Kesusastraan Sakit, Aceh Butuh Pertemuan Penulis dan Kritikus Sastra

Acara peluncuran buku novel Aceh 2025 karya Thayeb Loh Angen. Foto: Eka Agusniar.
Kehadiran orang-orang yang memahami dunia kesusastraan di Aceh patut disyukuri dan diharapkan ada beberapa di antara mereka yang mengambil posisi sebagai kritikus yang adil, atas dasar standar dan dilengkapi dengan keahlian yang cukup. Demi majunya dunia sastra di Aceh, orang-orang yang telah memposisikan dirinya sebagai senior dan menyamankan diri di menara gading kita minta keluar ke halaman atau setidaknya bukalah jendela atau pintu, lihatlah sekeliling dunia sastra kita.

Indonesia kekurangan kritikus sastra, apalagi Aceh. Tulisan-tulisan yang tersebar di beberapa media di Aceh terlihat berjalan sendiri tanpa ada pengamat yang disebut kritikus sastra. Fakta ini terjadi karena beberapa sebab, di antaranya: kurangnya orang yang memahami seluk beluk tentang kesusastraan. Para lulusan akademik bidang sastra pun jarang menampilkan dirinya untuk ambil bagian sebagai kritikus. Jika mereka tidak bisa berkarya bagus, setidaknya menggerakkan orang lain untuk berkarya bagus dan standar nasional dan dunia.

Di Aceh, kebanyakan dari orang-orang yang menggeluti sastra memposisikan dirinya sebagai pengkarya, yang kebanyakan telah memilih masa aman tanpa memperbaiki mutu karyanya lagi sehingga kemajuan sastra di Aceh terhenti pada menara gading yang mereka bentuk, maka menara gading puja-puji semu itu harus diruntuhkan kini, dan telah runtuh. Perasaan senioritas dari kalangan penulis bikin mutu karya sastra yang tersebar di Aceh tidak meningkat.

Tidak adanya orang yang ambil resiko sebagai kritikus sastra di Aceh karena penerimaan dari pengarya yang miring. Ini terjadi karena penulis hanyut dalam utopia yang menganggap karyanya begitu hebat sementara di balik penolakan itu ada rasa ingin diakui tapi tidak percaya diri untuk menerima kekurangan karyanya. Memang, media dan juri bukan hakim untuk karya penulis, di samping itu, para penulis harus sadar benar kelebihan dan kekurangan karyanya karena tidak pernah ada yang sempurna diciptakan.

Selama ini, orang yang jadi kritikus di Aceh rada-rada setengah hati, mungkin karena sikap penerimaan para pengarya yang kurang beretika. Walau begitu penghakiman untuk sebuah karya sebaiknya dihindari karena kita hanya butuh wawasan, jadi para kritikus bisa mengatakan kelebihan dan kekurangan sebuah karya dari segala sisi. Nah, penting dipahami oleh penulis yang baru-baru muncul, bahwa bagi kritikus, yang penting menguasai konteks sastra dari segala lini, tak penting apa para kritikus itu punya karya atau tidak.

Kitikus satra penting hadir di Aceh sebagai cermin untuk karya-karya seperti hikayat, cerpen, puisi, dan novel yang telah dilahirkan. Adanya kritikus bikin dunia sastra hidup, tidak hilang gaungnya begitu saja, dan penulis atau pembaca punya pilihan penilaian selain yang telah miliki sendiri. Di negara luar, sastra mereka maju karena selain banyak penulis yang serius menelorkan karya bagus juga banyak kritikus yang serius mengulas karya mereka. Di Indonesia, Chairil Anwar yang melegenda itu tidak pernah dikenal orang bila tidak ada HB Jassin –Disebutkan sebagai Paus Sastra Indonesia- yang habis-habisan membela karya Chairil Anwar.

Sejarah sastra Aceh yang gemilang sudah saatnya dikembalikan di zaman ini seraya membikin perbaikan mendasar dalam setiap sendi sastra di Aceh. Kehadiran beberapa organisasi yang bergerak di bidang sastra telah memperbaiki keadaan ini walau jauh dari cukup karena masing-masing organisasi tersebut telah membuat tempurung diri mereka masing-masing dan menilai dunia dengannya –rasa senioritas dan pakar tak tertandingi- sebuah klaim kebenaran terhadap ideologi organisasi. Tapi setidaknya mereka telah melakukan sesuatu dan sampai tahap tertentu itu berguna bagi sastra di Aceh.

Pertemuan Sastra di Aceh

Demi mendukung perbaikan dunia sastra di Aceh, penting dihadirkan fakultas sastra dan seni jika atau merealisasikan Institut Kesenian Aceh –tapi harus diurus oleh orang tepat. Pertemuan-pertemuan berbasis budaya dan sastra sebaiknya lebih sering diadakan untuk membahas tentang budaya, sastra dan peradaban Aceh. Peran organisasi bidang kepenulisan, sekolah-sekolah, perguruan tinggi dan pemerintah amat penting dalam memajukan sastra di Aceh.

Pertemuan yang menghadirkan para penulis di Aceh yang karya mereka telah dipublis di media atau tidak, penting dilakukan pertemuan ini untuk mengetahui apa masalah sehingga sastra di daratan peninggalan Bapak Sastra Melayu Hamzah Fansuri ini belum mengatasi zaman.

Para penulis yang telah memilih jalan sunyi dalam keputusasaan harus dijemput kembali karena mereka adalah wakil zaman, dan kita sandingkan mereka kembali dengan para penulis yang baru muncul agar kedua generasi ini saling terispirasi.

Yang generasi awal terispirasi pada muda bahwa kenapa ia yang lebih dulu tidak lagi sekreatif dan sesemangat yang muda. Yang muda terispirasi dengan generasi lebih awal bahwa semangat yang lebih awal patut dihargai karena telah menyambungkan tali dunia sastra kita di saat orang-orang tidak menghiraukannya. Kekompakan, persatuan adalah sumber kemajuan peradaban, budaya, dan sastra kita.

Pertemuan sastra di Aceh perlu segera diadakan dengan konsep rapi dan terarah agar tidak terjebak pada romantisme dan seremonial seperti yang dialami pengurus sastra di negara Malaysia dengan acaranya DIALOG UTARA, juga tidak terjebak hal serupa seperti pertemuan-pertemuan lain di Indonesia. Aceh harus lebih cerdas dan harus punya konsep selangkah lebih maju, agar tidak malu pada indatu kita yang jadi penggebrak dunia kesusastraan di Asia Tenggara. Salam dunia menulis, salam humanisme, salam persatuan dan perdamaian.

Esai Sastra Harian Aceh, Minggu 7 Maret 2010
Oleh Thayeb Loh Angen, Penulis Novel Aceh 2025 dan novel Teuntra Atom
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki