Mengenal Abuya Muhibbuddin Waly

Mengenal Alm. Saidul Mursyidin. Abuya Syaikh Prof. DR. H. Tgk. Muhibbuddin Muhammad Waly (17 dec 1936 M / Kamis 3 Syawal 1355 H - 7 Maret 2012 M / 14 Rabiul Akhir 1433 H)

Kalimat terakhir Abuya Muhibbuddin Waly

“Jangan kita mengupas mangga yang belum masak, artinya jangan kita mengambil pengajian tarikat pada yang bukan ahlinya. Jika begitu, tunggulah kiamatnya. Dia harus bisa menyelesaikan dan mensyurahkan permasalahan syari’at yang terjadi pada masyarakat, ilmu hakikat, ilmu ma’rifat, Ihya ulumuddin dan Al-Hikam dalam memberikan pengertian dan pemahaman. Jadilah engkau hidup di dunia ini seolah-olah engkau hidup selamanya, tapi kalau soal agama tidak bisa, mesti sekarang juga karena mungkin esok kita mati , akhirnya muncullah penyesalan yang tidak ada habis-habisnya….. Hidup ini adalah perjalanan panjang yang azab, sebentar lagi rehat. “

Abuya Muhibbuddin Waly. darussalamalwaliyyah.blogspot.com

Oleh: Tgk Amal Muhibbuddin Waly
Anak daripada Almarhum Abuya Muhibbuddin Waly

Beliau adalah putra tertua dari Syaikh Haji Muhammad Waly Al-Khalidy dengan Hajjah Rasimah, istri beliau yang pertama. Rais ‘Am Dayah/pesantren Darussalam Labuhan Haji Aceh Selatan. Lulusan pertama secara resmi dari Asia Tenggara di abad modern, yang mendapat doktor (Ph.D) Syariah Islam, dalam bidang Ushul Fiqh al-Islami (The Roots-The oracle of Islamic Law Section) di universitas Islam terbaik dan tertua di dunia yaitu Al-Azhar, Kairo,  Mesir – Egypt (1964-1970). Beliau adalah Satu-satunya mahasiswa yang mempertahankan thesis di Aula Syaikh Muhammad Abduh di Mesir. Mendapatkan gelar Professor dari Universitas Ilmu Al-Qur’an di Jakarta dan menjadi Imam besar Masjid Istiqlal Jakarta pada saat itu. Abuya Muhibbuddin Waly juga menjadi guru besar (Professor) Pensyarah kuliyyah of Laws di Universitas Islam Antar Bangsa (International Islamic University) di Malaysia.

Beliau memiliki ribuan murid yang tersebar di seluruh tanah Melayu Nusantara mulai dari Aceh sampai ke tanah Jawa, Sulawesi, Malaysia bahkan Brunei Darussalam dan pattani (siam). Ulama yang gigih dalam memperjuangkan aqidah Islam Ahlussunnah waljama’ah dan mengarang syarahan kitab Al-Hikam (Hakikat Hikmah Tauhid dan Tasawwuf) yang dibuat oleh Al Imam Ahmad Abul Fadhal gelar Tajuddin bin Muhammad bin Abdul Karim bin Athaillah Iskandari (Askandari). Kitab syarahan Al-Hikam ini telah diakui oleh seluruh ulama-ulama Melayu Nusantara pada pertemuan di Singapore bulan Februari 1992 Untuk ditetapkan sebagai acuan utama bagi syarahan resmi Al-Hikam yang dipakai oleh seluruh ulama di tanah Melayu Nusantara.

Selain mendapatkan ijazah Thariqat dari Syaikh Haji Abdul Ghani Al Kampari dan dari ayah beliau Syaikh Haji Muhammad Waly, Beliau juga mendapatkan ijazah dalam menyebarkan seluruh hadist-hadist Rasulullah SAW dan ajaran Thariqat-Thariqat Mu’tabar di kalangan ahli tasawwuf dari ulama besar Masjidil haram Syaikh Muhammad Yasin Al Fadaany dan Al ‘Alim Al Muhaddist Syaikh Sayyid Muhammad bin sayyid ‘Alawy bin Sayyid Abbas Al Maaliki Al Hasany yang mana beliau merupakan anak dari ulama besar Masjidil Haram yang juga merupakan guru dari Syaikh H. Muhammad Waly Al-Khalidi yang bernama Syaikh Ali Maliky.

Beliau yang alim pada segala bidang ilmu ini meninggalkan ratusan tulisan, manuskrip, buku dan makalah-makalah agama, sosial kemasyarakatan, politik, ekonomi (perbankan), national security (Militer), sejarah kesultanan Aceh, dan pemerintahan serta perundang-undangan yang dibuat untuk generasi Ahlussunnah Wal Jama’ah ke depan.

Ini Syair Nasehat dari Abuya Muhibbuddin Waly

Kebatinan Islam

Karya Abuya Muhibbuddin Waly (Abuya Professor)

Jadilah kau di sisinya laksana mayit di pemandinya
Ia patuh pada kehendak pemandi membalik batang tubuhnya
Jangan kau sanggah perintahnya apa yang kau masih jahilnya
Karena kau menyanggahnya berarti kau membantahnya

Terima saja apa yang kau lihat dilakukannya
Bila kau lihat itu tak baik berarti ia menutupnya
Dalam sejarah yang mulia Nabi khaidir cukup baktinya
Anak kecil dibunuhnya sedangkan Musa mencegahnya

Tatkala surya muncul dari malam rahsianya
Tatkala pedang terhunus memancung leher penghujatnya
Begitulah ilmu mereka sangat jarang ada tandingannya.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki