Catatan Setelah Hampir Sembilan Tahun

Maskirbi, Puisi Setelah Tiada
 
Oleh
D Kemalawati
 
Dari kanan: D Kemalawati, Helmi Hass, Edi Sutarto, Helvy Tiana Rosa, di Banda Aceh, Maret 2015. Foto: facebook.com/deknong.kemalawati 
Sudah hampir Sembilan tahun aku memendam tulisan untuknya. Tidak sebuah puisi pun mampu kutuliskan. Padahal hampir di setiap kesempatan aku sering membaca ‘Kesaksian’nya. Malam tadi, kudengar bait-bait kesaksian itu diantara deras music di Tower Café. Aku mengenali suara dan irama pembacaan puisi itu. Dengan bangga kukatakan kepada  Victor Pagadaev, penyair Rusia yang secara sengaja datang ke Aceh memenuhi undangan peluncuran  buku ‘Secangkir Kopi’ oleh The Gayo Institut, bahwa itu adalah rekaman suaraku. Victor mengatakan suara music terlalu dominan dari pembacaan puisinya dan ia kurang dapat menangkap setiap kata yang aku ucapkan.  Tidak demikian bagiku. Setiap kata dari puisi Kesaksian itu begitu lesap dalam jiwaku. Aku menghayati setiap kali aku mendengarnya meski dalam hingar sebuah kafe.
 
Victor, sama sekali tak menanyakan puisi siapa yang aku bacakan dalam rekaman itu. Dia hanya berceloteh sedikit tentang pembacaan puisi sesaat nanti yang juga akan diiringi music rokc. Dia khawatir music lebih dominan dari suara penyair yang akan membaca karyanya. Tentu aku berusaha meyakinkannya bahwa pembacaan puisi diiringi music akan membuat suasana peluncuran buku akan lebih menarik dari sekedar seremoni belaka. Kurasa dari peluncuran buku inillah, aku akan memulai menulis tentangnya.
 
Sore itu, di kantin Taman Budaya Banda Aceh, aku ceritakan padanya tentang kegigihan seorang perempuan penyair, Herlela Ningsih namanya. Perempuan bersahaya itu bersama rekan-rekannya yang bergabung dalam Himpunan Perempuan Seni Budaya Pekan Baru (HPSBN)  telah menghimpun dan menerbitkan puisi-puisi para penyair perempuan, dimulai dengan antologi puisi Penyair Perempuan Pekanbaru dengan judul Musim Berganti, dilanjutkan dengan antologi puisi Penyair Perempuan Sumatera dengan judul Musim Bermula, antologi puisi Penyair Perempuan Indonesia dengan judul Kemilau Musim dan yang baru saja aku hadiri adalah peluncuran antologi puisi Penyair Perempuan Nusantara berjudul Gemilang musim di  Bandar Serai, Pekan Baru (20 Desember 2004). Keterlibatanku mengisi buku puisi tersebut tak lepas dari campur tangannya. Dialah yang merekomkan namaku untuk diundang mengirim karya kesana. Dan ketika surat undangan dari Himpunan Perempuan Seni Budaya Pekan Baru (HPSBN) tiba ke Taman Budaya Aceh, dia yang selalu mengaku pegawai rendah di sana segera menghubungiku dan berulangkali mengingatkan betapa pentingnya mengirim karya ke sana.
Sambil berebutan roti Cane, Ia menantangku.
 
“Kalau seorang Herlela Ningsih bisa menghimpun penyair nusantara dan menerbitkan buku, bagaimana dengan penyair perempuan Aceh? Bisakah ke depan penerbitan buku sastra dimulai dari sini?”
Spontan aku berseru.
 
“Bisa Mas!”
Tantangan itu bukan yang pertama dan terakhir. Dan mungkin bukan hanya kepadaku saja Ia berucap seperti itu. Besoknya, disela-sela musyawarah Dewan Kesenian Aceh, ia mengajak beberapa teman sastrawan untuk membentuk komunitas sastra. Kepadaku, ia berkata:”Sebelum musyawarah dilanjutkan, kita duduk sebentar di Meunasah Tuha untuk membicarakan komunitas sastra.  Sebanyak ini sastrawan kita masak tak bisa bergabung dalam satu bahkan lebih komunitas?”
 
Dua hal itu, kemudian menjadi hal penting bagiku setelah dia tiada. Aku kehilangannya dalam ruangan acara malam itu. Dia pulang ke Kajhu menjelang malam hari. Lubna, gadis kecilnya sakit.  Aku sempat melihat putra sulungnya yang akrab dipanggil Puput  menjumpainya menjelang sore. Ya, Puput  datang untuk mengabari keadaan adik bungsunya yang harus dibawa berobat ke dokter. Besoknya, tak ada yang mengira bencana sedahsyat itu melanda negeri ini. Jangankan rumahnya, dimana suara ombak dan lidahnya yang kadang menjulang terlihat dan terdengar nyata, radius lebih dari empat kilometer dari laut ombak begitu ganas menerjang. Dia, Maskirbi sekeluarga dan ribuan jiwa lainnya hilang tak tahu jasadnya. Tak ada yang bisa kutulis untuknya selaku penyair saat itu, meski beberapa puisi  sempat kutulis. Aku hanya membaca kesaksiannya dalam bait-bait puisi dimana pun aku didaulat untuk membaca puisi tsunami. Bagiku, puisi tsunami seutuhnya untuknya adalah membacakan karyanya yang abadi.
 
Aku kembali kepada dua hal penting di atas. Pertama, penerbitan karya sastra dan yang kedua, komunitas sastra. Penerbitan karya sastra di Aceh pasca tsunami menjadi hal yang menarik untuk diperjuangkan. Bagaimana tidak, karya-karya sastra yang telah dibukukan dan disimpan di perpustakaan-perpustakaan, dijual di toko-toko buku, mengisi lemari buku para kolektor, dan yang dimiliki para sastrawan hampir semua hancur diremuk tsunami. Penerbitan karya sastra serta merta menjadi pemikiran dan tentu untuk memulainya dibutuhkan lembaga resmi. Bersama beberapa teman yang komit di bidang sastra, akhirnya kami (Helmi Hass, Harun Al Rasyid, Sulaiman Tripa, Saiful Bahri,  dan D Kemalawati) dibantu oleh Erwinsyah dan Mutia Erawati menggerakan   Lapena (Lembaga Kebudayaan) yang telah didaftar dengan resmi  ke notaris pada September 2004. Lapena belum eksis  karena pendirinya Helmi Hass yang sekaligus menjadi derektur eksekutif, saat itu masih sebagai ketua Dewan Kesenian Aceh.
 
 Antologi puisi Ziarah Ombak (Lapena, 2005) adalah buku pertama yang diterbitkan Lapena.  Untuk pertama kalinya, bersama Sulaiman Tripa menjadi editor buku puisi yang memuat puisi penyair Aceh yang selamat tsunami, penyair Aceh korban tsunami, penyair Indonesia dan luar negeri yang menulis tentang tsunami Aceh. Buku Ziarah Ombak itu diluncurkan pertama sekali di Universitas Kebangsaan Malaysia, atas inisiatif Sastrawan Malaysia Siti Zainon Ismail yang merupakan Pensyarah di sana. Ziarah Ombak menjadi satu-satunya buku puisi yang diraikan besar-besaran di Pustaka Negeri Awam Perak atas anjuran Raja Ahmad Aminullah, penyair dan pelukis Malaysia yang masih kerabat dekat Raja Perak. Ke dua acara peluncuran buku tersebut, puisi Kesaksian Maskirbi dan puisi Kepada Pelukis Ombakku Virse Venny selalu kubacakan. Dan yang kutahu kedua puisi tersebut selalu membuat emosi pendengarnya begitu teraduk-aduk. Konflik dan tsunami, dua tragedy besar yang meluluhlantakkan Aceh terungkap jelas dan tuntas dalam dua puisi tersebut. Bahkan, saat puisi tersebut dibacakan di Ubud pada Malam Untuk Aceh dalam rangkaian Ubud Writer and Reader Festival (2005), penonton yang pada umumnya tak memahami bahasa Indonesia tak mampu menahan air matanya (kesaksian Robin Lim, Bumi Sehat Bali)
 
Setelah Buku Ziarah Ombak, para pendiri Lapena yang memiliki naskah  seperti: Sulaiman Tripa, Harun Al Rasyid, D Kemalawati mulai merapikan naskah dan mengusahakan dana penerbitan. Maka terbitlah  setelah itu kumpulan cerpen Menunggu Pagi Tiba, karya Sulaiman Tripa (Lapena, 2005), Kumpulan puisi Surat Dari Negeri Tak Bertuan, karya D Kemalawati (Lapena, 2006), dan berturut-turut setelah itu antologi puisi Nyanyian Manusia (Harun Al Rasyid), Garis ( puisi Wina SW1), Lampion (Kumpulan puisi penyair perempuan Aceh), Aku, Bola dan Sepatu (Puisi Fathurrahman Helmi), Pada Tikungan Berikutnya (kumpulan cerpen Musmarwan Abdullah). Tanah Perempuan (naskah drama Helvi Tiana Rosa),  dan lainnya.
 
Setelah hampir sembilan tahun, sudah tiba saatnya aku menulis tentang dua harapan Maskirbi padaku  yang dengan kehendakNya telah terujud meski jauh dari kesempurnaan. Lebih dari tiga puluh judul buku sudah kami terbitkan dan Lapena sebagai lembaga yang bergerak di bidang kebudayaan meski tanpa sponsor masih tetap melaksanakan kegiatan sastra. Dan malam ini, di sela peluncuran buku puisi Secangkir Kopi yang diterbitkan The Gayo Institute aku bangga bisa memberikan beberapa buku sastra terbitan Lapena kepada Victor Pagadaev. Aku ada bersama karya, bersuara bersama penyairnya, bersama dengan komunitas sastra lainnya yang tumbuh dan berkembang dengan sehat. Berbahagia atas kelahiran buku-buku yang akan bersaksi setelah kita tiada. Aku merasakan Maskirbi ada bersama Salman Yoga, Wiratmadinata, MY Bombang, Fikar W Eda dan penyair lainnya, membaca karya di panggung yang sama malam tadi.
 
Bukan hanya mengharap aku bisa menerbitkan buku, mendirikan lembaga kebudayaan, tetapi perjalanan-pergaulanku dalam ranah sastra ini juga berawal dari kepercayaan yang diberikannya kepadaku pada awal-awal keberadaanku dalam dunia sastra. Di beberapa lomba baca puisi, Maskirbi sebagai juri memberikan nilai bagus untukku hingga beberapa kali aku menjadi juara baca puisi. Bermodalkan juara baca puisi, aku diikutsertakan dalam pagelaran puisi teateral bersama Wina SW1, Sumiati, Inda Rufiani, Fikar W Eda, Wiratmadinata, AA Manggeng di Taman Ismail Marzuki. Aku melihat bagaimana sosok Maskirbi yang berbadan mungil itu begitu besar pengaruhnya di sana. Banyak sastrawan besar yang kenal dekat dengan Maskirbi dan akrab dengannya. Itulah saat pertama kali aku tampil di panggung nasional dan bertemu dengan banyak penyair nasional.
 
Maskirbi secara khusus pernah mengajakku bergabung dengan teater Mata, pimpinannya. Aku masih mahasiswi saat itu. Dan akan segera praktek mengajar. Aku tak ingin terikat dengan jadwal latihan yang ketat yang berlaku di Teater Mata. Jadi aku memilih untuk tidak menjadi anggota aktif dan siap bermain dengan teater mana saja yang tidak mengikat anggotanya. Bila pada akhirnya aku lebih focus pada menulis, membaca puisi kurasakan restu dari Maskirbi dengan memilih puisi-puisiku untuk lomba baca puisi Piala Maja. Maskirbi juga yang memulai menjadikan aku juri baca puisi. Andai hari ini Maskirbi masih ada, Ia pasti merasa tak salah mengajakku menjadi juri karena aku telah menjadi juri/curator tingkat nasional.
 
Walau kadang aku gamang dengan kemampuanku, aku tetap telah melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Dan sebenarnyalah kegamangan yang kurasakan itu kubaca juga dalam puisi Maskirbi saat aku tak tahu untuk apa kutulis puisi.
 
UNTUK APA MENULIS PUISI
Maskibi
 
Terkadang kita terperangkap
oleh ketidak benaran
lalu mengawini ketidakjujuran
kesadaran cuma sebuah kesaksian
seperti bumi ketika menyaksikan matahari
diperkosa bulan
 
kita semakin tidak mengerti
untuk apa menulis puisi
bila Cuma sebagai saksi
bila Cuma sebagai puisi
 
terkadang kita terpenggal-penggal
mencincang tubuh sendiri
karena kita sering menikam kesadaran
kita tak lebih sebagai pembunuh
lalu untuk apa menulis puisi
 
Banda Aceh, 29 Agustus 1986
 
Ya, kadang aku  bertanya, “Untuk apa menulis puisi?”
Sekarang aku berharap dengan menulis  puisi semoga menjadi saksi setelah aku tiada.
 
 
Banda Aceh, Akhir September 2013
 
Dari: facebook.com/deknong.kemalawati

Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki