Novel Aceh 2025 dan Mitos Menulis itu Mudah

Oleh Thayeb Loh Angen
Penulis novel Teuntra Atom dan novel Aceh 2025


Judul: Aceh 2025 - 1446 H
Penulis: Thayeb Loh Angen
ISBN: 978-602-71720-0-5
Tebal: 340 Halaman
Penerbit: Yatsrib Baru

Apakah Anda pernah mendengar kalimat “Menulis itu mudah”? Saya pernah mendengarnya. Saya suka kalimat itu, bisa membangkitkan semangat orang untuk menulis. Namun setelah saya belajar menulis selama beberapa tahun, dari tahun 2005 sampai 2015, saya baru menyadari bahwa kalimat tersebut adalah sebuah kedustaan yang disengaja, hanya sebuah mitos. Baik, ini kubuktikan bahwa kalimat itu adalah dusta belaka.

Sejak akhir tahun 2010, saya mulai mengarang sebuah cerita yang menggambarkan keadaan Aceh sekitar tahun 2021. Saya telah meminta beberapa orang kawan untuk membaca naskah kacau tersebut, dan Alhamdulillah mereka memberikan beberapa pendapat yang membuat cerita itu lebih baik. Saya ingin naskah itu bisa diterbitkan pada tahun 2012, apatah daya, ternyata belum bisa.

Akhirnya saya harus mengubah angka tahun dan menyesuaikan beberapa bagian cerita sehingga judulnya menjadi Aceh 2025 (1446 H). Naskah itu telah diubah beberapa kali, termasuk menambahkan bagian akhir ceritanya. Di sini, kukatakan tentang bagaimana saya menulis sebuah novel.

Apabila saya telah menetapkan ingin menulis sebuah novel, yang pertama kali kubuat adalah kerangka ceritanya. Biasanya saya menulis bab pertama dan yang terakhir terlebih dahulu. Setiap orang memiliki cara berbeda, akan tetapi saya ingin tahu sebuah cerita itu berakhir bahkan sebelum dimulai.

Saya ingin melihat gambaran besarnya terlebih dahulu. Baru kemudian memilih tema-tema yang sesuai dengan cerita tersebut, dan menentukan judul babnya. Bagiku, membuat bab pertama dan terakhir adalah bagian tersulit dari sebuah novel, karenanya aku menulisnya terlebih dahulu lalu kuperbaiki lagi setelah semua bab lain selesai. Dan, membuatnya menjadi sebuah cerita yang memiliki isi yang mendalam ternyata lebih sulit lagi. Maka, apanya yang mudah?

Itu sudah kualami sejak menulis draf novel Teuntra Atom pada tahun 2005 yang mengikuti riwayat hidupku sendiri yang diubah sedikit di beberapa bagian. Memang, menulis riwayat hidup sendiri jauh lebih mudah, akan tetapi, yang terhitung mudah itu pun butuh waktu beberapa tahun. Sekali lagi, di manakah mudahnya?

Apalagi kalau kita menulis cerita masa depan yang tahunnya hanya berjarak sepuluh atau belasan tahun dari buku itu ditulis atau diterbitkan. Itu berkali-kali lebih sulit daripada menulis cerita yang mengambil masanya saat sekarang, masa silam, atau masa depan yang lebih seratus tahun setelah buku itu ditulis atau diterbitkan.

Menulis cerita seperti Aceh 2025 yang diluncurkan pada 2015 jauh lebih sulit karena penulisnya harus menyiapkan diri menghadapi banyak cercaan tatkala orang-orang dan dirinya melewati masa yang disebutkan di dalam buku tersebut. Memang, itu hanya cerita karangan, akan tetapi sebagian orang tidak menganggapnya begitu.

Sebagai kabar untuk Anda, di sini kugambarkan sedikit tentang isi buku Aceh 2025. Buku ini mengisahkan keadaan Aceh pada masa sekitar tahun 2025 Masehi yang ceritanya diketahui melalui perjalanan tokohnya Tuanku Ben Suren dan Cut Benti Surenia. Di dalamnya tersebut bagaimana kronologis Aceh bisa berubah.

Perubahan total Aceh, di dalam buku ini disebutkan berawal dari sebuah revolusi yang terjadi di Banda Aceh pada tahun 2020 Masehi. Revolusi itu digerakkan oleh sebuah perkumpulan yang tidak diketahui, namun ada sedikit gambaran tentangnya.

Tahun 2025 adalah puncak dari perubahan tersebut. Saat itu Aceh telah dibagi ke dalam enam wilayah pembangunan, yaitu: Banda Aceh - Sabang, Meulaboh - Nagan Raya, Barus-Kutacane, Lhokseumawe-Aceh Utara, Takengon-Bener Meriah, Tamiang-Medan. Setiap wilayah ini memiliki hak otonom dan masing-masing penduduknya membangun wilayah sendiri dalam kesatuan Aceh.

Peristiwa besar yang tertulis di dalam novel Aceh 2025, di antaranya: revolusi pada tahun 2020 Masehi, badai pada 2025 yang menyebabkan tokoh utamanya terdampar ke Male di Maladewa, Hadramaut di Yaman, Siprus dan Istanbul di Turki, dan New York dan Silicon Valley di Amerika Serikat.

Kejadian besar lainnya adalah pembangunan Jembatan Banda Aceh-Sabang-Pulo Aceh, pembangunan jalan rel kereta listrik dari Banda Aceh-Meulaboh-Medan, Banda Aceh-Lhokseumawe-Medan, Lhokseumawe-Takengon-Meulaboh, dan lain sebagainya.

Novel Aceh 2025 mengisahkan bagaimana sistem pemerintahan, pendidikan, ekonomi, hukum, kehidupan beragama dijalankan dengan baik. Pola kehidupan itu terlihat dari perjalanan kedua tokohnya dan cerita orang-orang kepada mereka yang berusia sekira dua puluh tahun pada 2025. Buku ini punya 21 bab. Bab 1 mengangkat keadaan Aceh pada tahun 2020 Masehi dan bab terakir tentang 2030. Bab 2 sampai 20 mengisahkan Aceh di tahun 2025.

Untuk pertama kali, Novel Aceh 2025 akan diluncurkan di (bekas) restoran Lamnyong, kedai Aneuk Kupi, Banda Aceh pada 12 Februari 2015. Dalam peluncuran itu, penulis Musmawan Abdullah, Herman RN, dan Salman Yoga S akan bicara tentang buku tersebut. Untuk kali kedua, rencananya, insyaallah, diluncurkan di Paloh Dayah, Lhokseumawe, pada Jum'at 13 Maret 2015. Pembicara: Arafat Nur, Mahdi Idris, dan sastrawan lainnya. Direncanakan, peluncuran dan bedah buku ini akan diperbuat di beberapa tempat di Aceh dan luarnya.

Kembali pada kalimat bahwa menulis itu mudah. Setahuku, itu hanya benar jika kita menulis “Aku cinta kamu” di pasir pantai, dengan jari telunjuk, tanpa dilihat seorang pun. Kalau ada orang yang bisa membuktikan bahwa menulis itu mudah, silakan kirim bukti tersebut dan gambar orangnya ke emailku, yakni thayeb.zs@gmail.com. Lalu, saya akan memberinya baterai baru karena ia bukan manusia, akan tetapi robot yang dibuat untuk menjadi penulis.

Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki