Air di Muara Sungai Singkil

Oleh Thayeb Loh Angen
Aktivis di PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki)
Muara Sungai Singkil. Gambar: panoramio.com

Setelah menempuh perjalanan sejauh 650 kilometer dari Banda Aceh, sampailah kita di Singkil, hujung selatan Aceh. Melewati sebuah pelabuhan perahu yang menyeberang ke Pulau Banyak, sampai pada tepian kuala, di sana ada pelabuhan perahu ke Pulau Baru. Di sisinya ada sebuah makam dengan tulisan huruf Jawi yang ala kadar, “Makam Syekh Abdurrauf”.


Menurut beberapa tokoh di Pantai Selatan Aceh, makam tersebut berada di sana baru-baru ini.

“Ada sekumpulan orang dari Padang yang mengaku bahwa maha guru mereka di masa silam adalah Syekh Abdurrrauf, dan makamnya di sana. Namun itu kata mereka, makam Syekh Abdurrauf yang benar yang ada di Banda Aceh, makam Syiah Kuala,” kata Raja Ubit, pelanjut dinasti Kerajaan Negeri Trumon.

Raja Ubit mengisahkan bahwa setelah kerajaan Singkil runtuh, kakeknya buyut Raja Ubit yang bernama Raja Ja’far yang menjadi raja Singkil berpindah ke Trumon dan mendirikan Kerajaan Negeri Trumon. Raja Ja’far adalah murid daripada Teungku Chik Di Anjong, yang makamnya ada di Pelanggahan, Banda Aceh. Tentang Trumon, insyaallah, secara lebih lengkap akan kuceritakan di waktu dan kesempatan lain. Ini adalah sepenggal cerita tentang Singkil.

Hanya sedikit yang kuketahui tentang Singkil ini, bahwa penduduknya memiliki bahasa sendiri, bahasa Jamu atau aneuk Jamee (?). Pada Jumat 24 April 2015 saat saya di sana, kebetulan tengah musim hujan. Banyak rumah tergenang di tepi kuala itu. Saya tidak tahu apakah rumah itu tergenang sementara atau selalu begitu, akan tetapi ada beberapa rumah di sana yang sepertinya tidak dihuni lagi yang menandakan bahwa di sana bukan tempat yang aman untuk ditempati. Dan, saya tidak bertanya pada penduduk di sana tentang air yang berwarna coklat itu.

Di sebuah kedai nasi yang punya tempat singgah berupa balai-balai di atas genangan air berwarna coklat, lebih jelas terlihat. Saya terpikir, mengapa warna air itu coklat, mungkin karena lama tergenang sehingga akar, daun, dan kulit kayu-kayu yang terendam itu mengeluarkan getahnya. Akan tetapi sepertinya air itu lebih banyak dari jumlah getah yang sanggup mewarnainya.

“Saudara Thayeb, menurutmu, air di sungai tadi mengapa coklat?” Tanya Dr Mehmet Ozay, seorang sosiolog asal Istanbul, Turki. Dialah yang mengajak menusuri pantai barat selatan Aceh ini.

“Itu karena pohon-pohon terendam,” jawabku.

“Saya kira tidak begitu. Bukan karena akar pohon.”

“Lalu karena apa?”

“Limbah sawit.”
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki