau pernah mengalahkan kapal Peurigi (Portugis -peny) hanya dengan perahu. Benarkah?” Tanya Ebru Gulsen.

“Maksudku awalnya hanyalah mengejar kapal mereka dengan perahu nelayan.”

“Bagaimanakah ceritanya?”

“Itu terjadi pada suatu malam.”

Maka aku pun menceritakan kisah Laila Peurigi yang terjadi setahun lalu.
Pada suatu malam, Laila Peurigi diberitahukan oleh nahkoda perahu-perahu besarnya bahwa ada tiga buah kapal Peurigi mendekati teluk Ujong Pancu. Maka Laila yang memiliki dua puluh perahu besar penangkap ikan pun memerintahkan supaya semua perahu itu dilayarkan segera untuk menghadang kapal-kapal Peurigi.

Sekalian nahkoda itu berpikir bahwa itu perintah gila. Namun apa hendak dikata, mereka adalah pekerja dan Peurigi adalah musuh yang mesti diusir. Tidak ada pilihan lain. Suami Laila yang merupakan kepala sebuah pasukan tentara Kesultanan Aceh Darussalam telah syahid saat berperang dengan sebuah kafilah armada Peurigi di dekat perairan Nikobar.

Tiga buah kapal Peurigi yang ingin mendekat tidak menduga akan dihadang oleh dua puluh kapal kecil. Dengan penghadangan sebanyak itu, walaupun mereka bisa mendarat, akan tetapi tidak mungkin bisa selamat. Kapal-kapal Peurigi menembakkan beberapa meriam untuk menakut-nakuti perahu-perahu. Akan tetapi perahu-perahu itu terus mendekati kapal-kapal tersebut. Namun malang, sembilan perahu itu pun tenggelam.

Sebelum meriam ditembakkan, ternyata sekalian pelaut anggota Laila Peurigi telah melompat dari perahu dan berenang menyelinap ke kapal-kapal penjahat dari Eropa selatan tersebut. Perang di atas kapal itu pun tidak terelakkan sampai tengah malam. Sebuah kapal Peurigi ditengelamkan, dua buah lagi melarikan diri.

Anehnya, tidak ada seorang pun pelaut Laila Peurigi yang syahid. Semuanya selamat. Dan, Laila Peurigi terlihat di ujung tiang kapal yang tengah tenggelam. Dialah yang menenggelamkannya. Sekalian pelautnya pun heran dengan terlihatnya Laila, mereka tidak menduga tuan perahu itu ikut dalam pengejaran.

Esoknya, perempuan bernama Nyak Meurah Intan Baiduri, isteri almarhum Laksamana Muda Amat Lila Wangsa itu pun disebut Laila Peurigi yang artinya malam Peurigi atau penghancur Peurigi pada suatu malam, karena itu adalah kemenangan telak sekalian pelautnya atas pelaut Peurigi yang berjumlah lebih banyak dan bersenjata lebih lengkap.

Mendengar cerita itu, Ebru Gulsen manggut-manggut. Ia senang ada yang menenggelamkan kapal Peurigi.

Laila Peurigi pun mengatakan maksud kedatangannya membawa seorang dara kecil dan ibundanya.

“Aku bukanlah seorang guru. Bahasa Arabku tidak baik. Lagi pula, aku ke negeri ini untuk menjemput calon suamiku,” jawab Ebru Gulsen yang baru beberapa hari tiba dari Istanbul.

“Bahasa Arab atau Turki sama saja. Yang penting anak dara kecil bisa sastra. Kami akan membantu apapun keperluanmu saat di sini. Seorang dara dari negeri yang amat jauh tetaplah butuh saudara perempuannya di negeri yang baru didatangi.”

“Baiklah, Nyak Siti Priya akan menjadi muridku, dan kalian adalah saudara tuaku,” Ebru Gulsen memeluk Laila Peurigi. Aku dan Nyak Siti Priya ikut memeluk mereka.portalsatu.com
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki