Ketika Bunda Gemakan Ratib di Lamuri

Oleh Thayeb Loh Angen
Aktivis di Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT), penulis novel Aceh 2025

Benteng Inong Balee, Aceh Besar. Foto: hananan.com
Zikir bersama dalam bentuk ratib berisi nazam tujuh pucuk, yakni: Saleuem Aceh, Pembicaraan Anak dan Ibu, Anak Tidak Berbakti, Bumoe Aceh Seuramoe Mekkah, Pengakuan Insan terhadap Po Teuh Allah, Pengakuan Nabi Saat Menjelang Wafat, Amanah Para Ulama, telah berkumandang di Benteng Inong Balee.

Ratib merupakan hal yang biasa di dalam kebudayaan Aceh. Ianya adalah bagian dari jenis ibadat sunat kepada Allah Ta’ala. Ratib tidak pernah menjadi masaalah bagi orang-orang yang beriman. Yang menjadi masalah ialah cara memandang sebuah ratib bagi orang-orang yang lemah imannya, atau bahkan tidak beriman sama sekali.

Adalah hal yang mengejutkan tatkala ada sebuah berita bertajuk “Ada Praktik Aneh Di Benteng Inong Bale” muncul di sebuah media online di Aceh. Ini terjadi karena kurangnya komunikasi di antara penilai kejadian dan penyiar berita tersebut, atau ada pihak yang sengaja atau secara kebetulan telah berusaha menghindari terangkatnya situs Lamuri di permukaan perbincangan dari sisi baik.

Di dalam sebuah perbincangan panjang, di hadapan beberapa lelaki dan perempuan anggotanya, pada Senin 2 Maret 2015, Bunda menjelaskan bahwa penilaian tidak baik itu ditujukan kepadanya berawal dari kesalahan pengunjung yang tidak memberikan salam saat datang, sementara pihaknya telah terlebih dahulu berada di Benteng Inong Balee.

Di dalam budaya Aceh, adalah kewajiban bagi tamu untuk menghormati pemilik tempat atau orang yang telah terlebih dahulu berada di suatu tempat. Pemberitaan yang syarat jurnalistiknya kurang memadai tersebut telah melahirkan bias yang beragam.

Di sini terlihat bahwa Bunda dan Lembaga Inong Merdeka (LIM) telah melakukan hal yang penting dengan mengunjungi benteng Aceh yang dibuat orang-orang yang telah berjasa di dalam memperjuangkan kejayaan Islam di masa dahulu.

Apabila ada orang yang menilai dengan cara salah apa yang dilakukan oleh Bunda dan anggotanya di sana, maka itu adalah kesalahan orang tersebut. Sebaiknya kita tidak membicarakan hal yang tidak kita mengerti, dan hanya mengabarkan kebaikan kepada khalayak demi kebaikan ummat.

Ratib yang dipermasalahkan itu terjadi pada sore Minggu 15 Februari 2015 yang turut dihadiri geuchik Lamreh, anggota Polsek Krueng Raya, dan anggota kompi Lampanah. Acara ini dibuat oleh LIM yang memiliki akta Notaris no 27, 20 Agustus 2014.

Untuk melaksanakan acara tersebut, pihak LIM telah memiliki Surat Izin Polsek Krueng Raya, No: SI/03/I/2015/Polsek. LIM juga melayangkan sepucuk Surat ke BPCB dengan nomor 009/Lim/NPJ/II/2015, ditanda tangani oleh geuchik Gampong Lamreh. Selain itu, untuk acara ini, LIM telah membuat sebuah rapat keikutsertaan di Gampong Lamreh, tanggal Jumat 23 Januari 2015, pukul 14.40 sampai WIB. Rapat itu berlangsung dan ditandatangani oleh seratusan orang penduduk setempat.

Sekali lagi, penting untuk diingat bahwa tidak ada pemburu harta karun di Benteng Inong Balee dan di situs Lamuri Lamreh. Apabila ada yang menyebutnya begitu, maka harus dipertanyakan kesadaran orang tersebut. Kita tahu bahwa Karun tidak pernah membawa hartanya ke sana, akan tetapi itu terbenam di sebuah kampung di bagian tengah bumi.

Di Benteng Inong Balee hanya ada bebatuan yang tersusun terekat sebagai benteng pertahanan Laksamana Keumala Hayati dan beberapa makam, dan di bekas Kerajaan Lamuri hanya ada nisan-nisan berlumut dan semak belukar.

Di Benteng Inong Balee, Bunda dan LIM hanya ingin membangun sebuah balai, museum, dan semacamnya sebagai tempat untuk memudahkan pengunjung supaya bisa membaca dan memahami sejarah Laksamana Keumala Hayati di tempat itu. Hanya itu. Harta karun Aceh yang sebenarnya adalah tokoh-tokohnya yang setingkat dengan tokoh besar di dunia lainnya.

Mendengar perkataaan Bunda yang penuh semangat untuk mengangkat marwah Aceh pada malam itu, di hadapan beberapa orang anggotanya yang semuanya bekas gerilyawan, kita langsung terbayang akan suatu masa tatkala Laksamana Keumala Hayati memimpin armada Aceh Darussalam di Selat Melaka yang di kapal-kapalnya berkibar bendera merah bersulam bulan sabit dan bintang lima, sebagai anggota koalisi Kekhalifahan Turki Utsmani.

Dari raut wajah Bunda terlihat semangat ini sebagaimana pernah terlihat pada diri sahabat karibnya almarhumah Cut Nur Asikin yang syahid dihempaskan gelumbang raya di dalam penjara.

Hanya semangat seperti itulah yang mampu mengumpulkan puluhan ribu lelaki dan perempuan untuk berlayar memerangi Portugis di Selat Melaka. Hanya semangat seperti itulah yang dibutuhkan oleh Aceh di masa kini. 
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki