Doy


Sultan Turki Usmani. Gambar: pasukanottoman.wordpress.com
Cerpen
Taqiyuddin Muhammad

Mereka semua menatap mata Raja. Sinar mata yang membersitkan kekuatan tekad serta kasih sayang itu berkaca-kaca menahan geram dan gemuruh amarah dalam dada.

Para pembesar negeri yang berkumpul di balai utama istana kala itu sedang dihimpit gundah. Menyerah dan tunduk kepada musuh Allah dan Rasul-Nya tidak akan pernah jadi pilihan untuk selamanya. Tapi kekuatan dan persiapan perang yang mereka miliki belum menjamin kemenangan.

Suasana dalam balai utama untuk beberapa saat menjadi hening. Sementara mata menatap ke arah Raja, segenap pikiran orang-orang yang hadir dalam ruang itu tercurah kepada persoalan nasib bangsa.

Kecuali Doy, seorang hamba sahaya yang berdiri di belakang barisan para pembesar untuk melayani berbagai keperluan. Orang tuanya adalah tawanan perang ketika baginda Meurhoem Ayahanda Raja menaklukkan pantai barat sepuluh tahun lalu. Doy tampak sama sekali tidak perduli dengan persoalan dan suasana sekitarnya. Ia asik mengamat-amati pakaian Raja. Baju Raja yang bersulam mutiara. Kulahkama yang berkilau keemasan. Hulu rincong yang berlapis emas dan bertatah ratna mutu manikam.

“Duli Tuanku Syah ‘Alam,” terdengar suara Panglima Prang memecah keheningan.
“Perkara yang sedang kita hadapi adalah cobaan Allah untuk menguji sejauh mana keteguhan hati kita dalam membela agama-Nya. Tuanku Syah ‘Alam, nyatalah bagi kami inilah sebaik-baik kesempatan bagi kami untuk mati fi sabilillah, menggapai kesyahidan yang selama ini kami nanti-nantikan.”

“Tiada keraguanku akan hal itu, wahai Panglima,” jawab Baginda Raja dengan nada suara membutirkan kasih sayang.

“Tiada keraguanku akan hal itu,” Baginda mengulang ucapannya lagi, “tapi alangkah berat hatiku andaikata menang tak berhasil diraih. Bagaimanakah kiranya rakyat kita. Anak-anak dan cucu kita nantinya. Perang adalah perkara besar. Amat tidak tentramlah hatiku melihat rakyatku menderita. Apakah mereka sudah bersiap lahir dan batin untuk menghadapi cobaan ini?”

Suasana kembali hening beberapa saat sampai Saiduna Syaikh angkat bicara, “Kalau begitu yang Tuan hamba katakan, baiknyalah Tuan hamba melihat langsung keadaan rakyat Tuan hamba. Apakah mereka telah bersiap lahir dan batin untuk menanggung ini perkara.”
 
“Semoga Allah memuliakan Saiduna Syaikh Tuan Guru kami. Demikian itulah pula yang datang ke dalam pikiran kami, wahai Saiduna. Baiknya itu segera kami lakukan,” ucap Baginda.
 
Tidak lama kemudian Raja terlihat melangkah ke luar benteng istana dengan hanya ditemani dua pengawal, Pang Hasan dan Pang Ahmad.
 
Melihat itu, Doy yang sedari tadi menyembunyikan suatu hasrat dalam hatinya berjalan mengendap-endap lalu menyelinap masuk ke bilik malabis, kamar khusus untuk pakaian Raja. Sesaat berada di di dalamnya, Doy terpaku kagum, matanya terbelalak penuh gairah melihat segala rupa pakaian kebesaran kerajaan yang indah-indah yang digunakan dalam berbagai munasabah. Ragam warna serta ragam hiasan yang tersulam dengan benang-benang keemasan dan keperakan. Ia merasa seperti berada di sebuah taman impian. Di bibirnya tersungging senyum lebar.

Doy kemudian menyentuh dan mengusap pakaian-pakaian yang berbahan halus dan mewah itu satu persatu sampai akhirnya tak dapat menahan diri lagi. Ia mengambil salah satu pakaian, memakainya dan segera berdiri di depan cermin. Ia berputar-putar di depan cermin; samping kiri, samping kanan, belakang, dan kembali ke muka. Ia lantas tertawa gelak.

Doy mulai lupa diri. Satu persatu pakaian raja dipakainya. Puas dengan satu diganti dengan yang lain. Setiap kalinya diiringi gelak tawa.

Setelah berjam-jam Doy dalam kemabukannya itu terdengar pintu bilik malabis dibuka. Ternyata Baginda sudah kembali. Raja bermaksud untuk mengganti pakaiannya yang sudah basah dengan peluh.

“Apa yang kamu lakukan Doy?!” tanya Baginda Raja yang terperanjat saat melihat Doy berada dalam bilik malabisnya. Pang Hasan dan Pang Ahmad pun maju dengan langkah sigap, tangan keduanya sudah menggenggam hulu pedang.

“Aku raja. Aku raja!” teriak Doy. Wajahnya tegang.

“Aku raja. Aku raja!” teriak Doy lagi.

Pang Hasan dan Pang Ahmad sudah menghunus pedang, namun gerak mereka terhenti ketika terdengar suara Baginda tertawa. Mereka menoleh kepada Baginda yang masih saja tertawa. Kening mereka berkerut limau purut.

Selang beberapa menit, sambil menyeka matanya yang berair karena tertawa, Baginda Raja berkata, “Baiklah, Doy. Kamulah raja..haha...! Kamu raja Doy..hahaha!”

Raja lalu memberi isyarat kepada dua pengawalnya untuk mendekat. Baginda belum bisa menghentikan tawanya. “Haha.. kamu berdua biarkan Doy begitu..hahaha! Biarkan ia sampai lelah dan tertidur lalu angkat dia ke kamarnya,” kata Baginda Raja kepada kedua pengawalnya dengan suara halus yang diselang tawa.

“Baiklah, Raja Doy,” ujar Baginda lagi kepada Doy, “Nanti bila kamu sudah siap, kedua pelayanmu ini akan mengangkatmu ke singgasana...hahaha!”

Baginda kemudian segera keluar dari bilik malabis menuju balai musyawarah di mana pembesar-pembesar kerajaan dan orangkaya-orangkaya sudah menunggunya di sana. Memasuki ruang balai, senyum lebar masih melekat di wajah Baginda yang tampan dan berwibawa. Sebaliknya, suasana dalam balai musyawarah masih seperti dinaungi awan kelabu. Akan halnya nasib bangsa yang besar ini ke depan telah mengisi seluruh ruang pikiran dan benak. Saat melihat senyum lebar Baginda Raja, para pembesar dan orangkaya menjadi masygul dan heran, namun tak berani berucap sepatah kata.

“Tuan-tuan yang berbahagia,” Baginda mulai angkat bicara, “adalah karena karunia Allah Ta’ala semata-mata, bangsa kita ini telah ditakdirkan untuk menanggung amanah yang besar. Kita bertanggungjawab untuk senantiasa menegakkan Agama Allah dan memilihara kemaslahatan Muslimin di masa saja mereka berada. Adalah karena karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita, pemimpin dan rakyat bangsa ini, akan selalu siap dan tegar menghadapi berbagai rupa ujian di dalam jalan-Nya. Kabar gembira bagi Tuan-tuan kami sampaikan, bahwa rakyat kita telah bersedia dengan tekad kuat dan keteguhan hati yang tiada tandingnya untuk menghadapi apa saja yang mesti kita hadapi demi membela Agama dan tanah air kita. Bukan kemegahan dunia yang kita cari, tapi kemuliaan abadi di akhirat lah yang sesungguhnya kita tuju. Yakinlah Tuan-tuan akan pertolongan Allah dan kemenangan dari-Nya. Maka segeralah bersiap-siap, Tuan-tuan. Ke padang kesyahidan dan kemenangan kita menuju!”

Selesai Baginda menyampaikan kata-katanya, ruang balai seketika menjadi riuh. Takbir dan tahmid terdengar bergemuruh. Beberapa di antara mereka dengan penuh semangat mengulang-ulang ucapan Raja, “Ke padang kesyahidan, Tuan-tuan! Ke padang kesyahidan! Ke padang kesyahidan!”

Baginda berkaca-kaca matanya menahan keharuan. Sejenak kemudian Baginda telah keluar dari balai musyawarah. Di depan pintu, Baginda berpapasan dengan dua pengawalnya, Pang Hasan dan Pang Ahmad, yang sedang menggotong Doy ke kamarnya.

“Subhanallah wa bihamdihi.. teramat besarlah anugerah Allah kepada aku hamba-Nya. Dalam susah hati diberikan pula aku suka dan tawa,” ucap Baginda sambil tersenyum.
 


Dari: facebook.com/paduka.raja.146
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki