Badruzzaman Ismail: Ali Hasjmy Seorang Humanis, Rendah Hati, Religius, dan Tidak Pakai Ajudan

Ketua MAA (Majelis Adat Aceh) Badruzzaman Ismail (kiri), Pakar pendidikan dan guru besar di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Darwis A. Soelaiman (dua dari kanan), sastrawan dan pendakwah Ameer Hamzah (kanan), di acara memperingati 101 Tahun Lahir Ali Hasjmy yang dilangsungkan di Gedung Turki Sultan II Selim ACC, Banda Aceh, Selasa, 17 Maret 2015. Acara ini dilaksanakan oleh PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh - Turki (PuKAT) dan Managemen Gedung Turki Sultan II Selim ACC. Foto: Ariful Azmi Usman.
Banda Aceh - Ali Hasjmy (1914-1998 M) merupakan seorang budayawan yang memiliki pikiran-pikiran yang universal dan memperhatikan kemanusiaan. Ia hampir tidak pernah terlibat dengan konflik fisik dengan siapapun dirinya seorang yang humanis dan menghindari konflik dengan siapapun. Saat menjadi gubernur Aceh, Ali Hasjmy tidak memakai ajudan.

Demikian kata Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Badruzzaman Ismail, di dalam acara memperingati 101 Tahun Lahir Ali Hasjmy yang dilangsungkan di Gedung Turki Sultan II Selim ACC, Selasa, 17 Maret 2015. Menurutnya, karena terlalu humanis, sesekali pengikutnya semisalnya di kampus kesulitan dengan sikap filosofis. Pernah, Ali Hasjmy menjenguk seorang artis yang dipenjara dengan membawa buku dan semacamnya sampai artis itu menangis karena kepedulian itu.

“Saya sering mengkritisi Ali Hasjmy, tapi di luar forum, jarang yang berani mengkritiknya. Saya melihat keteguhan Ali Hasjmy memegang pada Allah dan rasa sayangnya pada alam dan manusia. Mereka melayani siapapun, dari pembesar sampai pengemi. Saya setuju dengan pak Prof Dr Darwis. Saya mendukung pendapat bahwa Ali Hasjmy seorang filsuf,” kata Badruzzaman.

Badruzzaman megatakan bahwa dirinya pernah bertanya tentang maksud Ali Hasjmy menulis puisi berjudul Aku Serdadumu. Ali Hasjmy menjawab, “Kelemahan kita adalah tidak pernah menghargai jasa baik orang. Dia itu pemimpin besar”. Dan karenanya Badruzzaman kagum pada Ali Hasjmy.

“Tidak ada ilmu hari ini tanpa ada ilmu orang dulu. Benang merah itu terus berlanjut. Saat pertemuan di Helsinki, saya singgah di Jerman, masuk ke sebuah universitas. Di sana ada sebuah patung pendiri universitas. Saya juga lihat di Malaysia, ada beberapa orang yang mengambil Ali Hasjmy sebagai disertasinya. Di Aceh bagaimana?” kata Badruzzaman.

Tokoh adat ini menjelaskan bahwa di dalam kehidupan budaya Aceh, tidak ada gap antara agama dan negara. Itu yang dipertegas oleh Ali Hasjmy yang merupakan tokoh yang mementingkan pendidikan.
“Ali Hasjmy sangat mandiri. Ia tidak pernah minta bantuan pada orang. Ia selalu mengangkat sendiri kopernya. Di dalam tasnya banyak alat. Ada radio kecil yang pada malam ia putar radio-radio seluruh dunia sehingga sering ditelpon oleh radio seperti BBC untuk diwawancarai,” kata Badruzzaman.

Ketua MAA menjelaskan bahwa Ali Hasmy selalu menyiapkan semua kebutuhan pribadi dengan baik, tidak ada yang tergesa-gesa. Ali Hasjmy adalah orang yang tidak suka mitos. Semangatnya luar biasa. Kepribadiannya diteladani. Ketika ia datang di sebuah acara, semua hadirin diam, bahkan sampai Ali Hasjmy duduk belum ada yang berani bicara.

“Saya selama 12 tahun dekat dengannya, tidak pernah saya dengar sekalipun dia memburuk-burukkan orang. Saya pernah memancing, tapi beliau santai saja. Pernah orang mengkritisi tulisannya. Ia menjawab, ‘itu yang beliau lihat, belum habis ia kupas, dan ini pendapat saya, belum habis saya kupas,” kata Badruzzaman.

Badruzzaman pernah menyampaikan kepada Ali Hasmy tentang adanya orang yang memprotes mengapa Ali Hasjmy saja yang ditulis, sementara orang lain pun banyak jasa tapi tidak ditulis. Ali Hasmy menjawab, “Yang saya buat belum habis saya tulis. Kalau orang merasa ada berbuat, maka tulislah.” Ali Hasmy seorang pemberi semangat (motivator).

“Beliau hidup sederhana. Saat beliau meninggal, wajahnya kuning dan prosesnya cepat. Ali Hasjmy membalikkan pendapat bahwa Aceh menjajah Malaysia. Kata Ali Hasjmy, Aceh membantu Malaysia melawan Portugis. Waktu beliau dioperasi menjelang meninggal, yang beliau tangisi adalah museum dan pustakanya,” kata Badruzzaman.

Menurut Badruzzaman, bangsa besar adalah bangsa yang menjaga prinsip budayanya. Mereka sanggup membuat subur negerinya yang kering kerontang. Aceh punya banyak SDA tapi membuang-buangnya. Kita tidak bersyukur.

“Waktu mendirikan fakultas dakwah, Prof Harun Nasution membantah ide Ali Hasjmy untuk nedirikan fakultas dakwah bahwa itu adalah sebuah lelucon. Namun Ali Hasmy menyatakan bahwa sumber ilmu adalah dakwah. Dan kemudian Fakultas Dakwah disetujui, didirikan di IAIN banda Aceh, lalu di seluruh banyak tempat di luar Aceh,” kata Badruzzaman.

Lapuran Thayeb Loh Angen, Pusat Kebudayaan Aceh - Turki (PuKAT).
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki