Berbagi Keluh Positif Bersama Made Tentang Kesenian Aceh

Ramadhan Moeslem Arrasuly (Made). Foto: Muhammad Rain.
Oleh: Muhammad Rain

Ada satu pesan saat bertemu Made di dalam proses berkesenian di Aceh selama ini. Menurutnya berkesenian itu simpel dan sederhana saja, Made menyebutkan sebagaimana kehidupan di alam dunia, manusia harus saling menghargai satu sama lainnya, dapat bermanfaat bagi orang lain. Begitu juga terhadap proses berkesenian, sebaiknya para pelaku seni hendaknya dapat menghargai sesama pelaku seni apapun jenis kesenian yang digelutinya dan seni itu sendiri.

Idealnya proses di dalam berkesenian bukan hanya untuk kepuasan/kepentingan pribadi saja, tapi dapat juga bermanfaat bagi orang lain yang menikmati karya seni yang telah tercipta dengan berbagai pesan yang bermanfaat pula. Janganlah lagi seni dijadikan asas manfaat bagi pihak-pihak tertentu yang tidak bertanggung jawab dan hanya untuk meraup keuntungan dan akhirnya merugikan para pekerja seni/seniman.

Tidak ada istilah yang namanya seniman hebat, malahan akhirnya menjadikan dia seniman yang tidak ada apa-apanya. Karena tidak memberikan contoh tauladan yang baik secara langsung atau secara tidak langsung. Malahan banyak seniman yang merasa hebat akhirnya menghina dirinya sendiri, menghina sesama pelaku seni juga menghina seni itu sendiri. Iklas, tulus dan Jujurlah dalam berkarya.

Berkesenian itu bebas dan merdeka. Jangan sampai terkesan kita seperti dipenjara dan terkekang di dalam proses berkesenian. Berkesenian bukan bertujuan untuk terkenal dan dikenal, bukan untuk meraup keuntungan besar dari apa yang dibuat.

Jiwa berkesenian Made sudah ada dari masa kanak-kanak, tapi sayangnya tidak tersalurkan dengan baik. Selain musik juga suka akan desain/gambar/lukisan, gaya berpakaian, juga style rambut. Awal konsen di seni musik tahun 1999-2000 bergabung dengan komunitas Tanggul Rebel, (Plastik exs) adalah nama sebuah Band bergenre musik Punk Hardcore dan tercipta sebuah karya lagu perdamaian berjudul "Geundrang Perang".

Tahun 2001 mendirikan group band (Tanda Seru), bergenre musik Rock and Roll, Blues, Slow Rock, yang menyuarakan pesan-pesan sosial, pesan perdamaian, pesan kritik terhadap perilaku remaja, bermacam ragam pesan. Salah satu lagu yang tercipta adalah Aceh ‘Negri Khayalan’, lalu tahun 2002-2004 hijrah ke Jakarta & Jogyakarta, saat di Jogyakarta sempat mendirikan sebuah band (Juzt Q Dink) bergenre musik pop jazz yang didominasi pemuda Aceh. Tahun 2006-2007 mendirikan sebuah band (Aceh People) bergenre musik reggae. Hingga akhirnya pada tahun 2008 mendirikan band (Made in Made) bergenre musik Melayu Reggae.

Awalnya ingin sedikit berbeda dari group musik Aceh lainnya yang hanya menggunakan bahasa Aceh di setiap lagu-lagunya sementara band Made in Made hanya menggunakan bahasa Melayu/Indonesia, akan tetapi cerita yang diangkat di dalam lagu semuanya bercerita tetang kehidupan sehari-hari khususnya di Aceh.

Salah satu lagunya yaitu tentang Kerusakan lingkungan Aceh. Alm. Mukhlis ‘Nyawong" dan Group Musik Kande adalah sebagai inspirasi yang sangat kuat dan hingga akhirnya Made in Made memperlengkap genre musiknya menjadi ‘Melayu, Aceh and Reggae’ karena berkesenian di Aceh harus indetik dengan keA-cehannya, baik itu lagu yang berbahasa Aceh, lagu-lagu daerah Aceh yang dikemas ulang, menggunakan alat tradisional Aceh dan juga memakai atribut Aceh lainnya seperti pakaian Aceh dan berbagai properti.

Salah satu lagu yang sangat populer selama ini “kupi Reggae” dan “Dara Atjeh”. Made In Made juga memiliki beberapa lagu berbahasa Inggris salah satunya berjudul International Reggae Music & Aceh-Engglish. Mulai dari tahun 2008 hingga tahun 2015, berbagai macam event telah dilalui baik di lokal, nasional hingga internasional berbagai even kemanusiaan/bencana alam Aceh/Indonesia, event seni/budaya Aceh. Beberapa karya Made in Made turut mengisi panggung di Indonesia seperti di Medan, Bukittinggi, Padang, Jakarta dan Jogjakarta. Juga di negara Thailand dan Kuala Lumpur/Malaysia.

Insya Allah pada 28-30 Agustus 2015, Made in Made akan hadir di event Kuala Lumpur Magic Forest Arts and Music Festival 2015, Kem Isi Rimba, Kemensah. Selanjutnya Made In Made juga akan menjadi bagian di even Bokor River Internasional Reggae Party, Kepulauan Meranti Riau, 28-29 Oktober 2015. Akan turut dihadiri oleh band Raggae asal Afrika, Malaysia, Philipina, Singapura, Thailand, Jepang, USA, Jakarta, Papua dan lainnya.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki