Anatolia, Museum Segala Zaman (1)

Penyadur: Ali Hasjmy

Tulisan ini adalah catatan Ali Hasjmy yang ditulis dengan mesin ketik biasa. Naskah aslinya tersimpan di Perpustakaan dan Museum Ali Hasjmy yang kemudian dirangkapkan oleh Mehmet Ozay, lalu diketik ulang oleh Thayeb Loh Angen untuk disiarkan atas nama lembaga PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh-Turki.
Ali Hasjmy adalah sastrawan besar Aceh yang juga disebut sastrawan pujangga Baru Indonesia. Ia merupakan orang yang memiliki banyak pencapaian di masa hidupnya; pernah menjadi Gubernur Aceh, Rektor IAIN (Sekarang UIN) Banda Aceh, dan Ulama.

Peta Anatolia, Turki. Foto: folkemord.wordpress.com
Di Turki Sekarang Pendidikan Islam Wajib di Sekolah Dasar dan Menengah

Dalam majalah Al Farabi terbitan 1987, termaktub sebuah karangan berupa lapuran utama tentang Anatoli, bagian Asia dari Republik tersebut, yang ditulis oleh wartawannya, Suleiman Madhar. Dengan jelas sekali, dia melukiskan Anatoli yang merupakan bahagian terbesar dari Republik Turki, baik mengenai kehidupan keagamaan (Islam) mahupun kehidupan kebudayaan. Di bawah ini, akan saya sadur bahagian-bahagian yang penting diketahui para pembaca di Indonesia.

Anatoli Museum Segala Zaman

Jantung Anatoli…., jantung yang memberikan kehidupan, yang tidak mengenal diam dan tidak bersahabat dengan kesedihan, demikian Suleiman Madhar memulai lapurannya yang ditulis dengan bahasa-bahasa yang puitis. Ia, Anatoli, selalu ketawa, bernyanyi, menari, menabuh rebana dan memetik gitar……Segala sesuatu difilsafatkan, senda dipadukan dengan hikmah, gurau diadukkan dengan kesungguhan, persis seperti yang diperbuat Nasaruddin Khawaja….orang Turki ketika dia hidup dengan menghamburkan senyum dan menarik tawa…dari hati Anatoli.

Berbagai warna hidup terlihat di jantung Anatoli, kemajuan yang silih berganti, kebudayaan yang bangun dan jatuh, bangsa-bangsa yang silih bertukar tamaddunnya masing-masing; yang baru dipadukan dengan yang lama; diserapnya sumber-sumber kehidupan baru dari berbagai unsur, yang kemudian dipadukan menjadi Warisan Kebudayaan Turki.

Sejak beribu-ribu tahun lampau, telah berkembang di Anatoli bermacam unsur bangsa dengan kebudayaannya masing-masing: Kebudayaan Yunani, Kebudayaan Rumawi dan kepahlawanan Eygur dan Turkestan. Dalam pada itu, kita mendengar hikayat Khoja Warjankoun, yang hidup bersih dari segala pengaruh kebudayaan itu; karya-karya sastranya samasekali tidak berbekas dengan pengaruh lama itu; musiknya dan lagunya, demikian pula dramanya tampil dengan gaya sendiri.

Kira-kira 800 tahun lalu, rakyat Anatoli telah membangun tamaddunnya, kebudayaannya. Pada waktu itu mereka telah membentuk satu kelompok teater yang mempertunjukkan kepahlawanan Turki Bani Saljuk, bahkan pada waktu mereka telah menampilkan Sastra Sufi yang menjelmakan dirnya lewat tali-tali gitar dan tarian Darwis…..

Orang yang menyangka, bahwa Turki ialah apa yang dilihatnya di Istanbul, itu tidak benar, jauh menyimpang dari hakikat.

Turki bukanlah kota yang terletak di pintu masuk selat Bosporus, atau Ayasofya, atau Mesjid Suleiman dan bukan jembatan  yang terbentang di atas Dardanela. Semua itu, hanya setitik dari air laut Turki yang luas. Istanbul hanyalah kepala yang menantang Eropah, sementara tubuh, hati, bangsa, dan hayah ialah yang hidup di Anatoli; Semenanjung luas yang mencakup 97 % dari luasnya Republik Turki yang berpenduduk sekitar 50 juta jiwa dan 45 juta di antaranya bermukim di Anatoli.

Orang sering menganggap, bahwa Istanbul ialah Turki dan Turki ialah Isltanbul. Hal ini karena sejarah Istanbul itu sendiri yang merupakan pusat kekuatan Imperium Byzantium yang menyaingi Imperium Rumawi yang berpusat di Roma. Benteng dan kota yang bernama Konstantinopel itu dapat direbut oleh Sulthan Muhammad Al Fatih dan kemudian dijadikan Ibukota Kesultanan Turki Usmaniyah dengan diubahnya nama menjadi Istanbul.

Anatoli ialah hakikat dari Republik Turki. Di sana hidup bangsa Turki yang sebenarnya; mereka petani, nelayan dan pejuang, yang hidup dan bertani di daratan-daratan rendah dan tinggi, di lembah-lembah dan ladang-ladang, di pantai-pantai sebagai nelayan. Mereka bukan saja petani dan nelayan, mereka juga tukang-tukang yang ahli, pemahat yang cerdas, penenun kain dan pemadani yang bernnilai tinggi, pekerja yang rajin.

Anatoli kaya dengan hasil pertanian, dengan bermacam-macam buah-buahan, dengan hasil tambang, termasuk minyak bumi, dengan hasil industri dan sebagainya. Minyak bumi yang dihasilkan dapat memenuhi 50 % kebutuhan negara.

Bahasa Al Quran

Sesuatu yang ajaib kita temui di Anatoli, jarang sekali orang dapat berbahasa Arab, sekalipun penduduk negeri itu hampir 100 % beragama Islam. Bukankah ini benar-benar suatu keanehan, bahwa bahasa Al Quran hampir tidak dikenal di tiap-tiap tempat? Demikian tanya Suleiman Madhar. Apa yang akan diperbuat, sedangkan anda benar-benar berada di Negara Islam, tetapi bahasa Arab telah ditiadakan, bahasa Al Quran, dengan perintah dan undang-undang. Tiada seorang saudagar yang berani menulis di dalam buku dagangannya sepatah kalimatpun dengan huruf Arab. Sekalipun demikian, 99 % penduduknya adalah muslim.

Setelah berlalu waktu-waktu tertentu, yaitu permulaan penyelewengan ke “sekulerisme”, mesjid-mesjid yang dikunjungi para pemuda dengan imam-imam yang berusia lanjut. Tetapi sekarang lain halnya, masjid-mesid penuh dengan anak muda-muda, hatta pada hari Juma’at mereka melimpah keluar, sampai ke jalan; kebanyakan jama’ah adalah anak muda-muda. Sekarang tidak ada rintangan sedikit pun bagi kegiatan pengembangan Islam, selama ia tidak memasuki bidang politik kenegaraan. Nyatanya sekarang, sudah memerlukan pembangunan mesjid-mesjid baru, karena yang ada sudah tidak mencukupi lagi.

Dr Akmaluddin Ihsan Oglu, Direktur Pusat Sejarah dan Kebudayaan Islam, menjelaskan kepada Suleiman Madhar, bahwa arah gerakan Islam di Turki sekarang sangat kuat; pembaharuan pemikiran Islam tumbuh dengan subur.

Untuk mendukung pembharuan pemikiran Islam, maka di Anatoli sekarang berdiri banyak lembaga-lembaga pendidikan Islam dalam berbagai tingkat, baik di kota-kota maupun di kampung-kampung. Yang lebih menggembirakan lagi, bahwa pendidikan agama Islam diwajibkan pada Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah, dan ditetapkan dalam Undang-Undang Dasar 1982, setelah sebelumnya merupakan mata pelajaran pilihan.

Adapun pelajaran bahsa Arab, telah ditetapkan menjadi salah satu pelajaran bahasa asing yang diharuskan untuk mempelajarinya di Sekolah Menengah, dan kesulitan yang dihadapi sekarang ialah sangat sulit mendapat guru-gurunya.

Yang amat menggembirakan, bahwa Menteri Pendidikan Turki telah menetapkan perlunya diajarkan bahasa Arab di dalam sekolah-sekolah di Turki, dan pada waktu mengeluarkan ketentuan tersebut beliau menegaskan: Dengan bantuan Allah, kami akan berhasil dalam gerakan ini.

Semua surat-surat kabar di Turki menyambut keputusan ini dan mereka turut mendorongnya, karena dianggap amat penting dalam usaha meningkatkan kembali hubungan Turki dengan dunia Arab.
Turki sekarang menyaksikan Gerakan Baru dalam dua bidang yang sangat asasi, yaitu Gerakan Bahasa Arab dan Gerakan Kebangkitan Islam.

Kebangkitan Baru itulah yang kami dapati di jantung Anatoli, demikian penegasan Suleiman Madhar, sekalipun ia masih tetap memelihara peninggalan lama, sejak sebelum zaman Islam, hatta Anatoli menjadi Museum Segala Zaman.

(Bersambung….)
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki