Sayap Batman Hollywood di Indra Puri

Mengunjungi meuseuraya yang dibuat oleh Kumpulan Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh) di kumpulan makam Syaikh Sufi, gampong Ulee Kareueng, Indra Puri, Aceh Besar, Ahad 28 Desember 2014.

Gambar serupa sayap batman di film The Dark Knight yang ada di salah satu nisan di kumpulan makam Syaikh Sufi, gampong Ulee Kareueng, Indra Puri, Aceh Besar, Ahad 28 Desember 2014. Foto: Mapesa.

Hari itu adalah salah satu dari hari yang senantiasa kuingat karena sepulang dari sana, aku dan Lodins dimandikan oleh hujan deras sepanjang perjalanan dari Montasik ke Lamgugop, Banda Aceh.

Dan karenanya, esok malam aku diserang oleh penyakit demam selama dua hari. Butuh waktu hamper dua pekan untuk memulihkan lagi tenaga. Inilah salah satu penyebab aku tidak menuliskan ini bersegera setelah meuseuraya sebagaimana yang sudah-sudah.

Pada pagi menjelang siang di hari itu, aku dan Lodins berkendara menuju kumpulan makam yang disebutkan oleh sang Duta Nisan Aceh, Mizuar. Itu adalah hari yang cerah. Tidak ada tanda-tanda hujan di langit atas kami, ada gumpalan mendung, akan tetapi akan jauh.

Begitu melewati pemancar RRI Indra Puri, aku menghubungi Mizuar. Dia pun memandu melalui telepon genggam selama belasan menit. Akhirnya aku dan Lodins pun sampai di sebuah kebun yang dipenuhi oleh semak belukar. Terlihat sebuah kumpulan makam kecil. Hanya ada beberapa pasang nisan. Tidak ada yang menarik. Setelah melewati semak belukar dan parit bergenang air dan lumpur, kami pun sampai di makam yang tengah dibersihkan.

Sekira Sembilan anggota Mapesa terlihat. Mereka tengah mencoba menggali nisan besar yang rebah untuk diangkat dan didirikan kembali. Kami pun ikut membantu. Di antara nisan di sana, nisan yang tengah diangkat itulah yang menarik perhatianku. Sebuah gambar kaligrafi berbentuk lingkaran ada di sana. Aku tidak tahu, sepertinya terasa dekat dengan nisan itu. Entah siapa seniman pengukirnya dan entah siapa yang dimakamkan di sana.

Setelah nisan itu didirikan, maka handai taulan pun mengambil air dari parit di dekat pemakaman untuk membersihkannya sehingga kaligrafi bukti sejara di sana pun terlihat. Aku pun kian menyukai nisan bergambar kaligrafi lingkaran itu.

Aku duduk menghadap sebuah nisan yang telah lebih dahulu dibersihkan. Ia berukuran kecil dan memiliki bahu sebagaimana sebagian besar nisan Aceh masa Aceh Darussalam di tempat lain.
“Lihat, ini gambar Batman!” seru Amrizal seraya berjalan cepat dari nisan berkaligrafi lingkaran menjuju nisan yang tengah kupandang. Ia menunjuki gambar Batman yang dimaksud.

Tentu saja aku terkejut. Aku tidak memperhatikan itu, tadinya, karena aku memang tidak menyukai benda-benda kecil. Aku menyukai artefak berukuran besar seperti bangunan istana dan mesjid, benda yang tidak bisa dipindahkan.

“Batman?” aku mendekati gambar yang ditunjuk. Aku teringat pada film The Dark Knight (Battman II) yang dikeluarkan pada tahun 2008, perisitiwa besar di film itu terjadi di kota Gotham, sebuah kota yang tampilannya seperti New York. Itu adalah salah satu film yang sangat kusukai. Bahkan aku telah memutarnya berulang kali di laptop.

Aku masih sanggup menontonnya lagi. Memang benar. Gambar itu mirip sayap Batman, pakaian berbentuk manusia kelelawar besar dengan keahliah dan senjata canggih yang menjadi lambang penegak keadilan di kota Gotham.

“Mungkinkan orang Hollywood diilhami oleh nisan-nisan ini? Kapankah mereka kemari?” tanyaku di dalam hati.

“Akan tetapi Batman itu meniru kelelawar, namun bukan tidak mungkin menyebutkan orang Amerika itu meniru Aceh, atau setidaknya, orang Hollywood dan seniman pengukir nisan di Indra Puri ini memiliki asal ilham yang sama, yakni kekelawar. Namun, orang Aceh telah melakukannya sekitar empat ratus tahun lebih dahulu daripada orang Amerika itu,” aku membatin.

“Disebutkan bahwa itu gambar bulan sabit yang menghadap ke atas sebagaimana yang terukir di tulak angin rumah-rumah di Aceh dan menunasah di masa silam seta di hujung teratas kubah masjid,” kata Mizuar.

“Bisa saja pendapat itu hanya untuk mereka-reka, akan tetapi itu memang lebih seupa dengan sayap kelelawar, bukan bulan sabit. Kalau bulan sabit akan dibuat langsung meruncing, tidak perlu bergerigi. Apabila itu disebut seni, maka kita bias mengaitkannya dengan sesuatu yang lebih dekat lebih dahulu. Itu lebih dekat dengan sayap kelelawar daripada bulan sabit yang menghadap ke langit,” kataku di dalam hati seraya merekam gambar itu.

Hatiku masih tertanya-tanya. Mengapa itu serupa dengan sayap kelelawar atau kalong, dan mengapa orang Amerika Serikat juga memiliki buah pikiran membuat film Batman? Ini mencerminkah bahwa empat ratus tahun lalu, seniman Aceh telah berpikiran maju tentang gambar.

Hollywood membuat lambang Batman untuk penegak keadilan, apakah penghuni nisan bergambar kaligrafi yang dilindungi oleh garis bergerigi serupa sayap kelelawar juga penegak keadilan di masanya? Apakah nama kota itu memiliki nama yang serupa Geureudong? Dan apakah penjahat-penjahatnya juga bersembunyi di saluran besar yang berada di dalam kegelapan di bawah kota serupa Geureudong itu?

Setahuku tidak ada nama kota serupa Gotham di Aceh, namun kota yang diawali oleh hurug ‘G’ ada beberapa, di antaranya: Geureudong, Garut, Gurugok, Gandapura, dan lainnya. Apakah nama kota Gotham di film The Dark Knight (Ksatria Kegelapan) milik Hollywood itu tiruan nama Geureudong yang pemilik nama di nisan itu adalah penegak keadilannya? Ah, setelah nisan itu dibaca oleh peneliti kebudayaan Islam yang filsuf, Taqiyuddin Muhammad, pertanyaan-pertanyaan ini mungkinkah akan terjawab? 

Peserta meuseuraya yang dibuat oleh Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh) di kumpulan makam Syaikh Sufi, gampong Ulee Kareueng, Indra Puri, Aceh Besar, Ahad 28 Desember 2014. Foto: Mapesa
Setelah membersihkan nisan-nisan itu, Mizuar mengajak kami ke sebuah kumpulan makam yang nisannya lebih banyak dan lebih besar. Ternyata itulah yang disebutkan beberapa hari lalu, nisan kerabat Sultan Iskandar Muda. Lalu, kami pulang, langit mulai memperlihatkan mendung. Dan nisan-nisan itu, amat banyak yang belum dibersihkan, apalagi dibaca tulisan yang ada padanya.

Oleh Thayeb Loh Angen, aktivis di PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh - Turki)
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki