Doa Giok dalam "Percakapan Batu-batu" Taufik Sentana

Oleh Thayeb Loh Angen
Penulis novel Teuntra Atom dan novel Aceh 2025

Taufik Sentana Hidayat. Foto: Facebook.com
Puisi karya Taufik Sentana yang berjudul "Percakapan Batu-batu" terlahir karena kegilaan beberapa orang Aceh terhadap batu giok baru-baru ini. Wajar saja puisi tersebut lahir karena Taufik telah lama menetap di Meulaboh -salah satu tempat yang di sekitarnyalah giok banyak ditemukan. Dan, salah satu bagian terbaik puisi ini adalah tidak ada sepatah pun kata ‘giok’ di dalamnya.

Mengapa seorang guru agama peduli pada pencabutan batu dari tempatnya yang merusak alam secara langsung dan tidak. Menggilanya orang-orang di sekeliling pada batu, tentu akan meresahkan penyair yang berpikir. Sebelum pada giok, Aceh telah pernah dijangkiti wabah bonsai dan ephorbia.
Tatkala gila bonsai mewabah, banyak tunggul kayu di kebun, bebukitan, dan hutan-hutan di Aceh digali dan dicabut. Itu sama merusak tanah dengan gilanya giok.

Puisi yang disiarkan Minggu, 22 Maret 2015 ini menarik perhatian saya karena mengangkat sesuatu dari sisi filosofis -tentu dari sudut pandang Islam karena penulisnya adalah guru agama Islam di Madrasah Tsanawiyah- tentang tindakan orang-orang di Aceh mencabut batu (giok) dari habitatnya lalu diasah menjadi cincin dan liontin.

Pada larik-larik awal puisi ini, penyair ini mengajak kita mendengarkan suara batu-batu yang usianya tidak terhitung lagi tatkala benda itu diambil dari tempatnya dan diasah. Kemudian hanya untuk menjadi hiasan. Sementara tanah tempat batu itu diambil terusak. Apabila batunya besar, bisa berakibat lebih buruk, yakni, hilangnya keseimbangan rangka tanah yang berakibat keruntuhan (longsor -Jawa).

Saat engkau memisahkan batu-batu itu dari tanah kediamannya,
membelah, atau memecah dan membentuknya
ia tetap setia pada kejadiannya.

Batu-batu itu tetap setia pada kudratnya walaupun telah dicabut dari tanah. Walaupun telah dipecah-pecahkan berkeping, lalu diasah-asah, batu-batu itu masih tetap akan terus berzikir kepada Tuhan semesta alam. Kira-kira begitulah yang dimaksudkan oleh Taufik.

Setiap serpihan dan potongan dariku
Adalah zikir untuk-Nya.
Setiap rupa baru dari wujudku
menjadi rangkaian sujudku.

Untunglah batu-batu itu hanya untuk dipakai di tangan dan leher, tidak untuk dibuat patung dan disembah sebagaimana berhala, walaupun kadang ada yang memuja-mujanya dengan anggapan bahwa beberapa jenis batu itu memiliki khasiat tertentu, kadang itu menyebabkan syirik, akan tetapi tidak sampai menjadi berhala sebagaimana kaum Hindu menyembah patung dewa dewi dan Nasrani menyembah patung Yesus dan Salib. Kepercayaan terhadap adanya khasiat dari batu sudah ada sejak masa silam, jauh zaman sebelum penyakit gila giok menjangkiti sebagian masyarakat Aceh dari orang renta sampai anak-anak.

Mengapa batu-batu itu tidak dibiarkan saja di tempatnya seumur masa supaya mereka bertasbih kepada Allah Taala dengan nyaman? Begitulah risauan lelaki yang pernah bergabung di FLP Aceh periode awal berdirinya.

Batu-batu itu telah dicabut dari tanah, kelak kita yang akan ditanam sebagaimana batu-batu itu, dulunya. Puisi Taufik bukan ini saja, banyak puisi yang telah ditulisnya, akan tetapi entah kapan buku kumpulan puisi anak Melayu ini akan dapat kita baca. Puisinya ini, walaupun tidak sesyahdu karya Amir Hamzah dan tidak semendalam karya Hamzah Fansuri, akan tetapi telah bisa dimasukkan ke dalam puisi yang berhasil, setidaknya untuk ukuran puisi yang ditulis di Aceh di zaman ini.

Bila dibandingkan dengan saya, Taufik Sentana Hidayat jauh lebih ahli menulis, dan ia beruntung bisa menulis puisi, bukan seperti saya yang ingin menjadi penyair malah novel yang saya terbitkan.

Dan, percakapan batu-batu yang didengarkan Taufik dari alam Meulaboh akan terus terdengar sepanjang zaman, melintasi masa batu kembar untuk kita berbicara. Batu kembar yang tidak mengiasi jemari tangan ataupun kalung di leher yang disebut cincin dan liontin berharga mahal. Batu kembar itu tidak semahal giok, itu batu disebut nisan, satu di kepala, satu di kaki.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki