51 Hari di Kota Al Kahhar Yang Agung

Petualangan Anak Paloh Dayah di Bandar Aceh Darussalam

Oleh Lodins
Peneliti 44 mesjid yang meliputi wilayah Aceh Utara, Lhokseumawe, Bireuen, Aceh Besar, dan Banda Aceh.


Di Banda 2015
Di antara ratusan gedung ini, aku melihat seorang pemuda 
yang menikmati alam kota Banda dari puncak gedung bagaikan di atas angin. 
Aku heran mengapa ia tak peduli pada kota yang telah hilang tempat adiknya bermain, 
pada lapangan luas yang dahulu tempat ratusan gajah perang berhenti, 
pada mesjid- mesjid di mana para syeikh menjadi minyak dalam lentera, 
pada tinta-tinta emas yang dulu menulis fatwa-fatwa.

Lodins tengah memperhatikan nisan Tun Meurah Orang Kaya Kapal, seorang Laksamana perempuan di Kesultanan Aceh Darussalam yang baru berhasil dibaca oleh peneliti sejarah kebudayaan Islam yang filsuf, Taqiyuddin Muhammad, yang berada di Kumpulan Makam Meurah II, Ulee Tuy, Mata Ie, Aceh Besar. Jumat 12 Desember 2014. Foto: Thayeb Loh Angen.
Desember 2014

Dalam hujan gerimis siang ini berangkatlah aku ke Banda Aceh, kota Sultan Al Kahhar Yang Agung. Kukatakan kepada ibunda bahwa mungkin akan dua bulan lamanya di Banda, izin itu pun kudapatkan setelah mengatakan maksud dan tujuan mengapa harus begitu lama di sana.

Ketika petang menaung kota Banda Aceh, tibalah aku di sana dan dijemput oleh bang Thayeb Loh Angen (selanjutnya kusebut TLA) di dekat Mesjid Raya Baiturrahman dan dibawa ke tempat tinggalnya di Gampong Pineung.

Minggu pertama di Banda aku tinggal di rumah Ariful. Selama tinggal di sana aku lebih banyak berada di rumah seraya belajar mengedit video, membaca buku, dan lain-lain.
Kenangan hebatnya selama tinggal di sana adalah pernah tak punya cukup uang untuk beli makanan selama tiga hari hanya makan dua atau tiga kue basah dalam sehari. Akibatnya, di hari ketiga tubuhku jadi panas dalam dan demam hingga waktu malamnya harus pakai jaket tebal.

Keadaan semacam ini ternyata hanya masaalah biasa bagi TLA yang telah bertahun-tahun tinggal di Banda Aceh. Namun bagiku ini adalah pelajaran pertama untuk melatih diri menjadi pengembara.
Beberapa hari sebelum acara travelogue membawa beberapa potong kuwih eungkhui dalam beberapa curak resep yang diambilnya di dapur uji coba boga.

“Ini eungkhui. Kuwih (kue) yang akan menemani ratusan hadirin di acara travelog nanti,” kata TLA. Saya dan Ariful mencicipi satu persatu dan membedakan mana resep yang paling mengena di lidah.
“Jadikanlah harus lebih manis lagi, dan lebih lunak,” demikan saran TLA pada peracik resep eungkhui di ruang boga profesional Banda.

Cerita tentang eungkhui ini bermula ketika bulan lalu di Loh Angen (sebuah nama tempat di Paloh Dayah yang di sanalah rumah kami).

“Tolong tanyakan pada ibu bagaimana cara membuat resep eungkhui beureunee,” demikian pesan singkat dari TLA. Setelah mengirim resep kuwih tersebut aku menanyakan untuk apa dan hendak dibawa ke mana resep eungkhui tersebut. Ia mengatakan akan menyerahkan resep eungkhui itu pada ahli boga untuk disiapkan menjadi kuwih khas Aceh yang lezat dan akan menemani timphan di acara travelogue nantinya. Kemudian, esoknya TLA membawakan sedikit uang saku untukku yang berhasil dipinjamkan daripada salah satu teman terdekatnya yang sangat baik hati.

Pekan kedua di Banda, dari rumah Ariful aku pindah ke tempat di mana TLA tinggal. Yaitu tempat yang disewa oleh temannya berupa ruko dua lantai. TLA tinggal di tempat itu atas desakan kawannya tersebut.

Terus terang, sebenarnya di hari pertama berada di tempat itu batinku merasakan penolakan dari berbagai raut rona wajah para penghuni di tempat tersebut. Apa saja yang kulakukan di tempat itu selalu terkesan dimata-matai sehingga dari hari ke hari kekhawatiran semakin menggunung dan aku pun lebih memilih tidur di atas kursi di lantai bawah guna menjaga jarak dari mereka yang tidur di lantai dua.

Sebagaimana hari-hari Ahad lalu sebelumnya aku dan TLA berziarah ke beberapa makam abad pertengahan yang bertebaran di seluruh kota Banda Aceh dan Aceh Besar bersama anggota Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa). Di sana kami membantu Mapesa meuseuraya membersihkan, membetulkan kembali letak batu-batu nisan yang telah berserakan di tanah ke tempat asal di mana batu- batu tersebut pertama kali ditanamkan.

Hari itu kami meuseuraya di pemakaman Indra Puri. Di antara barisan batu-batu, salah satunya adalah batu nisan yang bertuliskan ‘makam penjaga pintu ka’bah’. Dan menurut Mizuar, di pemakaman tersebut ada makam seorang ulama sufi.

Yang anehnya adalah masyarakat setempat tidak tahu bahwa di tempat mereka ada makam-makam bersejarah. Seorang anggota Mapesa, Amrizal, tersenyum tatkala mendengar ada masyarakat yang menduga itu makam orang Hindu. Hanya orang yang tidak mahu peduli sahaja yang menduga semacam itu. Padahal tulisan-tulisan Laa ilaa ha illallaah, Muhammadurrasuulullaah, sangat lah jelas tertulis di nisan-nisan tersebut.

Usai acara meuseraya di Indra Puri, aku dan TLA kembali ke Gampong Pineung. Di tengah jalan kami disalami oleh hujan lebat dan berhenti di suatu muka portokoan untuk berteduh. Akhirnya kami tetap melanjutkan perjalanan walaupun hujan belum reda, dengan alasan hari semakin mendekati malam.

Beberapa kilometer bertolak dari tempat kami berteduh di tengah perjalanan, kembali kami dihadapkan dengan masaalah. Akan tetapi kali ini hanya perihal kehabisan bahan bakar. Syukur sepeda motor berhenti tepat didekat kedai kecil yang menyediakan bensin eceran.

Lalu, di tengah hujan itu, kami berdua turun masing- masing memeriksa saku sendiri. Setelah kuperiksa semua saku celana hanya menemukan dua ribu rupiah, dan TLA menemukan lima ribu rupiah. Lalu, kami pun membeli bensin dan meneruskan perjalanan.

Sebelum sampai di Gampong Pineung, kami menyempatkan diri berhenti di rumah seorang kawan TLA untuk membicarakan uang untuk menyewa tempat acara travelogue.

Pada malam harinya kami bertemu bang Irfan (selanjutnya kusebut Irfan) dan kawan-kawan di suatu kedai kopi berwi-fi. TLA sibuk dengan tugas- tugasnya, demikian juga hal Irfan dengan kawan-kawannya. Ketika kedai mulai sepi oleh larutnya malam, Irfan meminta laptopku untuk diupdate dan menginstal windows 8 di laptop tuhaku. Karena kantuk sangat, maka aku mencari tempat tidur di bagian mushalla kedai tersebut yang bisa dipakai. Maka tertidurlah aku sampai pagi baru dibangunkan oleh panggilan Irfan yang berpamit untuk pulang.

Aku dan TLA pun kembali ke Gampong Pineung. Di tempat kawannya tersebut, saya merasa sangat kantuk dan tertidurlah sampai siang. Lalu setelah ‘ashar kami pergi ke ACC Sultan Selim II. Ke sana TLA tidak membawa laptop, aku juga meninggalkannya di sisi laptop TLA, di atas tempat tidur.
Di ruang direktur gedung itu TLA, aku, dan Arif berbicara tentang hal apa saja dengan bang Fauzan (direktur gedung ACC Sultan Selim II, selanjutnya kusebut Fauzan). Di sini aku menemukan karakter Fauzan, sama persis seperti yang pernah kubaca di buku-buku pengaturan diri (self managemen), pengaturan usaha (managemen bussines), dan buku-buku pemberi semangat (motivasi).

“Ia memiliki jiwa kepemimpinan yang handal,” demikian batinku menilai.

Di ruang itu pun kami menyerahkan sejumlah uang kepada Fauzan untuk belanja sew
a tempat yang telah kami pergunakan di acara travelogue beberapa hari yang lalu. Kemudian dilanjutkan dengan penyerahan satu foto mesjid Istanbul oleh Ariful, foto yang direkamnya sendiri ketika magang satu bulan di sana. Pertemuan dengan Fauzan tersebut kami akhiri dengan acara berfoto bersama.

Saat aku tengah bertindak sebagai juru foto, di menit-menit tersebut, batinku memaksa untuk kembali ke tempat kami tinggal di Gampong Pineung. Kata batin itu muncul berulang-ulang sehingga perasaanku menjadi gelisah. Namun aku terus membidik-bidik lensa kamera ke wajah-wajah mereka. Perasaan khawatir tersebut tidak kusampaikan pada TLA karena berbagai pertimbangan dan alasan.

Setelah magrib aku dan TLA pergi ke satu kedai kopi yang menghadap ke terminal bus. Di sini kami menjumpai R. A Karamullah, pembuat film dokumenter ‘Pulau Aceh Surga Yang Terabaikan’. Ia ditemani oleh beberapa orang temannya. Sekira beberapa belas semenit berselang, datanglah bang Moritza Thaher, pendiri salah satu sekolah musik di Banda Aceh.

Memang itu adalah pertemuan yang di sengaja, dengan maksud TLA ingin memahami sedikit tata cara berolah vokal untuk menyeimbang nada falsnya, dan tentang rencana membuat acara konser menyanyikan lagu-lagu P Ramlee.

Sejam kemudian kulihat Irwandi Yusuf melintas di dekat tempat kami duduk, lalu setelah bekas gubernur tersebut melintas dan pergi sekira lima belas menit kemudian masuk seorang perempuan asing setinggi 6,3 kaki, bertubuh kurus, dan berambut pirang. Si pirang tersebut diapit oleh beberapa 
pemuda setempat sebagai pemandu. Mereka duduk di sisi depan kanan kedai.

Pukul sepuluh malam itu kami pun pulang, kembali ke tempat masing-masing. Hujan gerimis masih juga belum reda. Kami pun tiba di tempat kediaman sementara. Ia masuk lebih dahulu namun sebentar sahaja ia kembali keluar memberitahu bahwa laptopnya hilang. Kemudian aku menyarankan supaya ia memeriksa dahulu di kedai kopi yang berada di dekat tempat itu, yang di sana dirinya memang biasa berlama-lama dengan laptopnya. Siapa tahu lupa diambil saat pulang. Setelah mengatakan itu aku lalu beranjak ke masjid.

Sekembalinya aku dari masjid, ia masih berdiri di depan pintu dengan tangannya menyilang di dada. Masih belum juga menemukannya. Maka langsung sahaja saya kembali ingat bahwa, sebelum pergi laptop kami letakkan di tempat yang sama, di atas tempat tidur di lantai bawah ruko tersebut. Lalu aku pun berkata, jika memang laptop TLA hilang maka laptop Lodins juga hilang.

Setelah berkata demikian lalu aku pun masuk ke dalam dengan setengah berlari. Ternyata memang benar! Laptop kami telah dicuri oleh maling. Di tempat kami meninggalkannya tadi petang, hilang!
Ketika kami pulang hanya ada seorang lelaki hitam gemuk sendirian di dalam, ketika naik ke lantai dua pemuda itu berpura-pura tertidur pulas. Sebenarnya aku tahu ia tadi yang barusan mengintip kami yang sedang kebingungan di lantai bawah.

Setelah kejadian tersebut selama satu hari TLA menyendiri di ruko tersebut. Ia merasa tidak ada satu alasan pun yang tepat untuk keluar dan tidak tahu harus pergi kemana.

Januari 2015
Dua hari selang setelah peristiwa tersebut TLA pun dilanda demam yang hebat sehingga terpaksa harus beristirahat meskipun sebenarnya masih banyak pekerjaannya yang harus diselesaikannya.
Melihat kondisinya yang demikian, aku menanyakan apabila keadaannya seperti itu biasanya bagaimana cara ia mengatasinya. Lalu atas sarannya aku mencoba mencarikan untuknya obat-obatan atau makanan yang bernutrisi seperti buah-buahan. Dan Alhamdulillah, aku bersyukur karena dalam masa dua hari kesehatannya kembali membaik. Sepertinya ia telah terlatih untuk mengobati diri sendiri.

Dalam menghadapi semacam itu aku merasa bahawa selama ini aku sering lalai dari mengingat sang pemilik alam dan segala kejadian.

Saat malam mulai sepi aku pun pergi ke mesjid. Di malam itu tiba-tiba dua orang berpakaian putih mendekatiku yang tengah duduk di dekat sebuah tiang di tepi saf terdepan dan di kedua tanganku memegang mushaf yasin fadhilah. Mereka langsung duduk di sisiku dan berbicara dengan bahasa Arabian. Kejadian itu makin membuatku jadi bertambah pusing dan aku hanya melihat mulut-mulut mereka yang sedang berbicara karena tidak mengerti.

Lalu aku pun mencoba mengingat bagaimana cara bertanya di dalam bahasa Arab, maka dari mulut mereka terdengar kata, “Pakistani!”

“Alhamdulillah!” demikian batinku girang karena tidak sia-sia pertanyaan konyol yang kurangkai bisa mereka pahami dengan baik. Kemudian aku bertanya lagi.

“Munir Ahmad,” jawab salah satu yang tertua dari mereka (kemudian saya tahu bahwa dia dikenal sebagai Maulana Munir Ahmad). Sekali lagi aku gembira karena merasa tidak sia-sia bertanya sebab mereka bisa memahaminya. Dan aku pun memperkenalkan diri, “Jamaluddin Sulaiman.”

“Jamaluddin Sulaimani?” tanya Maulana, memperjelas.
“Na’am!” jawabku. Mereka menambahkan huruf ‘i’ pada kata ‘Sulaiman’ menjadi ‘Sulaimani’, memberikan baris kasrah pada huruf nun yang sebelumnya disukunkan. Jadi, dari kata Jamaluddin Sulaiman menjadi Jamaluddin Sulaimani. Dan Lodins, adalah nama panggilanku di rumah.

Namun aku sempat diliputi oleh rasa cemas, bagaimana jika ada orang yang melihatku tengah berbicara dengan mereka (aku menduga mereka kafilah jamaah tabliq?). Kemudian karena merasa tidak tahu apa yang harus kulakukan, maka mushaf yasin fadhilah yang ada di tanganku pun kuletakkan di lantai masjid. Dan mereka marah.

Aku menafsirkan bahwa mereka mengatakan risalah yang ada di tanganku adalah bagian dari Al-Qur’an. Jangan diletakkan di lantai. Lalu saya mengatakan, “Na’am!” seraya meletakkan risalah tersebut di atas pangkuan kembali.

Setelah agak lama berbicara, sesaat sebelum pergi, mereka sempat mendo’akanku dengan do’a yang sangat panjang. Ketika Maulana tersebut selesai mendo’ai kebaikan untukku, maka dengan cepat kuucapkan “Amiin!”

“Alhamdulillah telah dihibur oleh kawan muslim dari Pakistan. Perihal mereka berbeda faham dengan kita itu urusan mereka,” demikian batin kecilku membisik. Dan aku pun meneruskan menyelesaikan membaca risalah yang ada di tangan.


Foto hasil rekaman Lodins: Peneliti sejarah kebudayaan Islam yang filsuf, Taqiyuddin Muhammad, membaca pahatan kaligrafi di nisan-nisan yang berada di Kumpulan Makam Meurah II, Ulee Tuy, Mata Ie, Aceh Besar. Di sinilah ia menemukan nisan Tun Meurah Orang Kaya Kapal, seorang Laksamana perempuan di Kesultanan Aceh Darussalam. Jumat 12 Desember 2014.
Pada pekan ke empat, aku dan TLA mengambil keputusan untuk pergi secara diam-diam menjauh dari ruko berlantai dua yang dahulu pernah menjadi tempat tinggal TLA selama beberapa bulan.
Kepada si pemuda berkulit gelap berbadan gemuk yang tinggal di ruko tersebut, kami mengatakan akan pulang kampung. Malam itu kami pergi ke kedai kopi, dan ternyata di sana kami bertemu lagi dengan mereka. Sesudah mereka pulang, malam itu kami pun tertidur di kedai tersebut karena belum tahu harus pergi ke mana.

Akhirnya kamipun menghubungi salah satu kerabat yang telah lama menetap di kota ini. Ia adalah teman sewaktu kecil dan teman satu sekolah dasar. Selama tinggal di sana aku tidak pergi ke mana-mana, melainkan apabila penting sangat seperti shalat Jum’at dan mengikuti pengajian di mesjid, barulah aku keluar.

Di suatu malam Ahad aku pergi ke salah satu mesjid di Keutapang. Setelah selesai shalat magrib, ada pengajian yang dipimpin oleh seorang ulama hadits dari negeri Yaman. Menarik sekali menikmati suasana semacam ini, sehingga aku memusatkan perhatianku pada semua petuah-petuah yang disampaikan oleh syeikh tersebut.

Aku mendapati ada beberapa hal yang berbeda antara syeikh Yaman ini dengan da’i yang biasa kulihat, dari cara mereka menyampaikan;

-Penda’i musiman kampung yang telah terkenal sebagai artis da’i:
Cara mereka adalah dengan mengaduk ilmu agama dengan canda-canda yang kadang-kadang berlebihan bahkan mengakibatkan para ulama besar marah kepada mereka. Mereka mencari uang dengan perantara dakwah.
-Penda’i besar (ulama) sangat berhati-hati ketika hendak mengeluarkan ucapan. Setiap yang mereka ucapkan adalah bersumber dari Alqur’an dan hadits, ijma’ dll. Demikian sederhananya, sehingga umumnya mereka tidak meminta bayaran atas dakwah-dakwah yang mereka sampaikan karena yang mereka sampaikan adalah dari para ulama terdahulu, dari para sahabat nabi Saw, dari Allah. Swt. (Ma’af menggurui..haha..)

Sekali lagi di hari Ahad terakhir di Banda, aku ikut TLA dan Dr. Mehmet ke makam para menteri di masa negara Aceh Darussalam dan ke makam Syaikhul Islam ulama tauhid dan ulama syar’i di Pango bergabung dengan kaula meuseuraya Mapesa.

Di sini kusaksikan bahwa Dr. Mehmet bagaikan terlahir satu indatu dengan para petualang armada Khalifah Utsmaniyyah yang pusara-pusara mereka bertebaran sini. Ia bermeuseraya dengan penuh semangat.

Sepulangnya dari makam itu kami melanjutkan lagi perjalanan ke Mesjid Raya Baiturrahman untuk menemui seorang ulama Aceh yang masih ada di masa ini, Abuya Jamaluddin Waly. Tujuan kami adalah meminta izin kepada beliau, bahwa di bulan Maret 2015, organisasi antarabangsa, PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh-Turki), akan mengadakan acara haul mengenang Allahyarham Abuya Muhibbuddin Waly.

Selain memintakan izin, yang terpenting adalah memohon kesediaan beliau untuk menjadi salah seorang daripada pembicara di acara tersebut karena beliau adalah ulama sekaligus adik daripada Allahyarham. Alhamdulillah, beliau mengizinkan acara itu diperbuat dan bersedia menghadiri dan berbicara di sana.

Hari selanjutnya, usai shalat maghrib aku dipanggil oleh TLA ke rumah Dr Mehmet. Sesampai di sana aku  diberitahu bahwa istri Mehmet tadi siang pukul 02:00 tanggal 20 Januari 2015 telah melahirkan anak kedua dari mereka. Karenanya, aku diminta membantu menanam adoe (ari-ari) si bayi yang baru lahir tersebut. Aku pun sentak terkejut karena tidak pernah sekalipun sebelumnya terlibat dalam acara semacam ini.

Lalu kami menanyakan ke Paloh Dayah pada bidan yang berpengalaman tentang mengurusi hal tersebut. Setelahnya, aku betindak sebagai penggali lubang. Tatkala mencangkul, aku senantiasa berselawat kepada Nabi Muhammad SAW. Setelah lobang siap, Dr Mehmet mengambil adoe tesebut dan menanamnya, aku dan TLA ikut membantu.

Menurut kepercayaan orang Aceh, kelak ketika sang bayi besar, jiwa dan kehidupannya akan dipengaruhi oleh berbagai sebab, dan salah satunya dipengaruhi oleh kejiwaan si penanam adoe (?). Lalu aku pun berpesan;

“Wahai bayi dari adoe ini, sembahlah Allah, Nabi Muhammad nabi kita, Islam agama kita, patuh dan setialah pada kedua orang tuamu, jadilah Laksamana Malahayati muda yang membela negeri.”
Malam itu aku pun tak lupa mencicipi satu butir kue tradisional Turki Hacizade persediaan jamuan 

Dr Mehmet untuk menjamu TLA malam itu. Jika dibandingkan dengan makanan di Aceh, rasa kue 
ini hampir sama dengan meuseukat, mungkin saja demikian, dugaku.
Ketika semua usai, dalam keadaan masih letih, Dr Mehmet Ozay pun meluncur dengan cepat ke sebuah rumah sakit di Banda Aceh. Ia tidak sabar ingin mengetahui bagaimana keadaan Malahayati kecilnya di sana.

Dan beberapa hari kemudian dalam subuh Kamis yang perlahan menjemput mentari aku kembali ke Paloh Dayah bersama beberapa pengalaman yang nun indah dalam ingatanku yang terus menemani. Wassalam.

Pesan: Cintailah ilmu, Ulama, budayakan kembali membaca,menulis kapan, dan dimana saja, demi peradaban negeri yang agung ini.

Catatan

Tempat- tempat yang Sempat Kukunjungi Ketika di Banda

Mesjid
1. Masjid Raya Baiturrahman.
tanda seseorang telah dihapuskan dari dosa- dosa, ialah ketika melakukan ibadat merasa damai dengan ibadahnya dan ikhlas .
2. Masjid Gampong Pineung.
3. Mesjid di Ajun
4. Mesjid Baiturrahim di Ulee Lheue.
5. Mesjid Baitul Makmur Ateuk. (Punya kesamaan dalam tata cara shalat jum’at di pedalaman di    Aceh utara. Cintailah ulama. Mari belajar ilmu agama pada para ulama.
6. Mesjid Keutapang. Memakan makanan yang haram adalah penyebab tertolaknya do’a.
7. Mesjid Baburrahmah di Lamteumen. Nasehat khatibnya, nabi adalah orang yang sedikit makan dan sedikit  tidur. Hatinya selalu mengingat Allah walau tubuh dan matanya terlihat sedang tidur.

Makam
1. Makam Syiah Kuala
2. Makam Sultan Iskandar Muda
3. Makam Kandang XII Sultan Al Qahhar Yang Agung.
4. Makam Meurah Seupeung, Lam Blang Trieng, Darul Imarah, Aceh Besar.
5. Makam Meurah ji-ee, Lam Blang Trieng, Darul Imarah, Aceh Besar.
6. Makam Meurah II, Mata Ie, Aceh Besar.
7. Makam di Indrapuri
8. Makam Tgk Di Bitai
9. Makam para menteri-menteri kerajaan negeri Aceh Darussalam abad silam di Pango
10. Makam para Syaikhul Islam ulama syar’I dan ulama tauhid di Pango.

Tempat-tempat Umum
1. Mesium Negeri Aceh, rumah Aceh.
2. Mesium Tsunami Aceh.
3. Gedung Turki Aceh Community Center (ACC) Sultan Selim II.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki