Tentang Harapan

Oleh Thayeb Loh Angen
Penulis novel Aceh 2025, aktivis di PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh - Turki) 


Tatkala mentalmu terjatuh dan keadaan terasa begitu buruk menimpamu namun setelah beberapa saat setelahnya engkau berpura-pura menyakini bahwa keadaan akan segera lebih baik, itulah salah satu contoh harapan.

Sebagai orang yang dilahirkan dan dibesarkan di dalam keluarga miskin, saya tahu tentang itu. Akan tetapi itu belum seberapa, ada yang lebih buruk, yakni ketika engkau terjebak di dalam sebuah perang atau terlibat dengan sebuah perang yang tidak mungkin dimenangkan. Hal lainnya adalah saat dikhianati, putus cinta, dan sebagainya yang bahkan bisa membuat lelaki perkasa pun bisa menangis, biasanya di tempat yang tidak dilihat oleh seorang pun.

Harapan, bisa dipikirkan dan dirasakan. Maka, di bagian anggota tubuh manakah terletaknya harapan itu? Apakah di hati ataukah di otak? Mungkin, itu bukan di keduanya, akan tetapi harapan berhabitat di tulang punggung setentang jantung, setelah dikilaskan oleh hati dan ditanggapi oleh otak kiri untuk diperintahkan ke seluruh anggota tubuh.

Harapan itu tidak memakai otak kanan, hanya sanya otak kiri, setelah diolah, lalu disimpan di tulang punggung. Karenanya, harapan itu tidak pernah logis, akan tetapi ia telah membuat jutaan orang di bumi ini bisa hidup lebih lama daripada orang yang hilang harapan yang seharusnya, bisa mengubah keadaan sulit menjadi keberuntungan, karena orang itu memiliki harapan.

Apabila ada yang bertanya, bukankah manusia itu berpikir dengan otak, tidak dengan hati atau tulang punggung? Benar sekali. Setelah berdiam di tulang punggung, otak kiri dan otak kanan mengolah data yang disebut ‘harapan’ itu dan menyebarkannya ke seluruh tubuh.

Lalu, bagaimanakah kita menyiasati diri supaya selalu memiliki harapan walaupun di tengah keadaan yang dianggap terburuk sekalipun? Sebagian orang menyebut harapan sebagai pikiran optimis.
Sebagai contoh, sebelum penandatanganan (MoU) perdamaian antara RI-GAM di Helsinki pada tahun 2005, orang GAM menciptakan slogan untuk menjaga harapannya dengan tiga kata, yakni ‘Sibak rukok teuk’ (sebatang rokok lagi), lengkapnya, ‘Sibak rukok teuk ka meuase nanggroe’ (Sebatang rokok lagi disulut-hisap] negeri ini [Aceh] sudah berhasil [merdeka). Itu sangat ampuh sebagai propaganda menarik pendukung baru atau mempertahankan pendukung yang sudah ada.

Dalam yang lebih tinggi, harapan pada Allah Ta’ala akan membuat orang merasa tenteram hidup di dunia dan meyakini ia juga akan tenteram damai di hari kebangkitan yang ia percayai akan adanya. Harapan, tentu ada tertujunya, harapan pada apakah. Misalnya, karena memiliki harapan akan diberikan dan ditambahkan cinta Allah Ta’ala kepada dirinya, maka seseorang akan mengamalkan semua yang diperintahkan dan menjauhi segala larangan-Nya. Begitu pun dalam segala bidang yang lain. Kita, manusia adalah anak harapan.

Barang siapa yang tidak memiliki harapan apapun lagi di dunia ini karena putus asa, orang itu akan mati. Dan barang siapa yang tidak memiliki harapan apapun pada kepentingan duniawi yang sia-sia, niscaya orang itu akan menjadi manusia yang kasyaf, tabir-tabir penghalang dunia nyata dengan yang tersembunyi akan disingkapkan dari pandangannya.

Orang dengan tingkatan jiwa seperti ini akan sanggup menghadapi keadaan sesulit apapun. Rasa sakit dan senang tidak akan mengubah pendiriannya. Harapan, biasanya akan mempengaruhi seluruh rentang waktu kehidupan sesorang. Maka, apakah harapanmu?

Engkau termasuk orang yang sial apabila harapan-harapanmu hanya untuk kepentingan dunia, sampai dirimu dijemput ajal saja, yang engkau dan aku tahu bahwa hanya ada beberapa orang saja yang berkesempatan hidup seratus tahun atau lebih.

Maka, dunia ini adalah medan perjuangan untuk mendapatkan yang terbaik di akhirat. Kita akan menikmati dunia ini sebatas yang sesuai dengan sunnah Nabi dan Tuhan seru sekalian alam. Apakah begitu harapanmu? Hanya orang-orang yang bisa mengendalikan harapannya sendirilah yang bisa menjadi manusia sejati.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki