Sasterawan, Ambil Alihlah Kasus Saut Situmorang dan Fatin Hamama, Selamatkan Dunia Sastera Kita

Oleh Thayeb Loh Angen
Penulis novel Aceh 2025


Saut Situmorang. Foto: Tempo.co
Beberapa laman pemberita mengabarkan bahwa sasterawan Saut Situmorang dijemput anggota Kepolisian Resor Jakarta Timur di rumahnya di Danunegaran, Mantrijeron, Yogyakarta pada siang Kamis, 26 Maret 2015.

Ada ada tiga orang yang datang dan sekitar 20 sastrawan dan penulis Yogyakarta datang ke rumah Saut untuk memberi dukungan. Saut adalah penulis buku puisi saut kecil bicara dengan tuhan menumpang kereta api daripada Yogyakarta menuju Jakarta dengan didampingi Katrin Bandel, istrinya yang juga kritikus sastra, dan Iwan Pangka, pengacaranya.

Iwan Pangka menjelaskan bahawa Saut dipanggil untuk dimintai keterangan dalam kasus pencemaran nama baik Fatin Hamama, kemudian pulang setelah memberikan keterangan. Fatin Hamama, penyair Jakarta, melaporkan Saut dan sastrawan Iwan Soekri Munaf ke polisi karena dianggap telah mencemarkan nama baiknya melalui komentar-komentar mereka di Facebook.

Kasus ini bermula dari terbitnya buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh yang mengguncangkan jagat sastra. Di dalam buku itu, nama Denny J.A., konsultan politik pendiri Lingkaran Survei Indonesia, masuk dalam jajaran sastrawan besar Nusantara.

Polemik soal buku itu pun ramai di laman grup Facebook bernama Anti Pembodohan Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Di situlah, Iwan Soekri, Saut, dan banyak sastrawan lain menyampaikan kritiknya atas terbitnya buku tersebut. Sejumlah sastrawan menuding Fatin sebagai “makelar” Denny J.A. dalam penulisan buku itu.

Terlepas daripada benar atawa tidaknya isi buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh yang tidak ada pengaruh apapun bagiku itu, sahaya sampaikan kepada masyarakat sastera di Indonesia, marilah kita menggandengkan tangan untuk membela setiap sasterawan.

Jangan serahkan urusan yang terkait karya sastera dan sasterawan kepada kepolisian. Apabila ada masalah, marilah kita selesaikan sesama sasterawan. Selamatkan dunia sastera.
Cukuplah sasterawan besar Indonesia Pramoedya Ananta Toer sahaja yang dipenjara karena karyanya, cukuplah karya Bapak Sastera Dunia Melayu (Asia Tenggara) Hamzah Fansuri sahaja yang dimusnahkan karena perbedaan pendapat dengan penguasa.

Wahai handai taulan sekalian sasterawan di Indonesia, terutama yang bertempat tinggal dekat dengan Fatin Hamama dan Saut Situmorang, ambillah alih kasus itu daripada kepolisian dan marilah kita tangani sendiri urusan masyarakat kita, masyarakat sastera.

Pemain film dan penyanyi ada yang telah terjun ke dunia politik, sebahagian daripada mereka telah tercemarkan namanya. Kita, wahai handai taulan masyarakat sastera, semasih ada waktu, marilah menyelamatkan dunia dan masyarakat kita, dunia dan masyarakat sastera. Ambil alihlah kasus Fatin Hamama dan Saut Situmorang. Salam sastera daripada Banda Aceh.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki